
Bitcoin mengalami penurunan tingkat kesulitan penambangan terbesar sejak 2021 akibat mundurnya aktivitas para penambang. Penurunan ini mencapai sekitar 11%, sebuah perubahan signifikan yang dipicu oleh turunnya hashrate secara tajam.
Tingkat kesulitan penambangan adalah indikator yang menunjukkan seberapa sulit proses menemukan blok baru dalam jaringan Bitcoin. Angka ini beradaptasi setiap dua minggu untuk menjaga interval waktu blok tetap sekitar 10 menit. Berdasarkan data Blockchain.com, tingkat kesulitan turun dari lebih dari 141,6 triliun menjadi sekitar 125,86 triliun, menandakan berkurangnya jumlah mesin penambang aktif di jaringan.
Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor yang memberikan tekanan besar pada para penambang. Harga Bitcoin telah merosot tajam dari puncak tertingginya di 126.000 dolar menjadi sekitar 69.500 dolar. Penurunan harga tersebut memaksa banyak penambang, khususnya yang menggunakan peralatan lama dan menghadapi biaya energi tinggi, untuk menghentikan aktivitas mereka.
Beberapa penambang memilih untuk mengalihkan fokus perangkat keras mereka ke aplikasi lain seperti kecerdasan buatan (AI). Perusahaan besar dengan kapasitas modal besar menawarkan kontrak stabil dan keuntungan ekonomi yang lebih menarik. Contohnya, Bitfarms (BITF) bahkan mengumumkan perubahan strategi bisnis dengan berhenti menganggap diri mereka perusahaan Bitcoin dan kini fokus mengembangkan pusat data untuk komputasi berkinerja tinggi dan beban kerja AI.
Pendapatan penambang Bitcoin, diukur per terahash atau hashprice, juga turun drastis. Dari hampir 70 dolar saat harga BTC mencapai puncak, kini pendapatan ini tinggal sedikit lebih dari 35 dolar. Tekanan ini semakin diperparah oleh badai musim dingin yang terjadi khususnya di Texas.
Operator jaringan listrik menerapkan pembatasan penggunaan untuk mengutamakan kebutuhan listrik rumah tangga. Perusahaan penambangan publik pun memotong produksi, bahkan beberapa mengalami penurunan output Bitcoin harian hingga lebih dari 60%.
Penurunan tingkat kesulitan sebenarnya berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian otomatis. Penambang yang masih bertahan justru diuntungkan oleh berkurangnya kompetisi, sehingga tingkat profitabilitas bisa meningkat dan mempertahankan kelangsungan usaha mereka.
Sejarah menunjukkan bahwa penurunan tingkat kesulitan besar sering kali menjadi indikasi kapitulasi pasar. Fenomena ini biasanya mendahului masa stabilisasi atau pemulihan harga, di mana penambang menjual Bitcoin yang mereka produksi untuk menutupi biaya operasional.
Faktor-faktor utama penurunan tingkat kesulitan Bitcoin:
- Turunnya harga Bitcoin hingga hampir setengah dari harga puncak.
- Penutupan mesin penambang dengan peralatan lama dan biaya energi tinggi.
- Pengalihan aktivitas penambangan ke sektor AI oleh sejumlah perusahaan.
- Dampak dari badai musim dingin yang menyebabkan gangguan suplai listrik.
- Pembatasan penggunaan listrik oleh operator jaringan untuk kebutuhan rumah tangga.
Penyesuaian ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam industri penambangan Bitcoin, di mana faktor eksternal dan harga pasar secara langsung memengaruhi aktivitas dan strategi bisnis para pelaku. Penurunan tingkat kesulitan dapat menjadi peluang bagi penambang yang tetap bertahan, sekaligus merupakan sinyal penting dalam siklus harga Bitcoin di pasar global.





