Google mulai memblokir permintaan terkait konten Disney pada alat kecerdasan buatannya setelah mendapat peringatan hukum dari perusahaan hiburan raksasa ini. Langkah tersebut muncul setelah Disney mengirim surat peringatan pada Desember, menuduh Google AI berperilaku seperti "mesin penjual otomatis virtual" yang menyalahgunakan hak kekayaan intelektual milik Mouse House.
Dalam surat permintaan penghentian tindakan hukum (cease and desist) setebal 32 halaman, pengacara Disney menguraikan bahwa Google Tools seperti Gemini, Nano Banana, dan Veo telah melakukan pelanggaran besar-besaran terhadap hak cipta Disney. Surat itu juga menunjukkan contoh bagaimana prompt teks sederhana mampu menghasilkan gambar berkualitas tinggi yang mereplikasi karakter-karakter ikonik Disney seperti Darth Vader, Iron Man, dan Elsa dari Frozen.
Blokir Prompt Berbasis Karakter Disney
Sejak awal tahun, alat AI Google memang masih mampu menghasilkan gambar dari prompt yang menyebut karakter populer Disney. Namun, per Januari, laporan menunjukkan Google kini menolak hampir semua permintaan yang mengandung karakter Disney dengan pesan penolakan, "Saya tidak dapat membuat gambar yang Anda minta saat ini karena adanya kekhawatiran dari penyedia konten pihak ketiga." Pendekatan ini tampak sebagai respons langsung atas keberatan hukum dari Disney.
Beberapa sumber dari Amerika Serikat juga mengonfirmasi ketidakmampuan menggunakan berbagai prompt berkaitan Disney lewat AI Google. Langkah tersebut memungkinkan Google menghindari potensi konflik hukum lebih lanjut terkait pelanggaran hak cipta. Meski begitu, foto karakter Disney yang diunggah ke platform AI Google terkadang masih digunakan sebagai bahan menghasilkan karya baru, seperti ketika karakter Buzz Lightyear berhasil dibuat ulang menggunakan prompt figurine.
Tuntutan Disney pada Google
Selain menghentikan pelanggaran, Disney menuntut Google untuk segera menghentikan pelatihan model AI menggunakan IP Mickey Mouse dan karakternya. Perusahaan hiburan terbesar dunia ini merasa kekhawatiran mereka telah diabaikan selama beberapa bulan, sehingga memutuskan untuk mengeluarkan surat legal berisi permintaan tegas. Disney bahkan mengaitkan langkahnya dengan kesepakatan bernilai satu miliar dolar yang baru saja diteken dengan OpenAI, perusahaan pengembang model AI lain, untuk lisensi karakter dalam aplikasi video generatif.
Google menjawab dengan menyatakan hubungan yang sudah lama terjalin antara keduanya bersifat saling menguntungkan. Google pun menyebut telah menggunakan data publik dari internet terbuka untuk melatih AI-nya serta menerapkan mekanisme pengontrol hak cipta seperti Google-extended dan Content ID yang dipakai di YouTube untuk melindungi konten kreator serta pemilik hak cipta.
Dampak dan Implikasi untuk Industri AI dan Hiburan
Tindakan Google ini merupakan bagian dari upaya perlindungan hak cipta yang semakin diterapkan ketika AI generatif semakin kuat dalam mereplikasi konten berlisensi. Kasus Google dan Disney membuka diskusi penting mengenai batas penggunaan karya berhak cipta dalam pelatihan dan output AI tanpa izin. Industri hiburan kini makin waspada terkait pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang bisa memproduksi ulang karakter atau cerita tanpa persetujuan resmi.
Efforts to balance innovation in AI with legal rights ownership remain critical. Google’s adjustment signals recognition of intellectual property concerns in the development of artificial intelligence systems. This incident also illustrates how major content owners actively pursue enforcement of their copyrights in the digital and AI age.
Langkah-Langkah yang Dilakukan Google untuk Mengatasi Masalah Ini
- Melakukan pemblokiran terhadap prompt teks yang mengandung nama atau deskripsi karakter Disney.
- Menyaring permintaan pembuatan gambar yang berpotensi melanggar hak cipta pihak ketiga.
- Mempertahankan fitur pengenalan konten untuk membatasi distribusi materi berhak cipta melalui teknologi internal yang sudah digunakan di platform video.
- Berkomunikasi dengan Disney untuk menjaga hubungan bisnis sekaligus menyelesaikan perselisihan secara baik-baik.
Meski Google telah menerapkan batasan baru, perusahaan perlu terus mengembangkan sistem yang dapat mengidentifikasi dan mengelola risiko legal penggunaan karya dilindungi dalam AI. Pergerakan Disney juga menjadi sinyal bagi perusahaan teknologi lain untuk lebih memperhatikan dampak hukum dari ciptaan AI yang menggunakan data karya kreatif.
Langkah Google ini menunjukkan bahwa keberadaan teknologi AI generatif harus sejalan dengan aturan hak cipta dan etika bisnis yang berlaku, agar ekosistem digital tetap sehat dan adil bagi pemilik karya dan pengembang teknologi. Perkembangan kasus ini layak terus dipantau untuk memahami bagaimana regulasi dan inovasi bisa berjalan beriringan di masa depan.
