
Tether mencatat pencapaian luar biasa pada kuartal keempat dengan kapitalisasi pasar mencapai $187,3 miliar. Hal ini terjadi meskipun pasar kripto secara umum mengalami perlambatan, menandakan posisi dominan Tether di ranah stablecoin terus menguat.
Pengguna Tether melonjak hingga 534,5 juta, dengan penambahan 35,2 juta pengguna baru dalam satu kuartal. Angka ini memperpanjang tren pertumbuhan yang telah berlangsung selama delapan kuartal berturut-turut, masing-masing minimal bertambah 30 juta pengguna.
Pertumbuhan Pengguna dan Aktivitas On-Chain
Jumlah pemegang USDT on-chain meningkat sebanyak 14,7 juta dompet menjadi 139,1 juta, melambangkan 70,7% dari seluruh dompet stablecoin. Rata-rata pengguna aktif bulanan on-chain mencapai rekor baru 24,8 juta, memperlihatkan tingkat keterlibatan yang stabil meski pasar sedang volatil. Jumlah pengguna kripto global diperkirakan mendekati 590 juta, dengan mayoritas menggunakan USDT sebagai alat pembayaran atau penyimpanan nilai.
Perkembangan ini juga didukung oleh kemitraan strategis seperti dengan MiniPay dari Opera, yang memperluas akses ke pasar berkembang terutama di kawasan Afrika dan Amerika Latin.
Rekor Volume Transfer dan Dominasi Pasar
Volume transfer on-chain USDT menembus angka $4,4 triliun di kuartal tersebut, dengan $2,8 triliun dari transaksi aset tunggal. Hal ini memberikan USDT pangsa pasar sebesar 65,9% di segmen stablecoin. Sisanya sebesar $1,6 triliun berasal dari transaksi multi-aset yang biasanya terkait aktivitas DeFi, menegaskan USDT sebagai stablecoin unggulan untuk transfer nilai.
Di sisi perdagangan, USDT juga mendominasi volume spot di bursa terpusat dengan pangsa 61,5%, menghasilkan transaksi senilai $3,2 triliun selama kuartal keempat. Lonjakan volume ini terjadi meskipun pasar kripto lebih luas mengalami koreksi 23,7% akibat aksi likuidasi besar senilai $19 miliar.
Kondisi Keuangan dan Profitabilitas
Laporan yang diaudit oleh firma BDO mengungkapkan posisi keuangan Tether yang kuat dengan total cadangan mencapai $193 miliar. Cadangan ini melebihi kewajiban sebesar $186,5 miliar, menciptakan kelebihan cadangan sekitar $6,3 miliar. Sepanjang tahun, Tether melaporkan keuntungan bersih melebihi $10 miliar, sebagian besar berasal dari pendapatan bunga atas kepemilikan Obligasi Treasury AS dan hasil investasi strategis lainnya.
Meskipun laba turun sekitar 25% dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini terutama disebabkan oleh pelemahan harga Bitcoin. CEO Tether Paolo Ardoino menegaskan bahwa ekuitas grup sebesar $30 miliar menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan, membantah klaim yang meragukan posisi tersebut.
Tantangan Penggalangan Dana dan Penyesuaian Target
Di akhir tahun, Tether sempat mengkaji rencana penggalangan dana dengan target awal $20 miliar, berlandaskan valuasi sekitar $500 miliar dan mendapat minat dari investor besar. Namun, rencana ini ditunda akibat kekhawatiran valusasi dan sikap investor yang bersifat berhati-hati. Semua diskusi kemudian disarankan untuk menyesuaikan target menjadi lebih konservatif, sekitar $5 miliar, menyesuaikan kondisi pasar yang melambat.
Sementara itu, aktivitas transaksi tetap meningkat dan perusahaan mengambil langkah untuk menghentikan penjualan saham sekunder yang bisa mengganggu negosiasi valuasi.
Perbandingan dengan Stablecoin Rival
Kinerja Tether sangat kontras dibandingkan stablecoin lainnya yang mengalami penurunan kapitalisasi pasar hingga 57%. Di tengah koreksi pasar global yang membuat kapitalisasi pasar kripto turun dari puncaknya $4,4 triliun menjadi sekitar $3 triliun, Tether berhasil memperluas pasarnya sebesar 3,5%.
Pencapaian ini menegaskan bahwa USDT masih menjadi stablecoin pilihan utama untuk keperluan pertukaran nilai dan likuiditas di ekosistem kripto yang terus berkembang.
Pertumbuhan pengguna, volume transaksi rekord, dan posisi keuangan tangguh mengindikasikan bahwa meskipun pasar kripto melambat, Tether tetap menunjukkan ketahanan dan dominasi yang kuat sebagai stablecoin kelas dunia.





