Banyak perusahaan besar mulai mengurangi perekrutan karyawan baru di tahun 2026. Hal ini terjadi karena adanya kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membuat perusahaan mampu meningkatkan efisiensi operasional. Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengungkapkan bahwa perusahaan besar cenderung menunda rekrutmen. Kondisi pasar tenaga kerja yang demikian berpotensi memperpanjang masa sulit pencarian kerja terutama bagi lulusan baru dan pengangguran.
Teknologi AI yang mulai populer sejak kemunculan ChatGPT pada 2022 telah merubah cara perusahaan menjalankan bisnis. Investasi dalam AI mengarah pada peningkatan produktivitas, namun juga diiringi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan lowongan pekerjaan. Dampak ini terlihat lebih nyata pada perusahaan besar dibandingkan perusahaan kecil yang masih relatif stabil dalam perekrutan. Kondisi ini menimbulkan tekanan besar pada pasar tenaga kerja global.
Dampak AI terhadap Perekrutan dan PHK
Penerapan AI telah memicu perubahan besar terutama di sektor teknologi dan jasa profesional. Data dari Inggris menunjukkan penurunan drastis lowongan kerja, terutama untuk posisi yang rentan tergantikan oleh AI, seperti pengembang perangkat lunak dan konsultan. Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat penurunan lowongan yang mencapai 37% pada pekerjaan yang rawan AI dan penurunan 26% pada posisi lain. Morgan Stanley melaporkan bahwa perusahaan di Inggris memotong hingga seperempat posisi mereka dan enggan mengisi kembali posisi yang kosong.
Sementara itu, di Amerika Serikat, gelombang PHK terjadi secara besar-besaran terutama di perusahaan teknologi besar. Amazon memangkas 16 ribu pekerja secara global, yang merupakan PHK terbesar dalam tiga bulan terakhir di perusahaan tersebut. Meta mengumumkan pemecatan sekitar 1.500 karyawan di divisi Reality Labs yang berfokus pada realitas virtual dan augmented (VR/AR). Pinterest dan Autodesk juga melakukan pemecatan signifikan dengan alasan pengalihan sumber daya ke teknologi AI.
Perusahaan Teknologi dan Sektor Lain Terimbas PHK
Selain perusahaan teknologi, sektor lain juga tidak terlepas dari gelombang PHK. Nike merumahkan 775 karyawan khususnya di pusat distribusi di Tennessee dan Mississippi. Citigroup melanjutkan pengurangan staf dengan menargetkan pengurangan total hingga 20 ribu karyawan sebagai bagian dari strategi efisiensi. Perusahaan penyedia jasa internet Angi juga memecat 350 pekerja untuk mendukung efisiensi bertumpu pada AI.
Perusahaan-perusahaan yang awalnya skeptis terhadap AI kini mulai mengakui peningkatan produktivitas akibat investasi tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa AI telah mengubah lanskap pasar tenaga kerja secara mendalam dan menyebabkan tekanan besar pada para pekerja di banyak sektor.
Tren Penggunaan AI dan Implikasinya
Kashkari menyatakan bahwa dampak perlambatan perekrutan karyawan baru memang lebih terasa pada perusahaan besar yang telah menjalankan adopsi teknologi AI lebih masif. Sementara itu, perusahaan kecil cenderung masih mempertahankan perekrutan, meskipun tidak dapat mengabaikan perlambatan tersebut secara menyeluruh. Inovasi AI yang menjanjikan efisiensi dan peningkatan produktivitas sejalan dengan peningkatan kekhawatiran akan kehilangan banyak kesempatan kerja terutama bagi tenaga kerja tradisional.
Di Inggris, meskipun AI berkontribusi pada peningkatan produktivitas ekonomi hingga 0,8% dalam sepuluh tahun, jumlah lowongan pekerjaan justru menurun hampir sepertiga sejak 2022. Fenomena ini menandakan bahwa di balik dorongan kemajuan teknologi, terdapat konsekuensi serius berupa berkurangnya lapangan kerja.
Tantangan Mencari Kerja 2026
Kompetisi mencari pekerjaan pada tahun 2026 diprediksi semakin ketat dengan kian berkurangnya kesempatan kerja baru. Lulusan baru dan pengangguran menghadapi situasi yang sulit karena pasar tenaga kerja yang stagnan bahkan cenderung menyusut di beberapa sektor. Transformasi digital yang digerakkan AI menuntut keahlian yang lebih spesifik, sehingga menciptakan kesenjangan keterampilan di pasar tenaga kerja.
Perusahaan cenderung lebih selektif dalam perekrutan, fokus pada efisiensi dan pengembangan teknologi. Pesatnya perubahan teknologi menuntut tenaga kerja untuk terus mengasah keterampilan teknologi dan adaptasi terhadap dinamika pasar.
Data dari berbagai negara mengindikasikan bahwa tren pemangkasan tenaga kerja dan penurunan perekrutan akan terus berlanjut, setidaknya hingga beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, pencari kerja perlu memperhatikan perubahan ini dan menyiapkan diri dengan kemampuan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Perusahaan dan Pekerja di Era AI
Meski memangkas jumlah tenaga kerja, perusahaan tetap dapat memetik keuntungan produktivitas dari investasi AI. Ini menimbulkan paradoks antara efisiensi bisnis dan keberlanjutan tenaga kerja. Para pekerja dan lulusan baru perlu memahami bahwa persaingan di pasar kerja akan ketat dan menuntut keterampilan digital dan teknis yang memadai. Adaptasi terhadap perubahan ini menjadi kunci menghadapi tantangan pasar kerja di tahun 2026.
Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com