Crypto Over-the-Counter (OTC) desks kini mendapat sorotan tajam dari Joint Chiefs of Global Tax Enforcement (J5). J5 menyatakan bahwa layanan OTC dan pemroses pembayaran kripto kerap dimanfaatkan untuk menyembunyikan dan memindahkan dana yang terkait aktivitas kriminal.
J5 merupakan gabungan lembaga pengawas pajak dari Australia, Kanada, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris. Mereka memperkirakan volume perdagangan harian OTC mencapai $1,44 miliar, jauh lebih besar dibandingkan $74,5 juta pada bursa kripto konvensional. Hal ini menunjukkan peran signifikan OTC sebagai sarana transaksi kripto bernilai besar.
Menurut J5, OTC desks menawarkan anonimitas dan keandalan bagi klien yang ingin memindahkan dana atau cryptocurrency dalam jumlah besar. Kondisi ini memungkinkan OTC menjadi alat penyamaran yang menguntungkan pelaku penghindaran pajak dan pencucian uang. Hingga kini, sebanyak hampir $236 miliar aktivitas mencurigakan terkait OTC telah dilaporkan ke Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN).
J5 juga mengungkap lonjakan laporan aktivitas mencurigakan pada pemroses pembayaran kripto, meningkat lebih dari 1.000% sejak 2020 hingga 2024. Total nilai yang dilaporkan sebesar $5 miliar mengindikasikan adanya potensi penyalahgunaan sistem pembayaran kripto untuk melancarkan kejahatan keuangan.
Risiko dan Tantangan Pengawasan OTC Desks
OTC desks biasanya digunakan oleh individu dan perusahaan dengan aset besar yang enggan melakukan transaksi di bursa terbuka. Namun, J5 memperingatkan bahwa sebagian besar transaksi di OTC sulit dipantau oleh aparat penegak hukum. Banyak OTC desks tidak teridentifikasi secara jelas dalam alat analisis blockchain komersial yang tersedia saat ini.
Karena ketidakjelasan identitas ini, sebagian besar OTC desks tidak melaporkan aktivitas mencurigakan yang terjadi. Akibatnya, mereka bisa menjadi jalur tambahan bagi pelaku kejahatan untuk mencuci dana hasil tindak pidana ke dalam sistem keuangan konvensional.
Peran Pemroses Pembayaran Kripto dalam Aktivitas Mencurigakan
Selain OTC, pemroses pembayaran kripto juga menjadi sorotan karena semakin banyak aktivitas terindikasi ilegal. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan barang mewah seperti dealer mobil Rolls-Royce, Bentley, Ferrari, serta broker kapal pesiar dan perusahaan properti mulai menerima pembayaran dengan cryptocurrency.
J5 menilai kemampuan mengkonversi kripto untuk membeli barang mewah sangat menarik bagi para pelaku penghindaran pajak dan pencucian uang. Transaksi semacam ini berpotensi menjadi “off-ramp” yang efektif bagi dana yang diperoleh dari aktivitas ilegal agar tampak sah di pasar barang mewah.
Langkah Regulasi dan Penegakan Hukum
Beberapa negara mulai mengambil tindakan terhadap potensi penyalahgunaan OTC desks. Contohnya, otoritas Hong Kong merancang aturan baru yang mewajibkan kepatuhan terhadap Anti-Money Laundering and Counter-Terrorist Financing Ordinance (AMLO). Regulasi ini muncul setelah adanya operasi OTC di wilayah tersebut yang nyaris tanpa pengawasan ketat.
Kasus runtuhnya bursa kripto JPEX, yang memanfaatkan influencer untuk mempromosikan OTC fisik, membuat regulasi menjadi semakin mendesak. Pemerintah juga membatasi aktivitas OTC dalam kerangka lisensi stablecoin karena penggunaan USDT dalam banyak transaksi OTC.
Di sisi lain, OTC desks yang dijalankan oleh bursa besar melakukan serangkaian langkah untuk mengantisipasi aliran dana ilegal. Menurut Haider Rafique, Global Managing Partner dan CMO OKX, teknik yang digunakan meliputi penerapan KYC/AML secara ketat, pemantauan blockchain secara real-time, serta kerjasama erat dengan regulator untuk mengidentifikasi dan membekukan aliran mencurigakan.
Ia menegaskan bahwa membangun kepercayaan dalam dunia kripto memerlukan penindakan tegas terhadap pelaku kejahatan yang memanfaatkan saluran OTC. OKX dan beberapa bursa lain mendukung penuh upaya penegakan hukum guna menekan aktivitas kripto ilegal, terutama yang memanfaatkan OTC sebagai alat penyamaran.
Fakta Penting Mengenai OTC dan Pemroses Pembayaran Kripto
- Volume transaksi OTC hariannya mencapai $1,44 miliar, jauh melebihi perdagangan di bursa konvensional.
- Aktivitas mencurigakan terkait OTC yang dilaporkan ke FinCEN mencapai hampir $236 miliar.
- Laporan aktivitas mencurigakan pada pemroses pembayaran kripto melonjak lebih dari 1.000% antara 2020 sampai 2024.
- Beberapa perusahaan barang mewah kini menerima pembayaran kripto, memungkinkan pelarian dana hasil kejahatan ke sektor barang mewah.
- Regulasi baru mulai diterapkan di beberapa negara untuk mengawasi OTC dan pemroses pembayaran kripto secara lebih ketat.
Perkembangan ini menggarisbawahi tantangan serius dalam pengawasan transaksi kripto berjumlah besar yang berlangsung di luar bursa. Penyalahgunaan OTC desks sebagai alat untuk penghindaran pajak dan pencucian uang terus menjadi perhatian utama otoritas global. Pemantauan dan regulasi yang lebih ketat diharapkan dapat menutup celah tersebut dan memperkuat integritas ekosistem cryptocurrency.
