
Saham Robinhood (HOOD) jatuh sekitar 10% pada perdagangan awal setelah melaporkan pendapatan kuartal keempat yang mengecewakan. Penurunan signifikan dalam volume perdagangan aset kripto menjadi faktor utama yang menekan hasil keuangan perusahaan tersebut.
Perusahaan yang dikenal sebagai aplikasi perdagangan populer ini melaporkan laba per saham sebesar $0,66, yang sebenarnya mengungguli ekspektasi analis sebesar $0,63. Namun, pendapatan total mencapai $1,28 miliar, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar $1,33 miliar.
Dampak Penurunan Perdagangan Kripto pada Pendapatan Robinhood
Pendapatan dari transaksi kripto turun drastis hingga 38% secara tahunan, hanya mencapai $221 juta. Penurunan ini disebabkan oleh koreksi pasar aset digital di akhir tahun yang mempengaruhi aktivitas perdagangan para pengguna Robinhood.
Selain itu, pendapatan dari transaksi secara keseluruhan tercatat sebesar $776 juta, juga lebih rendah dari ekspektasi pasar. Pendapatan bunga bersih sebesar $411 juta tidak mampu memenuhi perkiraan, tertekan oleh melemahnya aktivitas pinjaman sekuritas dan turunnya tingkat imbal hasil.
Reaksi Analis dan Perubahan Target Harga Saham
Bank investasi JPMorgan menurunkan target harga saham Robinhood dari $130 menjadi $113 sambil mempertahankan rekomendasi netral. Mereka menyoroti bahwa tantangan persaingan yang lebih ketat pada 2025 akan menaikkan standar kinerja untuk tahun berikutnya. Target ini masih mengindikasikan potensi kenaikan harga saham sebesar lebih dari 50% dari harga saat ini yang berada di level $76,50.
Di sisi lain, analis dari Compass Point, Ed Engel, mempertahankan rekomendasi beli meskipun memangkas target harga Robinhood dari $170 menjadi $127. Engel mencatat indikator kinerja utama (KPI) Robinhood pada bulan Januari menunjukkan momentum yang cukup baik di semua segmen, termasuk volume perdagangan kripto yang lebih kuat dari perkiraan.
Namun, EBITDA mengalami kekurangan sekitar 9%, disebabkan oleh penurunan pinjaman sekuritas dan berkurangnya tarif pengambilan (take rates) dalam perdagangan kripto dan opsi. Hal ini membuat hasil keuangan secara keseluruhan menjadi kurang optimal.
Strategi Pengembangan dan Tantangan di Tahun Mendatang
Engel menyoroti panduan pengeluaran operasional Robinhood yang diproyeksikan tumbuh sebesar 18% pada 2026. Investasi ini akan digunakan untuk memperluas produk di bidang kripto, keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan pasar prediksi. Investasi tersebut diharapkan memberikan hasil positif pada paruh kedua tahun 2026.
Pengeluaran yang meningkat dapat menekan laba dalam jangka pendek, sehingga membuat investor untuk sementara mungkin mengurangi ekspektasi EBITDA. Seiring waktu, pengembalian investasi diharapkan mulai terlihat dan dapat mengembalikan sentimen positif terhadap saham Robinhood.
Faktor Penguat Jangka Panjang dan Risiko yang Perlu Diperhatikan
Beberapa faktor yang dinilai potensial menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang bagi Robinhood meliputi pengembangan pasar prediksi internal, kemungkinan peningkatan pengguna terkait peristiwa politik seperti pemilu, serta potensi mega-IPO dari perusahaan besar seperti SpaceX, Anthropic, atau OpenAI.
Namun, Engel juga mencermati penurunan tarif pengambilan untuk perdagangan kripto sebesar 3 basis poin pada kuartal terakhir dan penurunan tambahan 5 basis poin di awal tahun. Penurunan ini terjadi karena semakin banyak trader dengan volume besar mendominasi aktivitas perdagangan.
Dengan kondisi tersebut, Robinhood menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan pendapatan sambil mengelola pengeluaran yang meningkat. Analisis terbaru menunjukkan bahwa perusahaan ini masih memiliki peluang untuk bangkit, tergantung kemampuan mereka dalam merealisasikan pengembangan produk baru dan menavigasi dinamika pasar yang volatil.





