Kekeringan Melanda Wilayah RI Pasca Hujan Lebat, Pakar Jelaskan Penyebab dan Solusinya

Kekeringan melanda wilayah Indonesia di tengah kondisi hujan lebat yang baru saja terjadi di beberapa daerah. Fenomena ini terlihat jelas di Sungai Batang Kuranji di Kota Padang, yang mengalami penurunan debit air secara signifikan beberapa pekan setelah banjir bandang menerjang daerah tersebut. Pakar dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa perubahan ini bukanlah tanda minimnya hujan, melainkan akibat faktor hidrologi dan perubahan lingkungan yang kompleks.

Pada akhir tahun lalu, Kota Padang mengalami banjir bandang yang cukup parah. Penyebab utama adalah hujan ekstrem yang turun akibat Siklon Tropis Senyar di wilayah hulu Batang Kuranji. Akumulasi curah hujan di sana mencapai lebih dari 500 milimeter selama periode tertentu dan menambah sekitar 190 milimeter hanya dalam dua hari berikutnya. Kondisi ini membuat tanah di lereng Bukit Barisan jenuh air sehingga pori-pori tanah yang biasanya menyerap air kini dipenuhi penuh. Akibatnya, air melimpas ke permukaan dan membentuk aliran besar yang menyebabkan banjir bandang serta membawa material sedimen ke sungai.

Penurunan Debit Air Setelah Banjir

Beberapa minggu setelah hujan deras berakhir, debit air di Kebanyakan sungai terutama Batang Kuranji justru menipis secara drastis. Sungai yang biasanya deras kini mengalir tipis dengan dasar sungai yang mulai terlihat tanah dan batu. Fenomena ini menjadi tanda adanya kekeringan yang melanda, tetapi penyebab utamanya lebih dalam dari sekedar kekurangan hujan.

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Universitas Andalas, Dian Fiantis, menjelaskan bahwa daerah hulu berfungsi sebagai "spons raksasa" yang menyerap air hujan dan melepaskannya perlahan ke sungai sebagai aliran dasar atau baseflow. Fungsi penyimpanan air di hulu ini sangat penting untuk menjaga kebutuhan air saat musim kemarau. Namun, perubahan penggunaan lahan seperti konversi hutan menjadi kebun, ladang, dan permukiman telah mengurangi kemampuan tanah menyerap air secara optimal.

Dampak Perubahan Tutupan Lahan

Perubahan tutupan lahan membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanpa sempat disimpan sebagai cadangan air tanah. Aliran permukaan yang deras juga membawa sedimen berlebih ke dasar sungai dan menyebabkan pendangkalan. Sedimentasi ini menaikkan elevasi dasar sungai hingga satu sampai dua meter, memperparah kondisi kekeringan saat hujan berhenti.

Lebih jauh lagi, fenomena losing stream muncul ketika air sungai justru terserap ke bawah tanah, mengisi akuifer sebagai cadangan air tanah. Ini menunjukkan bahwa sungai mengalami penurunan baseflow karena cadangan air tanah yang mengecil. Dengan demikian, aliran permukaan menjadi sangat bergantung pada curah hujan harian dan mudah menipis saat hujan berkurang.

Curah Hujan Ringan dan Dampaknya

Data dari Global Precipitation Measurement (GPM) Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM (IMERG) menunjukkan bahwa selama periode tertentu curah hujan harian di daerah hulu hanya berkisar 0 hingga 24 milimeter dengan rata-rata sekitar 7,3 milimeter per hari. Tingkat curah hujan ini tidak cukup untuk mengisi kembali cadangan air tanah yang menyusut akibat perubahan lingkungan.

Akibatnya, warga mulai merasakan dampak kekeringan ini secara langsung. Sumur dan mata air yang biasanya mengalir lancar kini terlihat mengering, dan pasokan air bersih dari PDAM pun turut terdampak. Ketergantungan terhadap sumber air permukaan yang tidak stabil membuat kebutuhan air menjadi rentan terganggu.

Upaya Pemulihan dan Pengelolaan Sumber Air

Menurut pakar, solusi menghadapi kondisi ini haruslah berfokus pada pemulihan fungsi ekologis di wilayah hulu DAS Batang Kuranji. Beberapa langkah yang krusial antara lain:

  1. Meningkatkan tutupan vegetasi agar tanah dapat kembali berfungsi sebagai spons penyerapan air.
  2. Mengendalikan erosi dengan metode konservasi tanah dan penghijauan.
  3. Melindungi zona mata air agar sumber air alami tidak berkurang kualitas dan kuantitasnya.
  4. Menata ulang pemanfaatan air secara bijak untuk menghindari eksploitasi berlebihan.

Pemulihan tutupan lahan dan fungsi hidrologi ini diyakini akan membantu sungai kembali memiliki "tabungan" air yang cukup. Dengan demikian, pada musim kemarau debit sungai tetap terjaga dan saat musim hujan tidak lagi terjadi banjir besar yang merugikan.

Fenomena kekeringan setelah hujan lebat yang terjadi di wilayah RI bukanlah sesuatu yang sederhana. Perubahan struktur tanah, tutupan lahan, dan sedimentasi sungai memainkan peran besar dalam dinamika air sungai. Pemahaman dan tindakan cepat terhadap fungsi hulu sungai sangat penting agar sumber air tetap lestari dan masyarakat terhindar dari permasalahan kekeringan dan banjir.

Berita Terkait

Back to top button