Bitcoin mengalami penurunan signifikan usai reli pasca pemilihan presiden Amerika Serikat pada November lalu. Harga mata uang kripto terbesar itu jatuh ke bawah level $70.000, menghapus hampir seluruh kenaikan yang dicatat sejak kemenangan Donald Trump, yang sempat mengangkat harga Bitcoin mendekati $125.000 tahun sebelumnya.
Penurunan harga Bitcoin terjadi dalam konteks aksi jual besar-besaran di pasar aset kripto secara luas. Indeks CoinDesk 20 (CD20) turun lebih dari 17% dalam satu minggu terakhir. Bitcoin sendiri melemah sekitar 16,5%, sementara kripto lain justru lebih terpukul, termasuk Ether yang turun 22,4%, BNB anjlok 23,4%, dan Solana merosot sebesar 25,2%. Sentimen pasar yang lesu juga membuat saham perusahaan terkait kripto mengalami penurunan drastis.
Penyebab Penurunan dan Dampak Pasar
Penurunan drastis harga Bitcoin pada satu hari sebelumnya digambarkan sebagai koreksi terburuk sejak runtuhnya platform FTX tahun lalu. Wintermute, salah satu pemain besar di pasar, menyebut kondisi ini sebagai “penarikan nilai terbesar dalam satu hari”. Jasper De Maere, strategi desk dan trader OTC di Wintermute, menggambarkan aksi jual ini terjadi dalam suasana “jual dengan harga berapapun,” yang menunjukkan tingkat stres tinggi di dalam pasar.
Menurut De Maere, likuidasi besar-besaran yang menimpa institusi sebenarnya relatif kecil dan terkendali, sehingga perdebatan mengenai sumber ketegangan pasar masih berlangsung. Selain itu, penurunan harga ini juga disertai pelepasan aset lintas sektor yang lebih luas. Misalnya, indeks Nasdaq 100 (QQQ) turun sekitar 5% dalam tiga hari berturut-turut, sementara perak dan emas menurun tajam dari puncak siklusnya yaitu sekitar 38% dan 12%, masing-masing.
Volatilitas dan Strategi Perlindungan dalam Pasar Crypto
Dalam pasar opsi kripto, volatilitas implisit melonjak ke persentil ke-99, dengan permintaan yang tinggi pada opsi put, terutama untuk Ether. Hal ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan harga lebih lanjut. De Maere menyebut Ether sebagai “epicenter of the pain,” karena banyak investor mencari perlindungan menggunakan opsi put yang memberikan hak jual pada harga tertentu.
Di sisi Bitcoin, posisi para trader menunjukkan bahwa pasar mengantisipasi gejolak lanjutan dengan rentang harga yang luas antara $55.000 sampai $75.000. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakpastian tinggi terkait arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat.
Restrukturisasi dan Dampak Perusahaan Kripto
Aksi jual juga diperburuk oleh kabar restrukturisasi di beberapa perusahaan terkait kripto. Misalnya, bursa kripto Gemini mengumumkan penutupan operasinya di Inggris, Uni Eropa, dan Australia. Selain itu, perusahaan ini berencana memangkas sekitar 25% karyawan dan mengubah mode layanan menjadi hanya penarikan aset untuk pengguna di kawasan tersebut, serta bermitra dengan platform eToro untuk transfer aset.
Berbeda dengan Gemini, Bitfarms mencatat kenaikan harga saham setelah mengubah fokus bisnis dari perusahaan Bitcoin menjadi infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Perubahan strategi ini menunjukkan dinamika yang berkembang di sektor teknologi dan kripto yang berkaitan.
Kedalaman Pasar dan Aliran Dana
Salah satu faktor struktural yang menambah volatilitas harga Bitcoin adalah penurunan kedalaman pasar. Thomas Probst, analis Kaiko, mengatakan bahwa rata-rata kedalaman pasar Bitcoin untuk pergerakan 1% kini menurun menjadi sekitar $5 juta, dari sebelumnya lebih dari $8 juta. Kedalaman pasar yang lebih rendah membuat harga lebih rentan terhadap pergerakan tajam akibat transaksi yang relatif kecil.
Aliran dana dalam produk ETF Bitcoin juga mengalami net outflow sebesar $1,25 miliar dalam tiga hari terakhir, menurut data SoSoValue. Jim Bianco dari Bianco Research memperkirakan bahwa rata-rata harga masuk investor ETF berada di dekat $90.000, sehingga saat ini mereka menghadapi kerugian tidak terealisasi sekitar $15 miliar.
Korelasi dengan Saham Teknologi
Bitcoin kini menunjukkan korelasi yang kuat dengan saham-saham sektor perangkat lunak. Penurunan harga Bitcoin terjadi bersamaan dengan jatuhnya saham Adobe, Salesforce, dan ServiceNow yang turun antara 8% hingga 13% dalam sepekan terakhir. Analis pasar Jonathan Krinsky dari BTIG menyatakan bahwa Bitcoin dan saham teknologi tersebut telah membentuk titik terendah taktis baru.
Menurut Krinsky, level $60.000 adalah titik penting yang layak dijadikan acuan trading. Untuk memvalidasi bahwa Bitcoin telah mencapai “bottom” yang bisa diperdagangkan, harga perlu kembali menembus level kunci di atas $73.000.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan dinamika kompleks antara tekanan likuiditas, volatilitas tinggi, dan sentimen pelaku pasar yang bergejolak. Hal ini mengindikasikan bahwa Bitcoin masih menghadapi ketidakpastian yang signifikan di tengah korelasi dengan aset teknologi dan restrukturisasi perusahaan kripto global.
