Analis Prediksi Bitcoin Bakal Alami Crash Besar Lagi Meski Pasar Sedang Menguat, Hati-Hati!

Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” karena kelangkaannya dan sifatnya yang terdesentralisasi. Bitcoin memiliki pasokan terbatas sebanyak 21 juta koin, sehingga tahan terhadap inflasi dan manipulasi pemerintah.

Namun, pandangan ini mulai dipertanyakan oleh sejumlah analis, termasuk Barry Bannister, Kepala Strategi Ekuitas di Stifel Financial Corp. Ia menyatakan bahwa Bitcoin tidak lagi berperilaku seperti emas digital.

Setelah mengalami crash besar-besaran pekan lalu, harga Bitcoin mulai pulih secara perlahan dengan fluktuasi yang tidak stabil. Pada saat berita ini ditulis, harga Bitcoin berada di sekitar $68.460,84, turun sekitar 57% dari puncaknya di Oktober 2025.

Bannister mengungkapkan dalam wawancara dengan CNBC bahwa Bitcoin lebih mirip instrumen spekulatif dengan likuiditas tinggi. Ia membandingkan Bitcoin lebih sebagai saham teknologi besar daripada sebagai aset lindung nilai selama periode inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi rendah.

Dulu Bitcoin cenderung naik ketika dolar AS melemah. Namun, perubahan pola menunjukkan saat dolar turun, Bitcoin juga ikut turun, menunjukkan korelasi positif yang sebelumnya tidak biasa.

Bannister menilai Bitcoin lebih sebagai produk spekulasi daripada aset defensif. Sebagian besar pandangan pasar melihat Bitcoin sebagai taruhan terhadap melemahnya dolar. Meski begitu, ia yakin bahwa dolar AS akan tetap bertahan.

Analis Stifel memperkirakan harga Bitcoin bisa turun hingga sekitar $38.000 pada koreksi berikutnya. Angka ini berdasarkan pola penurunan besar dalam 15 tahun terakhir yang selalu berakhir pada kisaran tersebut.

Menurut Bannister, tiga penurunan besar Bitcoin selama ini berhenti di level penurunan konsisten sekitar 38.000 sampai 40.000 dolar AS. Ia menyarankan agar investor berhati-hati dan bersiap menghadapi volatilitas.

Bannister juga menegaskan bahwa nilai pasar Bitcoin saat ini tidaklah berkelanjutan jika melihat penurunan tingkat suku bunga dan multiple pasar yang menurun. Bagian paling spekulatif di pasar, termasuk Bitcoin, kemungkinan besar akan menghadapi tekanan jual.

Beberapa investor yang menganggap Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi mulai meragukan klaim tersebut. Bitcoin lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar modal dan sentimen spekulatif daripada faktor makroekonomi klasik.

Dengan kondisi saat ini, investor disarankan mengetahui risiko tinggi dalam investasi Bitcoin. Volatilitas dan korelasi pergerakan harga dengan aset teknologi menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Berikut ini poin penting yang disampaikan Barry Bannister terkait dinamika Bitcoin:

1. Bitcoin tidak berfungsi sebagai “emas digital” dalam situasi inflasi dan perlambatan ekonomi.
2. Pergerakan harga Bitcoin kini lebih dipengaruhi oleh likuiditas pasar dan sentimen spekulatif.
3. Bitcoin dan dolar AS kini menunjukkan korelasi positif yang sebelumnya jarang terjadi.
4. Penurunan harga Bitcoin bisa berlanjut hingga kisaran $38.000 sampai $40.000 berdasarkan pola historis.
5. Bitcoin memiliki risiko tinggi karena perilakunya mirip saham teknologi besar, tidak seperti aset defensif tradisional.

Pergerakan harga Bitcoin ke depan akan sangat bergantung pada tren pasar global dan kebijakan moneter yang berlaku. Investor diminta untuk terus waspada dan memantau perubahan korelasi aset ini dengan indikator makroekonomi dan pasar modal.

Berita Terkait

Back to top button