Bitcoin mengalami penurunan signifikan dengan menembus batas psikologis $70.000 dan diperdagangkan sekitar $65.000 pada awal Februari. Penurunan ini disertai dengan likuidasi besar-besaran yang mencapai lebih dari $1 miliar, menunjukkan tekanan jual yang kuat di pasar kripto global.
Penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan sentimen risiko yang meningkat di pasar secara keseluruhan. Pelepasan posisi leverage dan kekhawatiran terkait profitabilitas penambangan Bitcoin ikut memperparah tekanan jual, sementara aliran masuk dan keluar pada ETF Bitcoin spot yang tidak stabil juga berkontribusi pada volatilitas harga.
Likuidasi dan Tekanan Pasar
Level harga $70.000 menjadi zona posisi yang sangat padat, di mana banyak trader menempatkan stop loss. Ketika harga gagal bertahan di level ini, pasar mengalami tekanan jual mekanis, menyebabkan likuidasi beruntun yang mempercepat penurunan harga. Fenomena ini biasa disebut sebagai "cascade liquidations," yang menciptakan likuiditas tipis dan membuat harga bergerak lebih jauh dari yang diperkirakan hanya berdasarkan berita.
Indeks Crypto Fear & Greed pun merosot ke angka 9, menunjukkan keadaan "ketakutan ekstrem" yang merupakan level terendah selama lebih dari tiga tahun. Data ini juga tercermin di pasar opsi, dimana para pelaku pasar banyak membayar untuk proteksi penurunan harga, menandakan bahwa investor lebih condong mengantisipasi risiko ketimbang mengambil peluang.
Peran Penambang Bitcoin dan Margin yang Semakin Ketat
Penambang Bitcoin menghadapi tantangan semakin berat. Harga hash, atau pendapatan harian yang diperoleh per unit hashrate, jatuh mendekati rekor terendah sekitar $0,03 per TH per hari. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan tingkat kesulitan jaringan yang masih tinggi, sehingga pendapatan para penambang menjadi tertekan.
Penurunan hashprice ini mempengaruhi margin keuntungan mereka, terutama bagi penambang dengan biaya operasional lebih tinggi. Situasi ini meningkatkan risiko shutdown bagi penambang marginal dan menambah tekanan jual karena mereka harus melepas aset untuk menutup biaya operasional.
Dampak ETF Bitcoin Spot dan Aliran Dana
ETF Bitcoin spot membuat perdagangan menjadi lebih likuid dan mudah, baik untuk membeli maupun menjual dalam jumlah besar. Namun, selama periode risiko, arus keluar dana dari ETF ini dapat memperbesar tekanan jual mekanis di pasar. Data menunjukkan lebih dari $272 juta dana keluar bersih dari ETF Bitcoin yang terdaftar di AS pada awal Februari, yang berkontribusi pada penurunan harga.
Karena ETF berkapasitas tinggi, aliran dana di dalamnya sangat berpengaruh terhadap pergerakan harga Bitcoin. Saat sentimen pasar memburuk, likuiditas tinggi ini lebih berpotensi mempercepat penurunan ketimbang menstabilkan harga.
Korelasi dengan Saham dan Dampak pada Perusahaan Besar
Penurunan Bitcoin juga berdampak pada saham perusahaan yang terkait dengan aset kripto. Perusahaan dengan model bisnis kripto atau kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar, seperti MicroStrategy, melaporkan kerugian miliaran dolar akibat penurunan nilai BTC. MicroStrategy mengumumkan kerugian kuartalan bersih sebesar $12,4 miliar karena perubahan nilai wajar Bitcoin, sementara portofolio BTC perusahaan mencapai 713.502 koin.
Fenomena ini menciptakan efek umpan balik antara pasar saham yang sensitif terhadap Bitcoin dan pasar kripto itu sendiri, memperketat selera risiko dan memperdalam proses de-risking di kedua pasar.
Faktor-Faktor yang Penting Dipantau ke Depan
Untuk menilai apakah pasar Bitcoin mulai stabil atau masih mengalami tekanan jual lanjutan, beberapa indikator mekanis perlu diperhatikan:
- Intensitas Likuidasi
Apakah aksi likuidasi paksa mulai mereda atau justru terus meningkat? - Profitabilitas Penambang
Apakah harga hash pulih setelah penyesuaian kesulitan, atau tetap di zona rendah? - Aliran Dana ETF
Apakah arus keluar dana tetap berlanjut, atau mulai datar dan berbalik? - Upaya Rebound Harga
Apakah Bitcoin berhasil kembali menembus level $70.000 dengan kuat, atau level tersebut berubah menjadi resistensi?
Pergerakan harga Bitcoin ke depannya akan sangat bergantung pada bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi di tengah dinamika pasar global dan sentimen investor. Tekanan likuidasi, margin penambang yang semakin ketat, dan aliran dana yang fluktuatif bisa memperpanjang volatilitas hingga pasar menemukan zona stabil baru.
