Bitcoin mengalami tekanan jual yang cukup besar selama akhir pekan dengan penurunan sekitar 11%. Namun, seiring dimulainya aktivitas perdagangan pada hari kerja, harga Bitcoin kembali mengalami rebound. Kondisi ini menunjukkan adanya minat beli yang kembali muncul di tengah ibu pasar yang sebelumnya sempat mengamati dengan waspada.
Pada pekan lalu, harga Bitcoin sempat turun ke dekat level $75.000, level yang menjadi support penting dalam beberapa periode terakhir. Jika harga terus menurun di bawah angka tersebut, akan memberi tekanan sangat besar pada para trader. Namun, rebound yang terjadi mengindikasi bahwa banyak pembeli siap menahan atau membeli pada harga tersebut.
Faktor Pendorong Penurunan dan Rebound Bitcoin
Salah satu penyebab terjadinya tekanan jual adalah likuidasi besar-besaran yang terjadi dalam lima hari terakhir. Total likuidasi telah mencapai hampir $2,5 miliar, termasuk likuidasi posisi leveraged long sebanyak $1,68 miliar pada 31 Januari. Tekanan jual yang dipicu likuidasi ini memaksa banyak trader keluar dari posisi mereka, sehingga harga Bitcoin turun cepat tanpa adanya berita negatif utama.
Selain faktor teknikal, sentimen makroekonomi dan politik juga memengaruhi harga Bitcoin. Nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell menjadi katalis penting. Warsh dikenal menentang pemotongan suku bunga agresif, sehingga pasar memprediksi era uang murah akan berakhir. Situasi ini cenderung memberikan tekanan negatif pada aset-aset berisiko seperti Bitcoin.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Iran, juga menambah ketidakpastian. Dalam situasi krisis, modal biasanya mengalir dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS dan obligasi. Hal ini turut menekan performa pasar kripto selama akhir pekan.
Peran Aktivitas Perdagangan Hari Kerja
Aktivitas perdagangan pada hari kerja jauh lebih likuid dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti bank, dana investasi, dan ETF Bitcoin. Produk ETF ini menjadi jembatan penting bagi investor tradisional untuk membeli Bitcoin melalui akun saham, sehingga likuiditas dan permintaan dapat meningkat seiring dimulainya minggu perdagangan.
Namun, kepercayaan investor masih dalam tahap pemulihan. Januari lalu terjadi penarikan dana saham ETF Bitcoin sebanyak lebih dari $1,4 miliar, yang menurunkan sentimen pasar ritel. Stabilisasi arus masuk dana ETF menjadi penentu penting bagi kenaikan harga ke depan.
Tips Memantau Pergerakan Pasar Bitcoin
Untuk memahami arah harga Bitcoin, trader dan investor dapat memperhatikan beberapa faktor kunci berikut:
- Likuidasi leveraged dan volume perdagangan harian untuk mengukur tekanan jual atau beli di pasar.
- Kebijakan Federal Reserve dan dinamika suku bunga yang memengaruhi sentimen risiko global.
- Kondisi geopolitik terkini yang dapat memicu pergeseran modal ke aset aman.
- Pergerakan dana masuk dan keluar dari ETF Bitcoin sebagai indikator permintaan institusional.
Pada akhirnya, meski harga Bitcoin menunjukkan pemulihan setelah penurunan tajam, pasar tetap berhati-hati mengingat kondisi makro dan mikro yang kompleks. Para pembeli masih mengawasi perkembangan agar dapat memanfaatkan momentum harga rendah tanpa risiko berlebihan. Penguatan likuiditas dan kejelasan kebijakan akan menjadi elemen penting untuk sustainabilitas kenaikan Bitcoin di minggu-minggu mendatang.
