Dalam tiga bulan terakhir, saham bursa kripto anjlok tajam akibat penurunan volume perdagangan di platform terpusat. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar apakah pasar kripto sudah mencapai titik terendah atau justru baru memasuki fase terberat.
Sejak Oktober, saham operator bursa utama turun antara 40-60%. Penurunan ini mengiringi amblasnya volume perdagangan spot yang sempat melonjak di awal tahun dan Oktober lalu. Data Newhedge menunjukkan aktivitas perdagangan spot tertinggi mencapai sekitar $2,3 triliun pada Oktober, dengan Binance menyumbang hampir $1 triliun atau lebih dari 40% dari total volume tersebut.
Volume perdagangan spot di bursa kripto langsung merosot hingga menyentuh sekitar $1,7 triliun pada November. Tren turun berlanjut hingga Desember dengan volume $1,2 triliun, lalu anjlok drastis ke kisaran $120-150 miliar di Januari. Binance tetap menjadi bursa terbesar, namun volume perdagangannya menurun drastis menjadi $70-$80 miliar, sedangkan bursa lain hanya berkisar di angka puluhan miliar.
Menurut data CoinGecko, Binance mempertahankan pangsa pasar 38,3% pada Desember, meskipun volume spot turun lebih dari 40% bulan ke bulan menjadi $361,8 miliar. Bursa besar lain seperti Bybit dan MEXC juga mengalami penurunan dua digit yang signifikan selama periode ini.
Meskipun total volume perdagangan spot 10 bursa teratas meningkat sedikit sepanjang tahun 2025, paruh kedua tahun tersebut didominasi oleh perlambatan aktivitas. Beberapa platform utama bahkan mencatat penurunan tahunan, yang langsung menekan harga saham perusahaan bursa kripto.
Saham Coinbase, Gemini, dan Bullish tercatat merosot lebih tajam daripada pasar saham secara umum sejak Oktober. Coinbase turun 40,4% menjadi $189,62, sedangkan Bullish anjlok 56,7% ke $29,43. Di sisi lain, saham Robinhood lebih tahan banting dengan penurunan 16,0% menjadi $89,37 dalam enam bulan terakhir, melampaui kinerja bursa kripto murni.
Menurut pengamat pasar, pola ini lazim terjadi dalam siklus penurunan kripto. Saat harga aset naik, volume perdagangan membesar karena investor mengejar momentum. Namun, saat sentimen memburuk, partisipasi langsung menurun drastis sehingga pendapatan bursa ikut terpangkas.
Kejatuhan terbaru ini juga dipicu oleh likuidasi besar senilai sekitar $19 miliar pada awal Oktober yang melemahkan selera risiko para trader ritel dan institusi. Uniknya, situasi kali ini berbeda dengan crash sebelumnya karena tidak disertai kegagalan bursa atau tekanan regulasi yang masif.
Penurunan ini lebih disebabkan oleh kelelahan pasar pasca reli tajam, kondisi keuangan global yang ketat, serta sentimen risiko yang melebar di pasar dunia. Bahkan, pada Januari, Bitcoin mengalami penurunan hampir 11%, penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman atau keluar pasar sama sekali.
Sejarah menunjukkan penurunan volume perdagangan kripto biasanya mengikuti fase “crypto winter” setelah periode booming, seperti saat runtuhnya Mt. Gox tahun 2014, gelembung ICO tahun 2018, dan krisis likuiditas 2022. Pemulihan pasar umumnya berlangsung selama bertahun-tahun dan didorong oleh faktor-faktor struktural baru, bukan sekadar kebangkitan spekulasi cepat.
Berikut gambaran penurunan volume spot trading di bursa terpusat selama periode terakhir:
1. Januari 2025: Volume tertinggi mencapai sekitar $2,3 triliun
2. Oktober 2025: Volume spot dipimpin Binance hampir $1 triliun
3. November 2025: Turun ke $1,7 triliun
4. Desember 2025: Turun lagi ke $1,2 triliun
5. Januari 2026: Anjlok tajam ke kisaran $120-150 miliar
Saham bursa kripto turut terguncang besar seiring melemahnya volume perdagangan. Penurunan ini mencerminkan tantangan besar yang tengah dihadapi industri kripto dalam jangka pendek. Apakah ini pertanda crash sudah berakhir atau baru dimulai, pasar masih menunggu sinyal kuat untuk mengukuhkan arah selanjutnya.
