
Bitcoin saat ini menunjukkan sinyal yang biasanya muncul pada titik balik besar dalam siklus harga sebelumnya. Namun, para ahli menegaskan bahwa sinyal tersebut belum mengindikasikan dasar harga yang kuat dan tahan lama.
Beberapa indikator on-chain yang dipantau oleh CryptoQuant menandakan pasar masih berada di posisi yang sulit. Posisi ini antara koreksi tengah siklus dan reset pasar yang lebih dalam.
Indikator seperti kapitulasinya pemegang jangka panjang (Long-Term Holder/LTH), Market Value to Realized Value (MVRV), Net Unrealized Profit/Loss (NUPL), dan persentase suplai dalam posisi untung, semua menunjukkan status “no man’s land”. Kondisi ini menempatkan pasar di antara fase koreksi menengah dan penyesuaian keseluruhan yang lebih berat.
CryptoQuant mencatat bahwa pada masa bottoms fase bear market sebelumnya, pemegang jangka panjang mengalami kerugian margin sekitar 30% hingga 40%. Saat ini, keuntungan pemegang jangka panjang telah turun dari 142% menjadi sekitar titik impas. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi kapitulasinya yang kuat.
Ryan Lee, analis utama di Bitget, menyatakan bahwa pasar kemungkinan besar belum mengonfirmasi titik terbawah secara makro. Likuiditas pasar masih ketat dan aset berisiko tetap sensitif terhadap data ekonomi makro. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya penurunan akhir, khususnya jika pasar saham mengalami pelemahan.
Nilai MVRV Z-score juga belum mencapai kisaran jenuh jual antara -0,4 hingga -0,7, yang secara historis menandai pembentukan titik bawah. Indikator NUPL berada di sekitar 0,1, sementara harga biasanya turun ke titik terendah saat pemegang aset mengalami kerugian tak terealisasi sekitar 20%.
Perusahaan keuangan tradisional seperti Goldman Sachs dan Standard Chartered juga memprediksi tren bearish pada Bitcoin. Mereka memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak di kisaran $50.000 hingga $58.000 dalam waktu dekat.
Para trader kini menantikan data inflasi terbaru yang rilisannya sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan. Kenaikan inflasi yang mengejutkan dapat memperkuat kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka panjang. Hal ini berpotensi menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Kondisi makro yang penuh ketidakpastian membuat para investor Bitcoin menghadapi sinyal-sinyal yang bertentangan. Namun, tidak semua analis pesimistis terhadap perkembangan pasar saat ini.
Sean McNulty, kepala trading derivatif wilayah APAC di FalconX, menggarisbawahi bahwa Crypto Fear & Greed Index turun drastis ke level 11/100, yang menandakan panik hebat dan potensi kelelahan para penjual.
Berbeda dengan crash pada 2022 yang disebabkan oleh kemunduran sistemik seperti kejatuhan FTX, penurunan harga saat ini didorong oleh perubahan makroekonomi dan krisis likuiditas. Tidak adanya kejadian besar yang merusak secara sistemik memberi harapan pasar sedang menjalani proses penyesuaian institusional yang normal, walau menyakitkan.
McNulty juga menyebutkan bahwa Bitcoin sempat menguji level dukungan psikologis di $60.000 pekan lalu. Setelah itu, terjadi lonjakan harga cepat sebesar 19% hanya dalam 24 jam. Lonjakan ini dikaitkan dengan titik jenuh penjualan (capitulation) pada sentimen sosial.
Data tambahan memperlihatkan rekor aliran masuk harian sebesar 66.940 BTC ke alamat-akun akumulasi. Hal ini menjadi indikasi bahwa para whale institusional sedang aktif melindungi kisaran $60.000 hingga $62.000 sebagai zona support kunci.
Dengan MVRV Z-score yang turun ke angka 1,2, kondisi pasar menunjukkan Bitcoin sudah sedang diperdagangkan pada nilai mendalam (deep value). Ini menyiratkan ruang untuk penurunan tajam di bawah biaya realisasi $55.000 sangat terbatas.
Secara keseluruhan, meski Bitcoin memberikan sinyal-sinyal yang sering muncul di titik balik pasar sebelumnya, tanda-tanda penentuan harga rendah yang pasti belum terlihat. Pasar tetap menghadapi risiko koreksi lebih lanjut, terutama terkait dinamika makroekonomi dan sentimen investor.





