Stablecoin issuer Tether baru-baru ini meluncurkan sistem operasi open-source khusus untuk penambangan Bitcoin yang dinamakan Mining OS (MOS). Langkah ini menandai masuknya Tether ke lapisan infrastruktur penambangan yang selama ini didominasi oleh perusahaan besar dengan integrasi vertikal.
Mining OS diumumkan dalam acara Plan 9 Forum di San Salvador dan didesain agar siap digunakan oleh operator penambangan dari berbagai skala, mulai dari kecil hingga industri besar. MOS berfungsi untuk mengendalikan, memantau, dan mengotomatisasi proses penambangan Bitcoin melalui satu lapisan kontrol terpadu.
Selama ini, penambangan Bitcoin menggunakan berbagai perangkat lunak yang terpisah-pisah untuk mengelola penggunaan mesin, infrastruktur kelistrikan, pendinginan, dan logistik lokasi penambangan. MOS berupaya menggantikan pendekatan ini dengan memperlakukan setiap komponen sebagai “pekerja” yang terkoordinasi dalam satu sistem operasi, sehingga operator dapat mengawasi dan mengatur instalasi mereka secara waktu nyata.
MOS tidak hanya memonitor hashrate Bitcoin tetapi juga menilai efisiensi energi, kondisi kesehatan perangkat, dan infrastruktur tingkat lokasi penambangan. Arsitektur perangkat lunak ini bersifat peer-to-peer dan modular, memungkinkan penerapan pada perangkat keras ringan untuk penggunaan kecil maupun pada situs industri dengan ratusan ribu mesin.
Tether menegaskan bahwa MOS dirancang agar tangguh dan fleksibel tanpa tergantung pada penyedia perangkat lunak pihak ketiga yang terpusat. Selain itu, Tether akan merilis Mining Software Development Kit (Mining SDK) sebagai basis dari MOS untuk komunitas open-source dalam waktu dekat.
CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa dengan membuka source code ini, perusahaan ingin menurunkan hambatan masuk ke dunia penambangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada platform perangkat lunak milik pihak lain.
Peluncuran MOS berlangsung di tengah tantangan berat bagi industri penambangan Bitcoin. Sejak awal 2025, harga Bitcoin mengalami penurunan yang mengakibatkan margin keuntungan penambang menyusut. Sementara itu, hash rate jaringan meningkat dari sekitar 800 EH/s menjadi puncak 1,15 ZH/s, yang mendorong tingkat kesulitan penambangan ke level tertinggi.
Pendapatan per unit hash semakin turun akibat reward blok pasca-halving sebesar 3,125 BTC serta penurunan biaya transaksi. Pada akhir 2025, harga hash turun ke kisaran $35-$40 per petahash per detik per hari, sedangkan biaya operasional rata-rata untuk penambang yang sudah go public diperkirakan sekitar $44.
Banyak penambang, termasuk yang memiliki biaya listrik murah dan armada efisien, beroperasi dengan keuntungan nyaris impas. Utang perusahaan meningkat karena pembelian perangkat keras dan peningkatan infrastruktur. Namun memasuki awal 2026, tekanan mulai mereda seiring turunnya hash rate ke sekitar 870 EH/s akibat gangguan cuaca dan berkurangnya profitabilitas.
Kesulitan jaringan telah beradaptasi turun beberapa kali dan harga hash menunjukkan sedikit peningkatan. Para analis menilai kondisi ini bisa memperbaiki margin bagi penambang yang masih bertahan, meski persaingan tetap ketat.
Masuknya Tether ke ranah perangkat lunak penambangan mencerminkan perluasan peran mereka dalam ekosistem aset digital. Selain dikenal sebagai penerbit USDT, Tether juga mencatatkan keuntungan bersih lebih dari $10 miliar pada 2025 dan berekspansi ke tokenisasi emas (XAUT) serta kemitraan pembayaran seperti dengan dompet MiniPay dari Opera.
Dengan menghadirkan Mining OS sebagai perangkat lunak terbuka dan fleksibel, Tether menghadirkan alternatif signifikan yang berpotensi mengubah lanskap penambangan Bitcoin global. Sistem terintegrasi ini bisa memudahkan pengelolaan infrastruktur penambangan yang selama ini kompleks dan sangat bergantung pada software-proprietari.







