Bitcoin Tetap Ikuti Siklus 4 Tahun, Koreksi Terbaru Perkuat Pola Historis dan Prediksi 2026

Bitcoin baru-baru ini mengalami penurunan harga signifikan dari puncak siklus di kisaran $126.000 ke rentang $60.000–$70.000. Penurunan ini berarti koreksi sekitar 52%, yang sempat mengguncang sentimen pasar.

Namun, laporan dari Kaiko Research menegaskan bahwa koreksi ini justru memperkuat pola siklus empat tahunan Bitcoin, bukan mengganggu pola tersebut. Fenomena ini penting bagi para trader dan investor yang mempersiapkan strategi menghadapi volatilitas Bitcoin dalam waktu mendatang.

Siklus Empat Tahun Bitcoin dan Penyesuaian Harga

Sejarah menunjukkan Bitcoin selalu mengalami puncak harga sekitar 12 hingga 18 bulan setelah peristiwa halving. Halving sendiri terakhir terjadi pada April. Pada fase pasca-halving, harga Bitcoin biasanya melonjak tinggi dalam masa euforia sebelum memasuki fase korektif atau pasar bearish.

Koreksi yang terjadi di awal tahun ini sesuai dengan pola historis yaitu penurunan harga antara 50-80% setelah puncak siklus. Kaiko menegaskan bahwa penurunan dari $126.000 ke sekitar $60.000 mengikuti pola ini dengan konsisten.

Pengaruh Faktor Baru di Siklus Terbaru

Beberapa pakar sempat meragukan keberlanjutan siklus empat tahun dan mengklaim bahwa Bitcoin kini mengikuti siklus lima tahun. Mereka menyoroti pengaruh likuiditas global, regulasi, dan partisipasi institusional yang makin signifikan. Arthur Hayes, misalnya, menyatakan global liquidity sebagai faktor utama pergerakan harga sekarang.

Meski begitu, Kaiko mengakui adanya perubahan struktural seperti adopsi spot Bitcoin ETF, regulasi yang lebih jelas, serta ekosistem DeFi yang lebih matang. Faktor-faktor ini tidak menghilangkan pola koreksi pasca puncak, melainkan mengubah cara volatilitas muncul di pasar.

Dampak Likuiditas Institusional dan Penjualan Spot Bitcoin ETF

Penjualan besar dana spot Bitcoin ETF mencapai lebih dari $2,1 miliar selama aksi jual beberapa waktu lalu. Ini menunjukkan bahwa akses institusional memang meningkatkan likuiditas, namun juga memperlebar tekanan penurunan harga jika terjadi penarikan besar.

DeFi yang tadinya lebih tahan banting terhadap tekanan pasar kini ikut mengalami penurunan Total Value Locked (TVL) dan berkurangnya arus staking. Regulasi yang lebih jelas ternyata belum mampu memisahkan risiko kripto dari gejolak makroekonomi, seperti ketidakpastian kebijakan bank sentral.

Indikasi Titik Dasar Pasar dan Gambaran Masa Depan

Bitcoin sempat melakukan rebound intraday dari $60.000 ke $70.000, menandakan kemungkinan terbentuknya level support awal. Namun, jika melihat sejarah, masa bearish biasanya berlangsung enam sampai 12 bulan, dengan beberapa kali percobaan rally yang gagal sebelum dasar pasar benar-benar kuat.

Data lain menunjukkan dominasi stablecoin sekitar 10,3%, dan tingkat pendanaan (funding rates) menyusut hampir ke nol. Open interest futures turun sekitar 55%, menandakan proses deleveraging besar-besaran. Meski demikian, tahap kapitulasi pasar saat ini masih belum jelas apakah memasuki fase awal, tengah, atau akhir.

Rangkuman Sejarah dan Prediksi Siklus

Menurut Kaiko, siklus empat tahun memprediksi bahwa harga seharusnya sudah berada pada posisi sekitar 30% dari puncak, dan kondisi pasar saat ini meniru pola siklus sebelumnya. Banyak pelaku pasar sempat meyakini kondisi kali ini berbeda, tapi data menunjukkan sebaliknya.

Seiring berjalannya waktu hingga awal 2026, perkembangan harga Bitcoin akan memperlihatkan apakah sejarah akan terulang lagi atau kalau pola siklus ini mulai bergeser ke rezim pasar yang baru. Investor dan trader perlu mencermati kedua kemungkinan tersebut untuk menyesuaikan strategi dalam menghadapi perubahan pasar yang mungkin terjadi.

Berita Terkait

Back to top button