Pasar Bitcoin dikenal dengan volatilitas dan siklus naik-turun yang intens. Dalam konteks ini, sebuah metrik on-chain telah dikenal mampu mengidentifikasi titik terendah (bottom) dalam setiap siklus bearish Bitcoin. Metrik ini memberikan sinyal penting bagi para investor yang ingin menentukan waktu masuk pasar secara tepat.
Metrik tersebut disebut “BTC supply in profit versus loss” atau persediaan Bitcoin yang berada dalam posisi untung dan rugi. Metode ini mengukur berapa banyak Bitcoin yang dimiliki oleh dompet dengan harga beli di bawah harga pasar saat ini (dalam posisi untung) dibandingkan dengan yang masih memegang Bitcoin dengan harga beli di atas harga pasar (dalam posisi rugi). Ketika jumlah Bitcoin yang untung dan rugi hampir seimbang, data historis menunjukkan bahwa pasar bearish cenderung menemukan titik terendahnya.
Data terbaru dari Glassnode mengindikasikan adanya potensi pertemuan antara persediaan Bitcoin yang berada di posisi untung dan rugi. Saat ini, sekitar 11,1 juta BTC berada dalam posisi untung karena dibeli di harga lebih rendah dari harga pasar. Sementara itu, ada 8,9 juta BTC yang masih berada dalam posisi rugi. Kondisi ini mengisyaratkan potensi terbentuknya titik bottom seperti yang pernah terjadi pada ciclyang lalu.
Visualisasi grafik dari Glassnode menunjukkan bagaimana supply Bitcoin yang untung (diberi warna biru) dan supply yang rugi (berwarna merah) bergerak relatif terhadap total pasokan yang beredar. Pergerakan harga spot yang melampaui atau menurun di bawah harga rata-rata beli menyebabkan perpindahan koin antara dua kelompok ini. Perubahan tersebut mencerminkan posisi pasar secara keseluruhan dan tingkat tekanan investasi yang dirasakan.
Beberapa momen penting dimana konvergensi antara supply Bitcoin yang untung dan rugi terjadi telah menandai titik bottom signifikan dalam sejarah Bitcoin. Contohnya adalah November kemarin ketika harga Bitcoin sekitar $15.000 setelah insiden kolapsnya FTX, Maret ketika harga sempat jatuh di bawah $3.000 saat pandemi covid-19 mengguncang pasar, Januari saat harga mendekati $3.300, serta pada tahun 2015 ketika Bitcoin diperdagangkan sedikit di atas $200.
Berikut beberapa titik bottom penting yang berhasil diidentifikasi oleh metrik ini:
1. November (sekitar $15.000) – setelah keruntuhan FTX.
2. Maret (sekitar $3.000) – saat guncangan pasar covid-19.
3. Januari (sekitar $3.300) – fase pemulihan pasca pasar bear sebelumnya.
4. Tahun 2015 (sekitar $200) – awal kematangan pasar Bitcoin modern.
Pengamat dan investor sering menggunakan metrik ini sebagai acuan untuk mengenali masa capitulasi pasar, yakni saat investor besar mulai melepaskan aset dengan kerugian, dan sebagai sinyal peluang investasi jangka panjang. Ketika kedua sisi supply untung dan rugi bertemu, artinya pasar mulai menemukan keseimbangan dan tekanan jual mulai menurun.
Fenomena ini memberikan kejelasan bahwa pasar Bitcoin memiliki pola yang berulang, dimana indikator on-chain bisa menjadi alat ampuh untuk membaca sentimen dan potensi perubahan arah pasar. Jika pola sejarah berulang, maka potensi titik bottom Bitcoin saat ini bisa segera terwujud.
Metrik “BTC supply in profit versus loss” menjadi sumber referensi bagi pelaku pasar yang mencari strategi bottom-fishing secara ilmiah dan berbasis data nyata. Pengukuran ini mampu menyajikan gambaran objektif kondisi portofolio investor dalam menghadapi pergerakan harga Bitcoin yang fluktuatif dan memberikan keyakinan lebih dalam mengambil keputusan investasi.
Dengan pengamatan cermat terhadap metrik ini dan dinamika pasar terkait, investor dapat mengantisipasi titik balik pasar dan memanfaatkan peluang terbaik untuk akumulasi Bitcoin menjelang siklus bullish berikutnya. Evaluasi dan pembacaan data on-chain merupakan bagian penting dalam strategi investasi modern di ekosistem kripto.





