Gerakan “QuitGPT” tengah ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Banyak orang berencana membatalkan langganan ChatGPT setelah munculnya kampanye yang menyerukan penghentian penggunaan layanan ini. Kampanye ini pertama kali ramai di Reddit, di mana para pengguna mengajak sesama pengguna untuk menghapus aplikasi ChatGPT dari perangkat mereka.
Salah satu alasan utama tren “QuitGPT” adalah adanya dugaan kontribusi dana dari Greg Brockman, Presiden OpenAI, kepada Super PAC Presiden Trump, MAGA Inc. Hal ini memicu ketidakpuasan di kalangan sejumlah pengguna yang tidak setuju dengan afiliasi politik tersebut. Selain itu, pengguna juga menyoroti penggunaan teknologi ChatGPT-4 oleh lembaga imigrasi AS (ICE) dalam proses penyaringan lamaran kerja, yang kerap dianggap kontroversial.
Alasan Pengguna Membatalkan Langganan
Sebagian pengguna menyatakan ketidakpuasan terhadap kualitas dan performa ChatGPT versi terbaru, terutama model GPT-5.2. Kritik ini muncul di tengah keluhan soal penurunan kualitas layanan chatbot. Selain alasan politis, keluhan teknis pun menjadi pendorong beberapa pengguna untuk meninggalkan platform tersebut. Misalnya, Alfred Stephen, pengembang perangkat lunak lepas dari Singapura, mengatakan, “Itu benar-benar menjadi titik balik bagiku,” menyangkut donasi Brockman kepada rezim yang dianggapnya problematic.
Selain itu terdapat rencana untuk mengadakan “pesta pembatalan massal,” sebuah aksi komunitas untuk secara serentak membatalkan langganan. Ini menunjukkan besarnya gelombang protes yang dirasakan sebagian pengguna. Kampanye “QuitGPT” bukan sekadar wacana di Reddit, tetapi juga merambah ke platform lain seperti Instagram.
Perkembangan Kampanye di Media Sosial
Halaman Instagram khusus bernama Quit GPT mendapat dukungan dari beberapa figur publik, termasuk aktor dan aktivis Mark Ruffalo. Dalam salah satu postingannya tertulis ajakan untuk “memboikot ChatGPT” dan mengajak para seniman yang menentang AI untuk bergabung dalam gerakan tersebut. Postingan ini sudah meraih lebih dari 1,5 juta likes dan ribuan komentar.
Data yang diklaim oleh penyelenggara kampanye menyebutkan lebih dari 17.000 orang telah mendaftar di situs quitgpt.org. Para pendaftar berkomitmen untuk membatalkan langganan ChatGPT dan menyebarkan pesan kampanye kepada teman serta keluarga mereka. Mereka berharap gerakan ini bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap bisnis layanan AI tersebut.
Dampak dan Analisis Sosial
Menurut Dana Fisher, seorang sosiolog dari American University, kampanye semacam ini memang jarang berhasil total. Namun, kampanye seperti “QuitGPT” tetap bisa memberikan tekanan tertentu jika konsumen benar-benar menggunakan keuangan mereka untuk menyuarakan opini politik. Dengan kata lain, aspek ekonomi dari tindakan membatalkan langganan akan menjadi “titik tekanan” yang berpotensi efektif.
Gerakan seperti “QuitGPT” memperlihatkan bagaimana isu politik dan sosial semakin menyatu dengan teknologi digital. Ini juga mencerminkan sensitivitas pengguna terhadap latar belakang perusahaan penyedia layanan. Dalam konteks ini, pemilihan teknologi chatbot bukan hanya soal fungsi, tetapi juga nilai dan integritas perusahaan di balik produk.
Langkah-Langkah yang Bisa Diambil Pengguna
- Mengevaluasi alasan pribadi untuk membatalkan langganan ChatGPT, baik terkait politik maupun kepuasan pengguna.
- Mencari alternatif aplikasi chatbot yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan.
- Bergabung dengan komunitas seperti “QuitGPT” agar suara protes lebih terorganisir.
- Memantau perkembangan kampanye dan dampak yang terjadi pada penyedia layanan AI.
- Menyebarkan informasi yang akurat agar keputusan pembatalan langganan berdasar pada fakta terpercaya.
Gerakan “QuitGPT” menunjukkan dinamika baru dalam interaksi antara pengguna dengan teknologi AI. Ini menjadi pengingat bahwa teknologi juga menghadapi tuntutan transparansi dan tanggung jawab sosial. Tren ini diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan dampak teknologi dalam ranah sosial dan politik.





