Bitcoin mengalami penurunan harga signifikan yang membuat banyak investor mulai waspada terhadap potensi fase bearish lanjutan. Data historis menunjukkan bahwa level sekitar $60.000 bisa menjadi titik terendah yang berperan sebagai support kuat dalam siklus jangka panjang Bitcoin.
Penurunan terakhir sebesar 11% adalah yang terbesar sejak Maret 2025 dan menandai kemunduran besar dari harga puncak Bitcoin yang pernah menyentuh $126.000. Saat ini, harga Bitcoin sudah turun sekitar 40% dari level tertinggi tersebut dan bergerak menuju rata-rata pergerakan 200 minggu (200-WMA) yang berada di kisaran $57.926, sebuah level yang sering dijadikan patokan sebagai dasar dari pasar bearish dalam siklus empat tahunan Bitcoin.
Rata-Rata Pergerakan 200 Minggu Sebagai Patokan
Rata-rata harga penutupan Bitcoin selama 200 minggu menjadi indikator krusial untuk mengukur momentum jangka panjang. Selama beberapa siklus sebelumnya, harga Bitcoin selalu menemukan titik terendahnya di sekitar level 200-WMA sebelum kemudian mulai pulih. Contohnya pada pasar bearish tahun 2015 dan 2018-2019, Bitcoin sempat bergerak dekat dengan level ini dan menggunakan 200-WMA sebagai support utama.
Pada kasus terakhir, Bitcoin juga sempat jatuh di bawah 200-WMA pada Juni 2022 dan bertahan di bawah level $22.000 selama beberapa bulan sebelum berhasil kembali naik melewati garis tersebut pada Oktober tahun berikutnya. Hal ini memperkuat peran 200-WMA sebagai dasar tren jangka panjang yang tepercaya.
Sinyal Bearish dari Indikator Ichimoku Cloud
Selain 200-WMA, Bitcoin baru saja melewati batas bawah Ichimoku Cloud pada grafik mingguan. Ichimoku Cloud biasanya digunakan untuk menilai momentum dan kekuatan pasar. Jika harga bertahan di atas awan, itu menandakan tren bullish yang kuat. Namun, dengan harga yang kini di bawah awan, kondisi pasar menjadi lemah dan rentan terhadap tekanan jual lebih lanjut.
Sejarah mencatat bahwa saat Bitcoin menembus ke bawah Ichimoku Cloud, fase bearish mendalam dan berkepanjangan kerap menyusul. Ini menandakan bahwa meski penurunan belum berakhir, investor harus bersiap menghadapi tren pasar yang kemungkinan akan melemah dalam waktu dekat.
Siklus Empat Tahun dan Halving
Pergerakan harga Bitcoin juga mengikuti pola siklus yang berkaitan dengan jadwal halving, di mana pasokan Bitcoin baru berkurang setengahnya setiap empat tahun. Siklus ini memicu fluktuasi antara pasar bullish dan bearish yang berulang.
Harga tertinggi Bitcoin biasanya muncul di kuartal keempat tahun keempat dalam siklus. Setelah mencapai puncak, penurunan mendalam sering terjadi hingga mendekati rata-rata pergerakan 200 minggu. Siklus ini memberikan kerangka kerja untuk memperkirakan pergerakan pasar berikutnya.
Pentingnya Menunggu Level $60.000
Meskipun pasar sedang menghadapi tekanan jual, level $60.000 akan menjadi titik penting untuk diperhatikan. Jika harga Bitcoin mampu bertahan di sekitar zona tersebut, ini dapat menjadi dasar untuk pembalikan tren dan mengakhiri fase bearish yang saat ini sedang berlangsung.
Namun, investor harus tetap waspada karena penurunan harga lebih lanjut masih mungkin terjadi. Konsistensi 200-WMA sebagai support jangka panjang memberikan harapan sekaligus batas bawah yang valid bagi para pelaku pasar dalam menghadapi volatilitas ekstrim di pasar kripto.
Tanda-Tanda Fase Pasar Bearish Mendalam
- Penurunan harga mendekati 25% dari level saat ini.
- Harga melampaui batas bawah Ichimoku Cloud.
- Pergerakan mendekati rata-rata 200 minggu sebagai support utama.
- Kepastian kondisi pasar melemah setelah gagal mempertahankan harga di atas awan indikator teknikal.
Data ini menunjukkan bahwa meski saat ini pesaing utama mata uang kripto ini mengalami tekanan hebat, ada kekuatan fundamental yang dapat menahan penurunan lebih jauh dan menjadi indikator pembalikan tren yang dapat dimanfaatkan oleh investor.







