
BitRiver, perusahaan penambang Bitcoin terbesar di Rusia yang menguasai lebih dari 50% pangsa pasar nasional, kini menghadapi krisis kebangkrutan. Hal ini bermula setelah pengadilan menetapkan pengawasan atas perusahaan induknya, Fox Group of Companies LLC, menyusul klaim utang sebesar $9,2 juta dari anak usaha En+, Infrastructure of Siberia.
Krisis ini sangat kontras dengan performa BitRiver pada tahun sebelumnya yang mencatatkan pendapatan lebih dari $129 juta. Perusahaan mengoperasikan kapasitas daya listrik sebesar 533 MW melalui 15 pusat data yang menampung lebih dari 175.000 perangkat penambangan.
Permasalahannya bermula dari gagal kirim peralatan penambangan oleh Fox Group, meski telah menerima pembayaran muka lebih dari 700 juta rubel atau sekitar $9,15 juta. Infrastructure of Siberia akhirnya mengajukan tuntutan hukum dan memenangkan keputusan pengadilan yang mewajibkan pengembalian uang muka ditambah denda keterlambatan pembayaran.
Meski CEO BitRiver, Igor Runets, membantah dengan menyatakan bahwa peralatan sudah dikirim dan Fox Group sedang mengajukan banding, proses eksekusi pengadilan menemukan tidak ada aset cukup untuk memenuhi klaim tersebut. Kondisi ini memicu pengajuan kepailitan perusahaan induk.
Selain masalah utang, operasi BitRiver juga terganggu oleh larangan penambangan di wilayah tertentu Rusia. Lokasi di Irkutsk sudah tidak aktif karena pembatasan tersebut. Pusat data berkapasitas 100 MW di Buryatia gagal dioperasikan dan akan terkena larangan penambangan sepanjang tahun mulai 2026. Situs 40 MW di Ingushetia juga ditutup pada awal 2025 oleh penegak hukum akibat pelanggaran larangan.
Persoalan terus bertambah dengan konflik pembayaran tagihan listrik. Perusahaan energi Grup Faraday kehilangan hak mengikuti perdagangan listrik dan kapasitas setelah 1 Agustus 2025. Gugatan atas denda keterlambatan pembayaran sebesar 133 juta rubel ($1,74 juta) dan 640 juta rubel ($8,37 juta) tengah diproses terhadap En+ Sbyt dan Irkutsk Electric Grid Company.
Dalam situasi yang semakin pelik, pendiri sekaligus CEO BitRiver, Igor Runets, ditahan oleh otoritas Rusia dengan dakwaan penggelapan pajak dan menyembunyikan aset. Pengadilan menjatuhkan penahanan rumah dan memberikan kesempatan banding bagi tim hukumnya.
BitRiver juga sempat mendapat tekanan sanksi dari Departemen Keuangan AS sejak 2022 terkait hubungan dengan Rusia setelah invasi ke Ukraina. Langkah ini membatasi akses perusahaan ke pasar dan mitra Barat. Pada 2023, kelompok keuangan Jepang SBI menarik diri dari kerjasama bisnis dengan BitRiver akibat keluarnya dari Rusia.
Namun, meskipun BitRiver menghadapi kemunduran besar, permintaan infrastruktur penambangan di Rusia justru meningkat pesat. Data Operator Sistem menunjukkan kapasitas penambang dan pusat data yang terhubung ke jaringan listrik tumbuh 33% pada 2025 mencapai 4 GW. Proyeksi pasar pusat data Rusia bahkan mengantisipasi tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 14,41% hingga 2031.
Berbagai tantangan yang meliputi sengketa hukum, regulasi ketat, dan tekanan eksternal menjadi faktor utama yang menyebabkan gejolak dan ketidakpastian bagi BitRiver. Situasi ini mencerminkan risiko tinggi sektor penambangan kripto di Rusia yang masih dinamis dan penuh ketidakpastian regulasi serta politik.





