Bitcoin kembali bergerak di sekitar level $77,000 setelah mengalami penurunan tajam sepanjang akhir pekan. Namun, sejumlah analis menilai penurunan tersebut belum berakhir karena investor tampak enggan memanfaatkan peluang beli saat harga turun atau buy the dip.
Pada Sabtu lalu, Bitcoin menyentuh level terendah sejak April tahun sebelumnya, menandai bulan keempat berturut-turut mengalami kerugian. Penurunan ini berkaitan dengan pengumuman Presiden AS mengenai calon ketua Federal Reserve baru, Kevin Warsh, yang dinilai memiliki kebijakan hawkish. Sentimen negatif juga meluas ke aset kripto lain seperti Ether (ETH), serta aset safe haven seperti emas dan logam mulia yang mengalami tekanan signifikan.
Sentimen Investor dan Pergerakan Pasar
Strategi dari 10X Research menunjukkan bahwa dukungan teknis Bitcoin berada pada level sekitar $73,000. Namun, data aliran modal dan posisi investor mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum siap untuk membeli saat harga turun. Menurut catatan mereka, “sentimen dan indikator teknis memang mendekati level ekstrem, tapi tren turun yang melebar masih berjalan.” Tanpa adanya katalis yang jelas, investor cenderung tidak terburu-buru masuk pasar.
Fokus utama para trader saat ini adalah pengurangan leverage dan pelepasan posisi, bukan mempersiapkan reli rebound yang biasanya terjadi setelah kejatuhan harga. Kondisi ini mencerminkan kerentanan keseluruhan pasar kripto, yang sejak bulan Oktober terus mengalami tekanan akibat aksi jual besar dan likuidasi paksa oleh “whale” atau investor besar.
Data Kerugian Pasar Kripto dan Dukungan Teknis
Sejak awal tahun ini, Bitcoin tercatat turun lebih dari 12% setelah mengalami tahun yang mengecewakan di Tahun sebelumnya. Ether malah lebih dalam mengalami penurunan hingga 23%. Secara kumulatif, nilai pasar aset digital menurun sekitar $1,7 triliun atau setara sekitar 39% dari puncak tertinggi tahun sebelumnya, menurut laporan 10X Research.
Sean Farrell, Kepala Digital Assets di Fundstrat, menyebutkan zona harga pertengahan $70,000 sebagai level support yang logis. Dia merujuk pada kisaran harga $74,000 yang pernah menjadi harga tertinggi sehari pada Maret dan harga terendah intraday saat aksi jual karena tarif pada April tahun lalu. Farrell menilai, “tingkat harga yang tercapai selama akhir pekan serta tingkat kepasrahan yang tercermin menciptakan peluang risiko/reward yang lebih menarik dalam jangka pendek.”
Meski demikian, dia juga memperingatkan bahwa kondisi pasar masih menunjukkan tren menurun. Risiko posisi yang tinggi di pasar tradisional tetap dapat mempengaruhi pergerakan pasar kripto secara negatif. Oleh karena itu, Farrell menyarankan agar investor melakukan langkah pembelian secara “modest” atau terbatas sambil memantau perkembangan pasar yang terus bergerak dinamis.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pergerakan Bitcoin
Kebijakan moneter AS menjadi faktor utama yang mempengaruhi volatilitas harga Bitcoin belakangan ini. Penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve dianggap membawa potensi kebijakan yang lebih ketat sehingga menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar akan kenaikan suku bunga yang dapat memperlambat aliran modal ke aset spekulatif seperti kripto.
Volume penjualan besar-besaran oleh pemilik aset besar dan proses likuidasi posisi margin turut memperburuk kondisi pasar, sehingga Bitcoin dan mata uang digital lainnya mengalami tekanan tambahan. Kejatuhan harga logam mulia juga menambah gambaran bearish untuk kelas aset berisiko selain kripto.
Poin Penting Saat Ini:
- Bitcoin stagnan di sekitar $77,000 setelah penurunan tajam akhir pekan lalu.
- Investor belum menunjukkan minat serius untuk membeli saat harga turun.
- Penurunan Bitcoin belum selesai karena dukungan teknis masih di kisaran $73,000.
- Kerentanan pasar makin terasa akibat likuidasi besar dan kondisi makroekonomi global.
- Perkembangan kebijakan Fed menjadi faktor yang paling diantisipasi pasar.
Mengingat kondisi pasar yang masih rentan dan belum ada katalis positif yang kuat, pelaku pasar masih memilih berhati-hati. Sentimen investor tetap cenderung menunggu tren turun mereda sebelum kembali agresif mengambil posisi beli. Meski peluang menarik terbuka di level harga saat ini, risiko volatilitas jangka pendek tetap tinggi dan memerlukan strategi manajemen risiko yang matang.
