
Perbincangan tentang cryptocurrency biasanya terfokus pada harga token, kapitalisasi pasar, dan kinerja jangka pendek. Namun, jika token diabaikan, apa yang sebenarnya menjadi nilai utama dalam ekosistem crypto?
Ryan Chow, CEO sekaligus co-founder Solv Protocol, menyatakan bahwa ketika token tidak lagi menjadi fokus, perhatian akan kembali ke aspek fundamental proyek. Ia menekankan tiga protokol kunci yang akan tetap relevan pada 2026 meski token tidak ada.
Harga Token dan Realitas Fundamental
Industri crypto selama ini banyak ditentukan oleh fluktuasi harga dan spekulasi token. Narasi seputar token unggulan, waktu musim altcoin, atau mencari token dengan potensi pengembalian ratusan kali lipat mendominasi diskusi. Namun, harga token sering kali tidak mencerminkan apakah sebuah proyek benar-benar digunakan dan memberikan nilai nyata.
Chow menjelaskan bahwa harga token hanya mencerminkan persepsi pasar, bukan kinerja sistem. "Token price tells you what the market feels, not whether the system works," kata Chow. Ia menambahkan bahwa harga cenderung menjadi indikator "lagging" dan sering kali berisik tanpa mengindikasikan kemajuan fundamental yang sesungguhnya.
Tiga Ukuran Penting Tanpa Token
Menurut Chow, nilai sebuah protokol jika tanpa token akan ditentukan oleh tiga aspek utama: adopsi, usability (kemudahan penggunaan), dan keamanan. Parameter seperti adopsi on-chain, integrasi lintas protokol, kesiapan kepatuhan regulasi, dan kemampuan skala yang andal untuk institusi menjadi sinyal kuat dampak nyata.
Ia juga memperinci bahwa spekulasi dan kegiatan trading yang mengandalkan token hampir pasti akan hilang jika token trading tidak tersedia. Aktivitas seperti airdrop, farming, liquidity mercenary, dan governance berbasis token akan lenyap hampir seketika.
Perubahan Prioritas Pengembang
Tanpa token, prioritas pengembang akan beralih dari optimasi keuntungan jangka pendek ke pembangunan sistem yang memberikan kepercayaan jangka panjang. Fokus utama akan berada pada cadangan yang dapat diverifikasi, auditabilitas, uptime, tata kelola, dan kepatuhan. Pengembangan infrastruktur distribusi juga akan meningkat, termasuk integrasi wallet, settlement, dan model bisnis berbasis biaya layanan.
Model Pendapatan Berkelanjutan dalam DeFi
Chow menekankan bahwa protokol yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan, seperti protokol pinjaman (lending), adalah model bisnis paling terbukti dalam DeFi. Protokol tersebut memperoleh pendapatan melalui spread suku bunga dan biaya peminjam. Pendapatan ini bergantung pada pemanfaatan modal dan pengelolaan risiko, bukan distribusi token.
Selain itu, layanan yang menyasar institusi seperti custody, kepatuhan, pelaporan, dan pembayaran tetap diminati dan biasanya dibayar menggunakan fiat atau stablecoin. Infrastruktur seperti ini bertindak sebagai jembatan penting antara keuangan tradisional dan crypto, terutama saat pasar melemah.
Tiga Protokol yang Tetap Signifikan Tanpa Token
-
Chainlink
Sebagai penyedia data oracle yang terpercaya, Chainlink menyediakan feed harga yang aman dan andal bagi berbagai protokol DeFi. Kekurangan oracle yang baik dapat berakibat fatal pada operasi seperti likuidasi dan penyelesaian kontrak derivatif. Meski tanpa token LINK, protokol tetap akan membayar layanan oracle dengan stablecoin atau ETH. Chow menegaskan bahwa alternatifnya adalah membangun sistem oracle inferior atau menghadapi risiko data buruk yang besar. -
Canton Network
Canton menawarkan layer settlement yang regulatif dan aman bagi institusi yang memerlukan privasi serta kepatuhan. Misalnya, posisi berkat BTC dapat dipindahkan tanpa membuka strategi atau identitas lawan transaksi. Permintaan ini bersifat struktural dan transaksinya didanai oleh penggunaan bisnis dan biaya validator, bukan spekulasi. - Circle (USDC)
Stablecoin USDC dari Circle telah menjadi infrastruktur penting untuk pembayaran digital, manajemen treasury, dan penyelesaian lintas batas. Sebagai representasi dolar yang diatur dan terpercaya, USDC menjadi pilihan utama institusi dan bank. Operasional Circle lebih mirip utilitas keuangan modern yang memperoleh pendapatan dari spread deposit, bukan tokenasi.
Pandangan Ryan Chow membuka perspektif baru dalam menilai nilai sebuah proyek crypto. Fokus bergeser dari harga token ke aspek infrastruktur, penggunaan nyata, dan keandalan operasional. Dengan demikian, proyek yang mampu menjawab kebutuhan ekonomi dan regulasi institusi diprediksi akan bertahan lebih lama di masa depan.





