Bitcoin Cetak Rekor Terendah Sejak 2026: Waktunya Beli atau Hindari Risiko Volatilitas?

Bitcoin mengalami penurunan harga signifikan, mencapai level terendah yang belum terlihat sejak awal tahun ini. Setelah sempat menembus angka $126.000 pada Oktober tahun lalu, harga bitcoin jatuh lebih dari 50 persen hingga sekitar $60.000 sebelum sedikit bangkit kembali ke kisaran akhir $60.000 awal Februari.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah ini saat yang tepat untuk membeli bitcoin atau justru harus dihindari? Para ahli menunjukkan bahwa pergerakan harga bitcoin bersifat siklus dan tidak linear. Anupam Satyasheel dari firma penasihat Occams mengingatkan investor untuk memahami bahwa penurunan tajam di masa lalu sering diikuti oleh kenaikan yang signifikan.

Strategi Membeli Saat Harga Turun

Satyasheel merekomendasikan metode dollar-cost averaging, yakni membeli bitcoin secara bertahap dan konsisten setiap minggu daripada mencoba melakukan timing pasar. Cara ini dianggap lebih aman untuk mengurangi risiko serta memanfaatkan harga rendah dari fluktuasi pasar yang volatile. Prinsip ini sesuai dengan pepatah investasi, bahwa waktu terbaik membeli adalah ketika banyak orang panik dan menjual aset.

Keunggulan utama bitcoin tetap pada sifatnya yang tidak dapat dikontrol oleh pemerintah maupun otoritas moneter. Chris Seedor dari Bitsurance menekankan bahwa bitcoin tidak dapat dicetak tambahan, dibekukan, atau dibatasi oleh negara manapun. "Protokol, jadwal penerbitan, dan model validasinya tetap sama — hanya harganya yang kini lebih murah dibanding kemarin," katanya.

Bitcoin Sebagai Aset Spekulatif

Bitcoin tidak bisa disamakan dengan aset investasi pada umumnya seperti saham atau properti yang menghasilkan pendapatan rutin. Menurut Robert Johnson, profesor keuangan di Creighton University, bitcoin lebih mengandalkan teori “greater fool”—harapan bahwa selalu ada orang yang mau membeli dengan harga lebih tinggi.

Hal ini menimbulkan risiko besar bagi investor yang mengandalkan kenaikan harga agar memperoleh keuntungan. Selain itu, bukti menguat bahwa teori bitcoin sebagai “emas digital” mulai meragukan. Dalam setahun terakhir, harga emas melonjak lebih dari 70 persen, sementara bitcoin justru turun hingga 29 persen.

Faktor Regulasi dan Utilitas Bitcoin

Meskipun tahun lalu para pendukung bitcoin mendapatkan beberapa pencapaian penting, seperti peluncuran ETF bitcoin di Amerika Serikat dan kebijakan yang lebih ramah terhadap kripto, harga bitcoin tetap mengalami penurunan. Trader dan penulis Vince Stanzione menyatakan bahwa kenyataan pahit adalah bitcoin memiliki utilitas yang sangat terbatas, sehingga tidak mampu mendorong kenaikan nilai jangka panjang.

Pertanyaan Tentang Nilai Intrinsik Bitcoin

Masalah utama adalah bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik yang jelas. Ia tidak menghasilkan pendapatan, terlalu fluktuatif untuk digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari, dan gagal menyaingi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakstabilan geopolitik atau risiko devaluasi mata uang fiat. Tanpa argumen baru yang kuat, sulit bagi para pendukung bitcoin untuk meyakinkan investor agar terus membeli dan meningkatkan harga.

Panduan untuk Investor yang Berminat Membeli

  1. Pahami risiko tinggi dan sifat spekulatif bitcoin.
  2. Gunakan strategi pembelian bertahap seperti dollar-cost averaging.
  3. Pantau perubahan regulasi dan berita terkait pasar kripto.
  4. Jangan berharap bitcoin menghasilkan pendapatan atau dividen.
  5. Evaluasi tujuan investasi, apakah untuk jangka panjang atau trading jangka pendek.

Penurunan harga bitcoin ke titik terendah sejak awal tahun ini membuka peluang sekaligus risiko bagi investor. Memahami karakteristik unik bitcoin dan menerapkan strategi yang tepat sangat penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Meskipun harganya kini lebih murah, potensi keuntungan besar tetap disertai dengan volatilitas yang signifikan.

Berita Terkait

Back to top button