
Bitcoin mengalami penurunan tajam mendekati angka $60.000, mencatat penurunan hampir 30% dalam tujuh hari terakhir. Kejatuhan ini merupakan satu dari penurunan harian terburuk sejak runtuhnya FTX pada 2022, membuat para trader mencari penyebab tersembunyi di balik tekanan jual masif tersebut.
Beberapa teori beredar di kalangan trader di platform X, mengindikasikan bahwa penurunan bukan semata-mata akibat faktor makroekonomi atau risiko pasar umum. Flood, seorang trader kripto terkenal, menyebut aksi jual ini sebagai yang paling brutal dalam beberapa tahun terakhir dan terkesan “dipaksa” serta “tanpa pandang bulu.” Ia menduga ada kemungkinan keterlibatan dana suveran besar yang melepas Bitcoin dalam jumlah fantastis, atau bahkan kegagalan neraca keuangan suatu bursa kripto besar.
Hipotesis Dana Suveran dan Kegagalan Bursa
Teori utama mengemukakan dua kemungkinan berikut:
- Dana suveran dari negara seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Rusia, atau China yang menjual lebih dari $10 miliar Bitcoin.
- Terjadinya kebangkrutan atau kerugian besar pada bursa kripto yang mempunyai puluhan miliar aset Bitcoin sehingga terpaksa melakukan aksi penjualan paksa.
Dugaan lain datang dari Franklin Bi, mitra umum Pantera Capital, yang lebih menitikberatkan pada pelaku besar yang berbasis di Asia. Ia menyatakan, pelaku tersebut bukan merupakan perusahaan perdagangan kripto biasa. Mereka memiliki sangat sedikit rekan di ekosistem kripto sehingga pergerakan mereka tidak mudah terdeteksi dalam pasar.
Rangkaian Peristiwa yang Memperburuk Penurunan
Menurut Franklin Bi, tekanan awal berasal dari leverage besar di Binance. Selanjutnya, unwind carry trade JPY memicu krisis likuiditas. Upaya nekat pelaku tersebut untuk mengembalikan kerugian melalui perdagangan emas dan perak gagal, mempercepat tekanan jual yang makin dalam minggu ini.
Isu Keamanan Bitcoin Muncul ke Permukaan
Selain faktor leverage dan likuiditas, ada narasi lain yang juga menarik perhatian. Charles Edwards dari Capriole menyoroti risiko keamanan kuantum Bitcoin. Ia mengungkap bahwa penurunan harga bakal memaksa perhatian serius pada potensi ancaman keamanan ini. Edwards berharap pencipta Bitcoin, Michael Saylor, serius membentuk tim keamanan Bitcoin yang didanai dengan baik untuk menghadapi tantangan kripto di masa depan.
Edwards mengatakan, harga $50.000 yang sudah semakin dekat bisa menjadi insentif untuk mendorong langkah perlindungan yang lebih konkret. Ia juga mengkhawatirkan adanya upaya untuk meredam ketakutan atas risiko kuantum tanpa tindakan nyata. Menurutnya, pekerjaan besar harus diselesaikan pada 2026 agar ekosistem Bitcoin dapat bertahan.
Tanda-tanda Aktivitas Mencurigakan di ETF Bitcoin Spot BlackRock
Parker White, COO dan CIO DeFi Development Corp., menyorot aktivitas luar biasa di ETF spot Bitcoin milik BlackRock (IBIT). Pada hari penurunan tajam, volume transaksi IBIT mencapai rekor $10,7 miliar, disertai premi opsi tertinggi sebesar $900 juta. Pola ini dianggap menunjukkan likuidasi besar-besaran yang dipicu oleh perdagangan opsi, bukan penjualan biasa dari leverage di pasar kripto.
White juga memberi gambaran kemungkinan keterlibatan dana hedge fund berbasis di Hong Kong yang memegang $DFDV—sebuah produk investasi dengan kinerja terburuk saat itu. Dana ini diduga melakukan perdagangan opsi leverage terkait IBIT dengan modal pinjaman dalam yen Jepang (JPY). Gagalnya strategi untuk menutup posisi rugi di perak memperparah situasi hingga akhirnya memaksa likuidasi besar pada Bitcoin.
Pergerakan Pasar yang Tidak Biasa dan Sentimen Negatif
Penurunan harga Bitcoin minggu lalu bukan gradual melainkan berlangsung dengan fluktuasi intraday yang tajam. Hal ini berbeda dengan pola pembelian dip yang relatif stabil sebelumnya tahun ini. Likuiditas tipis dan tekanan hebat pada altcoin makin menurunkan sentimen pasar ke level yang mengingatkan pada krisis pasca-runtuhnya FTX.
Trader kini memandang setiap rebound harga dengan skeptis karena arus dan posisi pasar belum menunjukkan pemulihan yang jelas. Situasi ini menandai fase ketidakpastian sekaligus kewaspadaan tinggi di kalangan pelaku pasar kripto global.
Secara keseluruhan, berbagai faktor mulai dari aksi suveran besar, kegagalan dana atau bursa, kondisi leverage kompleks di Asia, hingga isu keamanan kuantum Bitcoin menjadi fokus utama dalam mencari akar penyebab penurunan tajam ini. Ke depan, perkembangan pada isu likuiditas dan langkah mitigasi risiko keamanan akan sangat menentukan arah pasar kripto, terutama Bitcoin.





