10 Pekerjaan yang Terancam Hilang 4 Tahun Lagi Akibat Otomatisasi dan Transformasi Digital

Perubahan besar dalam pasar tenaga kerja global akan terjadi dalam empat tahun ke depan. World Economic Forum (WEF) memperkirakan bahwa meskipun jumlah pekerjaan secara total akan bertambah sekitar 14% pada 2030, sekitar 8% pekerjaan juga diprediksi akan hilang akibat disrupsi teknologi dan perubahan struktur ekonomi.

Transformasi ini terutama disebabkan oleh pesatnya adopsi digitalisasi dan otomatisasi di berbagai sektor. Jutaan pekerja menghadapi risiko kehilangan pekerjaan jika tidak mampu menyesuaikan diri dengan keterampilan baru yang semakin dibutuhkan.

Faktor Penyebab Hilangnya Pekerjaan

Menurut laporan WEF, digitalisasi dan teknologi otomatisasi menjadi faktor utama menurunnya permintaan untuk sejumlah pekerjaan tradisional. Sistem pembayaran digital dan teknologi swalayan menggantikan peran manusia di berbagai proses transaksi dan layanan. Ini mendorong penurunan kebutuhan akan pekerjaan yang bersifat rutin dan manual.

Selain itu, perubahan permintaan keterampilan inti juga signifikan. Diperkirakan sekitar 39% keterampilan pekerja akan berubah hingga 2030. Hal ini menuntut upskilling dan reskilling secara berkelanjutan bagi tenaga kerja agar tetap relevan.

Daftar 10 Pekerjaan yang Terancam Hilang

Berikut ini adalah sepuluh jenis pekerjaan yang diprediksi mengalami penurunan permintaan paling tajam dalam empat tahun ke depan:

  1. Petugas pos
  2. Teller bank dan petugas terkait
  3. Petugas entri data
  4. Kasir dan petugas tiket
  5. Asisten administrasi dan sekretaris eksekutif
  6. Pekerja percetakan dan pekerjaan terkait
  7. Petugas akuntansi, pembukuan, dan penggajian
  8. Petugas pencatatan material dan penyimpanan stok
  9. Petugas transportasi dan kondektur
  10. Pekerja penjualan keliling dan pedagang kaki lima

Penurunan ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang mampu menggantikan fungsi-fungsi dasar di pekerjaan-pekerjaan tersebut. Sebagai contoh, kasir dapat digantikan oleh sistem pembayaran otomatis dan toko swalayan tanpa kasir.

Dampak Transformasi terhadap Tenaga Kerja

Meski banyak pekerjaan akan hilang, bukan berarti peluang kerja akan menurun secara keseluruhan. WEF memperkirakan akan ada sekitar 19 juta pekerjaan baru yang tercipta akibat kemajuan akses digital dan sekitar 11 juta pekerjaan baru dari kecerdasan buatan dan pemrosesan data.

Namun demikian, pergeseran ini membutuhkan tenaga kerja untuk mengadopsi keterampilan baru. Pekerja yang gagal melakukan adaptasi berpotensi mengalami pengangguran atau keterbatasan dalam mencari pekerjaan baru yang cocok.

Pentingnya Pengembangan Keterampilan

Laporan WEF menegaskan bahwa pengembangan keterampilan harus menjadi prioritas utama. Pembelajaran berkelanjutan dan pelatihan ulang perlu dilakukan agar pekerja dapat bertransisi ke peran-peran baru yang sesuai tuntutan pasar.

Pemerintah dan dunia usaha juga diharapkan berperan aktif dalam menciptakan program-program pelatihan dan kebijakan yang mendukung transformasi tenaga kerja. Tanpa adanya langkah strategis, kesenjangan keterampilan berpotensi membesar dan memperparah ketimpangan dalam pasar tenaga kerja global.

Teknologi Kreatif dan Perubahan Profesi

Tidak hanya jabatan administratif atau teknis, bidang kreatif pun tak luput dari gangguan teknologi. Teknologi artificial intelligence generatif mulai mempengaruhi pekerjaan seperti desain grafis. Ini menunjukkan bahwa disrupsi juga merambah profesi yang selama ini dianggap sulit tergantikan oleh mesin.

Pekerja di sektor kreatif harus menyesuaikan diri dengan alat dan teknologi baru agar tetap kompetitif dalam ekonomi digital. Adaptasi teknologi menjadi kunci utama untuk mempertahankan relevansi profesi.

Kondisi ini menandai era baru dalam dunia kerja, di mana perubahan cepat mendorong transformasi yang mendalam. Tenaga kerja yang mampu mengikuti perubahan serta meningkatkan keterampilan digital dan teknis akan lebih siap menghadapi masa depan penuh tantangan ini.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com
Terkait