Relooted merupakan sebuah permainan heist yang menggabungkan elemen perencanaan pencurian dengan misi pengembalian artefak budaya Afrika yang dicuri selama masa kolonial. Permainan ini berlatar pada masa depan fiksi di mana dunia akhirnya menyepakati perjanjian internasional untuk mengembalikan artefak yang diambil secara tidak sah ke negara asalnya. Namun, klausul khusus yang hanya mencakup artefak yang "dipajang secara publik" membuat museum dan koleksi pribadi di Barat masih bisa menyimpan barang-barang tersebut secara tersembunyi.
Dalam Relooted, pemain mengendalikan sekelompok pejuang yang terdiri atas seorang mantan atlet parkour, nenek mantan profesor sejarah, seorang ahli keamanan, dan beberapa teman mereka. Mereka memutuskan untuk mencuri kembali artefak tersebut dari koleksi tertutup dengan strategi yang matang dan kecepatan tinggi. Setiap misi heist dalam game terbagi menjadi tiga tahap utama: pengintaian area dengan drone dan infiltrasi menggunakan parkour, penempatan jebakan serta posisi keamanan untuk mengamankan jalur pelarian, dan tahap terakhir yaitu pencurian artefak disertai pelarian cepat.
Mekanisme permainan menawarkan kombinasi puzzle yang melibatkan penempatan benda-benda untuk memblokir pintu pengaman, pemecahan kaca anti peluru demi membuka akses, serta koordinasi anggota tim untuk membangun rute pelarian yang aman. Meskipun beberapa momen pelarian terasa menantang karena terbatasnya pandangan kamera, animasi parkour yang halus memberikan sensasi momentum yang memuaskan bagi pemain saat menikmati aksi kejar-kejaran tersebut.
Meski gameplay-nya menyenangkan, nilai unik Relooted lebih terletak pada aspek edukatifnya. Setelah misi, pemain dapat mengakses penjelasan mendalam mengenai artefak yang berhasil direbut dan konteks sejarahnya yang sesungguhnya. Relooted menghadirkan 70 artefak yang bisa direbut, masing-masing dengan cerita historis nyata tentang bagaimana benda-benda tersebut disita dari Afrika selama era kolonialisme dan perang.
Contoh artefak yang sejarahnya diulas dengan rinci mencakup Bangwa Queen, sebuah patung yang diambil oleh pasukan kolonial Jerman saat mereka memperluas kontrol militer atas wilayah jajahan pada awal abad ke-20. Lalu ada Asante Gold Mask yang diambil oleh tentara Inggris saat menyerbu kota Kumasi pada 1874 dan kini disimpan di Wallace Collection, London. Bahkan, permainan ini membahas kisah tragis tengkorak Mangi Meli, seorang pemimpin yang dieksekusi rezim kolonial dan sisa-sisa tubuhnya dikirim ke Eropa untuk penelitian frenologi yang kini hilang.
Relooted tidak hanya menyoroti praktik kolonialisme dan pencurian budaya dengan akurat, tetapi juga menyuguhkan narasi yang cerah dan hangat. Para anggota tim pencuri diberi karakter yang hidup, dengan interaksi yang terasa seperti keluarga atau teman dekat, bukan sekadar kumpulan profesional dingin layaknya permainan heist kebanyakan. Kostum mereka penuh warna, mencerminkan semangat dan keberanian dalam misi besar ini.
Dinamika kelompok dalam Relooted jauh dari stereotip “pakar tanpa emosi” atau dialog penuh sarkasme tidak berujung. Mereka didekati secara humanis, menunjukkan empati dan solidaritas dalam perjuangan mengembalikan warisan budaya yang pernah dirampas. Hal ini membuat proses repatriasi artefak terasa lebih bermakna dan memberi penghormatan pada nilai budaya dan sejarah Afrika.
Berikut ini rangkuman elemen penting dalam Relooted:
- Tiga Fase Misi: Pengintaian, pengaturan pengamanan, dan pelarian.
- Penggunaan Parkour: Memudahkan infiltrasi dan pelarian.
- Narasi Sejarah: Cerita artefak bercermin pada fakta kolonialisme Afrika.
- Interaksi Karakter: Hubungan hangat antar anggota tim, terasa seperti keluarga.
- Visual Warna-warni: Kontras dengan misi serius yang dijalankan.
- Konteks Edukasi: Memperlihatkan skala dan dampak penjajahan lewat objek budaya.
Relooted bukan sekadar permainan pencurian biasa. Ia mengangkat isu lama pencurian artefak budaya Afrika ke panggung global dan mengubahnya menjadi pengalaman bermain yang kaya makna. Dengan cara ini, pemain diajak memahami sejarah kolonial secara mendalam, sekaligus merasakan keseruan strategi, kerja tim, dan aksi parkour dalam satu paket. Permainan ini menjadi contoh bagaimana medium video game dapat berfungsi sebagai alat pendidikan budaya yang efektif dan menginspirasi.
