Robinhood (HOOD) baru-baru ini menunjukkan rebound harga saham sebesar hampir 23% sejak terendah pada 5 Februari di kisaran $71. Meski terlihat seperti pemulihan yang kuat, kondisi pasar yang lebih luas justru mengindikasikan risiko penurunan harga hingga 40%. Faktor utama yang membebani adalah lemahnya aktivitas di segmen kripto dan tekanan teknis yang terus meningkat, meskipun perusahaan mencatat kinerja keuangan yang solid.
Pada tahun keuangan terakhir, Robinhood berhasil mencatat pendapatan tahunan sekitar $4,5 miliar, naik lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih mencapai hampir $1,9 miliar dengan peningkatan pendapatan kuartal keempat sebesar 27%. Pertumbuhan signifikan tercatat pada perdagangan opsi, pendapatan bunga, serta langganan Gold. Hal ini menandakan bisnis inti Robinhood mulai lebih beragam dan stabil, tidak hanya bergantung pada saham meme dan perdagangan kripto.
Lemahnya Pendapatan dari Kripto Jadi Pendorong Penurunan
Meski kinerja keuangan mengesankan, kontribusi pendapatan dari kripto justru turun 38% menjadi sekitar $221 juta secara tahunan. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh melemahnya harga Bitcoin dan volume perdagangan yang menyusut. Pendapatan kripto yang masih memegang porsi besar membuat total pendapatan keseluruhan terdampak negatif. Pendapatan kuartal keempat juga meleset dari perkiraan analis sekitar $50 juta, yang menjadi fokus pasar usai pengumuman hasil laba.
Merespons hal itu, harga saham Robinhood anjlok sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam kerja. Dari sisi teknikal, harga saham turun di bawah channel penurunan sejak 2 Februari, memicu breakdown hampir 30%. Penurunan ini mengindikasikan tekanan jual yang kuat dan kerentanan rebound yang terlihat setelahnya karena berada dalam tren turun jangka panjang.
Tekanan dari Aliran Dana dan Risiko Teknis
Indikator aliran uang seperti Chaikin Money Flow (CMF) menunjukkan bahwa investor besar masih bersikap hati-hati. CMF Robinhood saat ini berada di zona negatif dan gagal menembus garis nol selama kenaikan 23%, mengindikasikan minimnya dukungan dari investor besar yang biasanya memicu reli harga berkelanjutan.
Selain itu, risiko “death cross” mulai mengancam. Ini terjadi ketika Exponential Moving Average (EMA) 50 hari turun di bawah EMA 200 hari, sinyal pelemahan tren jangka panjang. Dua crossover bearish telah terjadi pada akhir Januari dan awal Februari, yang langsung diikuti penurunan harga hampir 30%. Jika crossover ketiga terjadi, tekanan jual bisa semakin intens.
Di sisi positif, indikator On-Balance Volume (OBV) menampilkan pola higher lows sejak September walaupun harga saham membuat lower lows. Hal ini mengindikasikan adanya pembelian oleh investor ritel, meski peran beli ini masih relatif kecil dibanding kekuatan pasar dari investor besar. Jika kelemahan kripto berlanjut, dukungan dari investor ritel kemungkinan juga akan melemah.
Struktur Harga yang Bertahan Dalam Tren Bearish
Sejak Oktober, Robinhood berkutat dalam channel turun yang mengindikasikan tekanan jual yang terkontrol namun berkelanjutan. Pola channel ini kini membentuk garis paralel baru berpotensi mendorong harga turun lebih dari 40% apabila level support di $71 tembus. Jika harga di bawah $71, level support berikutnya berada di kisaran $55.
Sebaliknya, agar bisa memperbaiki struktur harga jangka pendek, Robinhood perlu menembus resistance di level $87 dan kemudian $98. Target resistance utama berikut adalah $107 dan $119 yang menjadi penghalang berat kenaikan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, meski Robinhood membukukan kinerja finansial kuat dan melakukan diversifikasi produk dengan peluncuran testnet Robinhood Chain berbasis Ethereum Layer 2, risiko dari segmen kripto yang melemah sangat membebani prospek harga sahamnya. Tekanan teknis serta minimnya dukungan dominan dari investor institusi berpotensi melanjutkan tren penurunan dalam waktu dekat. Pemantauan ketat terhadap level support dan resistance menjadi kunci untuk mengantisipasi pergerakan HOOD ke depan.





