Perpetual futures atau yang sering disebut perps merupakan kontrak derivatif yang memungkinkan trader mendapatkan eksposur leverage pada suatu aset tanpa adanya tanggal kedaluwarsa. Berbeda dengan futures tradisional yang memiliki jadwal penyelesaian tetap dan harus diperbarui secara berkala, perp futures tetap terbuka tanpa batas waktu, mengikuti harga aset yang menjadi acuan melalui mekanisme pendanaan yang menyeimbangkan posisi long dan short.
Struktur ini menjadikan perp futures sangat diminati di pasar kripto karena menghilangkan keharusan untuk mengelola kontrak yang berakhir, sekaligus menyediakan leverage dan opsi hedging risiko. Matt Blumberg, pemimpin DeFi di Ondo Finance, menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap perp futures lebih didorong oleh upaya memperbaiki ketidakefisienan yang tidak terselesaikan dalam pasar futures tradisional.
Blumberg menyoroti bahwa futures awalnya dirancang untuk pengiriman fisik, seperti petani melindungi hasil panennya dan maskapai penerbangan mengunci harga bahan bakar. Namun, saat ini sebagian besar volume futures berasal dari spekulasi dengan leverage, bukan hedging fisik. Walaupun spekulasi dominan, trader masih harus menghadapi biaya dan risiko tambahan akibat keharusan melakukan rollover kontrak setiap bulan atau kuartal.
Perpetual futures menyelesaikan tantangan ini dengan menawarkan kontrak yang tidak pernah kadaluwarsa dan harga yang terus berjalan sejalan dengan pasar aset sebenarnya. Mekanisme pendanaan perp futures memungut biaya dari pihak yang mendominasi posisi, lalu mengalihkannya ke pihak yang berlawanan, agar harga tetap stabil. Dalam kata Blumberg, perp futures memungkinkan trader mempertahankan eksposur tanpa harus terus-menerus mengelola pergantian kontrak.
Di pasar kripto, kebutuhan akan kontrak yang mudah dikelola ini membuka peluang strategi baru. Mayoritas permintaan cenderung untuk posisi long, sehingga biaya pendanaan bisa menjadi sumber pendapatan bagi trader yang mengambil posisi short sebagai pelindung risiko spot. Dengan demikian, perp futures bukan hanya instrumen spekulasi, tetapi juga alat untuk mendapatkan yield dan manajemen risiko.
Blumberg menambahkan bahwa dalam pasar tradisional, opsi menjadi jalan utama bagi investor ritel untuk mendapatkan leverage. Namun, opsi memiliki kompleksitas harga dan biaya tersembunyi yang sulit dipahami banyak orang. Sering kali produk ini bersifat predatori, dengan spread lebar dan mekanisme biaya yang tidak transparan.
Menyikapi hal tersebut, Ondo Finance membawa model perpetual futures ke aset riil. Melalui produk Ondo Perps, pengguna di luar AS dapat memperdagangkan perpetual futures yang terkait dengan saham, ETF, dan komoditas secara berkelanjutan. Model ini lebih sederhana karena penetapan harga lebih jelas, leverage lebih transparan, dan biaya muncul lewat pendanaan, bukan kompleksitas yang tersembunyi.
Saat ini, mayoritas partisipan dalam produk ini masih dari kalangan ritel. Namun, Blumberg percaya bahwa apabila likuiditas semakin dalam, model perp futures ini juga dapat menarik perhatian trader profesional. Menurutnya, daya tarik perpetual futures bukan sekadar tren di dunia kripto, melainkan solusi struktural untuk masalah yang telah lama ada di pasar keuangan.
Dengan terus berkembangnya teknologi dan adopsi DeFi, perp futures berpotensi menjadi instrumen keuangan yang lebih inklusif dan efisien. Pendekatan tanpa kedaluwarsa ini memperkecil biaya operasional sekaligus memberikan fleksibilitas strategi yang lebih besar bagi berbagai kalangan investor.
Penawaran seperti yang dilakukan Ondo Finance diharapkan akan mendorong penetrasi pasar derivatif yang lebih luas dan memberikan alternatif baru bagi trader tradisional maupun digital untuk meningkatkan akses dan visibilitas pada perdagangan leverage. Mekanisme perp futures yang inovatif menghadirkan era baru dalam perdagangan derivatif di luar ekosistem kripto sekalipun.
