Pasar smartphone global mencatat pertumbuhan yang membangkitkan persaingan sengit antara dua raja ponsel dunia. Apple dan Samsung menjadi pusat perhatian utama dengan pencapaian pengiriman produk yang terus meningkat. Pada 2025, Apple mengirimkan 240,6 juta unit iPhone, naik 7% dibanding tahun sebelumnya, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Samsung yang berada di posisi kedua juga menunjukkan kebangkitan setelah sekian tahun mengalami penurunan. Pengiriman unit Samsung bertambah 7% sepanjang tahun 2025, dengan lonjakan pengiriman 16% pada kuartal terakhir ditopang oleh permintaan kuat untuk seri flagship Galaxy S dan Z. Posisi Samsung sangat dekat dengan Apple, menunjukan persaingan yang semakin ketat di pasar premium.
Peta Persaingan Vendor Smartphone Terbesar
- Apple: 240,6 juta unit (+7%)
- Samsung: Penambahan pengiriman 7%
- Xiaomi: 165,4 juta unit (-2%)
- Vivo: 105,3 juta unit (+4%)
- Oppo: 100,7 juta unit (-3%)
Xiaomi tetap kokoh di posisi ketiga meski menghadapi tekanan berat. Penurunan 2% pengiriman terutama terjadi di segmen entry-level dan kuartal IV di beberapa pasar utama. Vivo mencatat tonggak baru dengan menduduki posisi keempat berkat pertumbuhan 4% yang didorong oleh pasar India dan China domestik.
Dalam peringkat lima besar, Oppo menempati posisi paling bawah dengan pengiriman 100,7 juta unit, turun 3% dibanding tahun lalu. Meskipun begitu, Oppo mampu menunjukkan pertumbuhan kembali pada kuartal IV 2025 setelah periode tekanan di paruh pertama tahun. Dengan masuknya realme ke dalam grup perusahaan mulai 2026, Oppo diproyeksikan memperoleh tambahan volume penjualan.
Faktor Penggerak dan Tantangan Industri Smartphone
Pertumbuhan positif yang dicatat oleh Apple dan Samsung didorong oleh inovasi produk serta permintaan yang kuat di pasar global, khususnya segmen flagship dan fitur terbaru. Apple memperoleh lonjakan penjualan di China Daratan dengan pertumbuhan 26% kuartal IV, terutama berkat peluncuran iPhone 17 yang diminati konsumen. Samsung mendulang keuntungan dari kekuatan seri Galaxy dan perbaikan penjualan di segmen entry-level dan mainstream.
Namun, tantangan ke depan tetap ada. Kenaikan biaya pada komponen utama seperti DRAM dan NAND berpotensi menggerus margin produsen. Hal ini dapat memicu kenaikan harga jual produk dan berimbas pada melemahnya permintaan, terutama untuk vendor yang masih mengandalkan segmen low-end dengan skala produksi lebih kecil.
Pasar China Raya turut mengalami penurunan tipis menyusul berakhirnya skema subsidi nasional yang sebelumnya mendorong lonjakan penjualan. Situasi ini memberikan tekanan tersendiri bagi produsen ponsel, khususnya yang mengandalkan pasar tersebut sebagai basis utama.
Industri smartphone tetap diwarnai dinamika persaingan antar vendor besar. Apple dan Samsung memperkuat dominasinya dengan pertumbuhan signifikan pada pengiriman produk. Sementara itu, Oppo, meski tertinggal di dasar lima besar, sedang bersiap untuk bangkit melalui strategi penggabungan portofolio dengan realme. Xiaomi dan Vivo menjaga stabilitas masing-masing dengan tantangan dan peluang yang ada di pasar global.
Kondisi pasar yang terus berkembang dan tantangan biaya produksi menjadi perhatian penting menjelang tahun mendatang. Semua vendor harus mampu menjaga inovasi sekaligus adaptasi terhadap perubahan permintaan konsumen dan biaya komponennya agar mampu bertahan dan memperkuat posisinya di industri smartphone dunia.





