
Dalam dekade terakhir, pasar kripto masih menunjukkan pola yang sama: ketika harga Bitcoin (BTC) naik, ratusan altcoin mengikuti langkahnya. Begitu pula saat Bitcoin turun, mayoritas aset kripto lainnya ikut anjlok, meski mereka memiliki penggunaan dan kasus unik yang seharusnya memberikan diversifikasi.
Hingga kini, meskipun jumlah altcoin bertambah menjadi ribuan, pasar kripto tetap bergantung pada performa Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa klaim institusi yang menyebut kripto sebagai kelas aset beragam seperti saham masih belum terealisasi secara nyata.
Harga Bitcoin dan Dampaknya pada Pasar Kripto
Sepanjang tahun ini, harga Bitcoin turun sekitar 14% ke level 75.000 dolar AS, harga terendah sejak April tahun lalu. Mayoritas token besar dan kecil merasakan tekanan serupa, dengan penurunan yang tak kalah signifikan, bahkan lebih dalam pada beberapa aset.
CoinDesk melaporkan bahwa dari 16 indeks yang melacak berbagai koin dengan fungsi khusus, hampir semuanya mengalami penurunan antara 15% hingga 19% tahun ini. Khususnya indeks yang berkaitan dengan DeFi, smart contract, dan koin komputasi bahkan turun antara 20%-25%.
Token dengan Pendapatan Nyata Juga Tertekan
Hal yang lebih mengejutkan, token yang berasal dari protokol blockchain dengan pendapatan riil ikut mengalami penurunan bersama Bitcoin. Misalnya, menurut data DefiLlama, beberapa protokol DeFi seperti Hyperliquid, Pump, Aave, dan blockchain lapisan 1 seperti Tron termasuk produsen pendapatan utama dalam 30 hari terakhir.
Namun, token asli sebagian besar protokol ini masih berada di zona merah. Token AAVE milik Aave turun 26%. Hanya token HYPE milik Hyperliquid yang menunjukkan kinerja positif, naik 20% meskipun sebelumnya sempat turun dari 34,80 dolar AS ke 30 dolar AS. Lonjakan HYPE didorong oleh perdagangan emas dan perak tokenized yang tengah booming.
Mitos Safe Haven dalam Kripto
Narasi populer selama ini menganggap token besar seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana sebagai "safe haven" atau tempat aman saat pasar turun. Namun, nyatanya justru protokol pendapatan seperti DeFi-lah yang mampu bertahan relatif lebih baik dalam masa penurunan.
Jeff Dorman, Chief Investment Officer di Arca, menyatakan bahwa mereka yang menjalankan industri ini terus menganggap Bitcoin, ETH, dan SOL sebagai “safe haven majors.” Padahal yang benar-benar menghasilkan keuntungan saat pasar turun justru token DeFi seperti HYPE, PUMP, AAVE, dan AERO.
Pelajaran dari Pasar Tradisional
Dorman merekomendasikan agar industri kripto mengadopsi pendekatan pasar tradisional, yaitu membangun konsensus untuk mengidentifikasi dan mempromosikan sektor yang tahan banting. Contohnya adalah platform DeFi sebagai sektor defensif yang perlu didukung oleh bursa, analis, dan dana investasi.
Seperti pasar saham yang mengkategorikan sektor-sektor seperti barang konsumsi pokok, utilitas, dan kesehatan sebagai "defensif," dunia kripto juga perlu menentukan dan mengangkat proyek yang tahan terhadap gejolak untuk menciptakan “safe haven” yang nyata.
Dampak Stablecoin pada Diversifikasi Pasar
Masalah lain yang turut mempersulit diversifikasi di pasar kripto adalah perkembangan stablecoin. Token yang nilainya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS ini telah menjadi setara dengan uang tunai bagi para trader.
Markus Thielen, pendiri 10x Research, mengatakan bahwa stablecoin memudahkan investor untuk berpindah cepat dari posisi bullish ke netral. Ini mengubah pola investasi, di mana dana bergerak keluar dari aset berisiko ke stablecoin sebagai bentuk perlindungan risiko.
Selain itu, dominasi Bitcoin yang selalu melebihi 50% dari total nilai pasar aset digital juga menyulitkan terciptanya pasar yang lebih terdiversifikasi. Beberapa token besar seperti BNB dan TRX menunjukkan karakter pertahanan lebih baik, dengan TRX hanya turun 1% tahun ini dibandingkan penurunan lebih dalam Bitcoin.
Institusional dan Masa Depan Ketergantungan pada Bitcoin
Partisipasi institusional dalam pasar Bitcoin meningkat signifikan setelah peluncuran ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat dua tahun lalu. Hak ini membuat Bitcoin mempertahankan porsi di atas 50% dari total pasar kripto.
Menurut Jimmy Yang, co-founder Orbit Markets, tren ini kemungkinan besar akan terus berlanjut. Penurunan harga yang berlangsung akan mempercepat penyingkiran proyek dan bisnis tidak menguntungkan, sehingga distribusi pasar makin terkonsentrasi pada Bitcoin.
Secara keseluruhan, kondisi pasar kripto saat ini mengindikasikan bahwa upaya melepas ketergantungan pada Bitcoin masih jauh dari harapan. Pasar tetap bergerak mengikuti irama Bitcoin, walau volume alternatif token dan pendekatan investasi terus bertambah.





