Ramai-ramai Stop Pakai ChatGPT, Ini Alasan Utama Kampanye QuitGPT dan Hubungan OpenAI dengan Pemerintah AS

Pengguna ChatGPT ramai-ramai berhenti berlangganan chatbot yang dikembangkan OpenAI. Kampanye ini muncul bukan hanya akibat kekecewaan pada performa ChatGPT, tetapi juga karena kontroversi hubungan OpenAI dengan pemerintahan Amerika Serikat.

Kampanye bernama QuitGPT dimulai oleh pengembang perangkat lunak asal Singapura, Alfred Stephen. Ia awalnya membeli langganan ChatGPT Plus seharga US$20 per bulan, namun merasa kecewa dengan kemampuan chatbot yang buruk dalam pengkodean serta respons yang bertele-tele.

Alasan Utama di Balik Gerakan QuitGPT

Stephen mengungkapkan bahwa alasan utamanya bukan hanya karena kekecewaan teknis, melainkan bukti hubungan antara OpenAI dan pemerintah AS yang menjadi pemicu. Greg Brockman, Presiden OpenAI, tercatat memberikan sumbangan melalui Political Action Committee (PAC) MAGA Inc guna mendukung kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden 2024.

Selain itu, OpenAI diduga memfasilitasi penggunaan ChatGPT-4 untuk alat penyaringan resume oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) AS. Hubungan ini semakin memicu kontroversi, terutama menjelang kasus penembakan fatal oleh salah satu agen lembaga tersebut di Minneapolis.

Stephen menyatakan, "Itu benar-benar pemicu terakhir," saat menjelaskan alasan berhenti langganan. Ia juga menuliskan dalam survei pembatalan, agar OpenAI “tidak mendukung rezim fasis.”

Dukungan dan Dampak Kampanye

Kampanye QuitGPT ternyata mendapat respons luas. Sampai kini, lebih dari 17 ribu orang telah mendaftar di situs resmi kampanye. Di media sosial, terutama Instagram, postingan terkait kampanye ini sudah ditonton 36 juta kali dan mendapat 1,3 juta likes.

Gerakan ini bukan satu-satunya yang menyerukan penghentian penggunaan ChatGPT. Ada pula seruan pembatalan massal di San Francisco dan meme sindiran terkait perkembangan versi terbaru GPT, bahkan sampai isu rencana “pemakaman GPT-40.”

Kritik Terhadap ChatGPT dari Pengguna

Selain alasan politik, sejumlah pengguna juga mengeluhkan masalah internal ChatGPT. Mulai dari kualitas balasan yang dianggap klise dan bertele-tele hingga keterbatasan dalam penerapan kode pemrograman. Kekecewaan ini turut memperkuat gelombang penolakan serta pembatalan langganan.

Persepsi Masyarakat Terhadap Integritas OpenAI

Keterlibatan pamimpin OpenAI dalam donasi politik dan hubungan dengan lembaga pemerintah AS menimbulkan pertanyaan seputar independensi dan etika pengembangan teknologi AI ini. Hal tersebut menjadi perhatian serius bagi para pengguna yang menginginkan teknologi bebas dari pengaruh politik atau agenda tertentu.

Faktor Pemicu Lainnya

Kasus penembakan fatal oleh agen pemerintah yang menggunakan teknologi berbasis ChatGPT, menjadi salah satu alasan moral bagi pengguna untuk melakukan aksi boikot. Pengguna merasa bahwa kehadiran AI seharusnya membantu kemanusiaan, bukan berkontribusi pada situasi kontroversial dan ketegangan sosial.

Data Penting Mengenai Kampanye QuitGPT:

  1. Pembatalan langganan karena kekecewaan performa teknis dan isu etika OpenAI.
  2. Pengembang Alfred Stephen memulai kampanye sebagai bentuk protes.
  3. Greg Brockman dari OpenAI mendukung kampanye politik yang kontroversial.
  4. Layanan pemerintah AS menggunakan ChatGPT-4 untuk penyaringan resume.
  5. Isu penembakan fatal oleh agen pemerintah menjadi pemicu tambahan.
  6. Kampanye berhasil menarik 17 ribu pendaftar dan jutaan views di media sosial.

Gerakan QuitGPT menjadi sinyal baru bagi industri teknologi dan pengguna tentang pentingnya transparansi dan etika di balik pengembangan AI. Tidak hanya kualitas produk, latar belakang dan afiliasi perusahaan pengembang kini menjadi faktor krusial bagi konsumen.

Masa depan penggunaan ChatGPT dan layanan sejenis tampak dipengaruhi oleh bagaimana OpenAI merespons kritik dan mengelola hubungan politiknya. Pengguna menuntut akuntabilitas yang lebih jelas serta perbaikan dalam teknologi agar tetap relevan dan dipercaya oleh masyarakat luas.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com

Terkait