Bitcoin baru-baru ini mengalami penurunan signifikan dari level tertinggi sepanjang masa di bulan Oktober, turun hampir $50.000 atau sekitar 38%. Namun, analis dari Galaxy, Alex Thorn, memprediksi penurunan harga Bitcoin berpotensi berlanjut hingga di bawah angka $60.000 per koin.
Menurut Thorn, terdapat beberapa faktor fundamental yang menunjukkan kelemahan struktural pada harga Bitcoin saat ini. Pertama, harga riil Bitcoin dan rata-rata pergerakan 200 minggu menunjukkan ketidakmampuan aset kripto ini untuk berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi, berbeda dengan emas yang justru mengalami kenaikan signifikan.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Bitcoin
Thorn menyoroti absennya katalis positif yang mampu mendorong kenaikan harga Bitcoin dalam jangka pendek. Ia juga mencatat narasi pasar terhadap Bitcoin sedang berlawanan arah dengan emas dan perak, yang selama ini dianggap sebagai instrumen lindung nilai inflasi. Hal ini menyebabkan Bitcoin gagal mengikuti tren pasar yang biasa disebut “debasement hedge trade.”
Analis ini juga memperingatkan kemungkinan harga Bitcoin akan menguji beberapa level teknikal penting. Pertama, harga bisa saja turun menuju batas bawah dari supply gap sekitar $70.000. Jika level tersebut tidak bertahan, Bitcoin diprediksi akan menguji harga riil sebesar $56.000 dan rata-rata pergerakan 200 minggu di sekitar $58.000 dalam beberapa minggu atau bulan mendatang.
Indikasi dari Data Historis dan Tren Teknis
Data on-chain dan analisis historis mendukung kemungkinan penurunan tersebut. Thorn mengacu pada pola di mana setiap kali Bitcoin mengalami koreksi sebesar 40% dari harga tertinggi, penurunan biasanya berlanjut hingga mencapai 50%. Lebih lanjut, tren dari tiga siklus bullish sebelumnya menunjukkan bahwa ketika Bitcoin turun di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, harga cenderung turun lebih jauh ke rata-rata pergerakan 200 minggu.
Saat ini, Bitcoin telah melemah di bawah rata-rata pergerakan 50 hari sejak November, membuka peluang bagi penurunan menuju kisaran $58.000. Jika skenario ini terjadi, aset digital ini akan mengalami kerugian sekitar 25% lebih lanjut dari harga saat ini.
Prospek Jangka Panjang: Peluang Bagi Investor
Meski berpotensi turun, terdapat sisi positif bagi investor jangka panjang. Thorn mencatat bahwa pengambilan keuntungan oleh pemegang Bitcoin jangka panjang mulai berkurang setelah periode distribusi terbesar dalam sejarah Bitcoin selama dua tahun terakhir. Penurunan aktivitas jual ini bisa menjadi sinyal mendekati titik dasar harga atau bottom.
Ia menambahkan bahwa jika Bitcoin memang menyentuh level rata-rata pergerakan 200 minggu atau harga riil, area tersebut bisa menjadi titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang berdasarkan pengalaman historis. Pengamatan ini juga didukung oleh prediksi pengguna pasar prediksi Myriad yang memberikan peluang 66% untuk Bitcoin turun menuju level $69.000 sebelum mampu naik ke $100.000.
Kondisi Terkini dan Implikasi Pasar
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin turun sekitar 1,14% dan lebih dari 15% selama satu bulan terakhir, dengan harga terakhir tercatat di kisaran $77.873. Bahkan harga sempat menembus di bawah $75.000, mencapai harga terendah tahun ini.
Dengan mempertimbangkan analisis teknikal, data historis, dan kondisi pasar saat ini, ada indikasi harga Bitcoin akan bergerak menuju wilayah yang lebih rendah dari level saat ini. Namun demikian, level tersebut sangat potensial menjadi titik pembalikan harga bagi para pelaku pasar yang memiliki pandangan investasi jangka panjang.







