NASA Ungkap Ancaman Kiamat: Jakarta Tenggelam 17 cm per Tahun akibat Kenaikan Permukaan Air Laut

NASA memperingatkan kenaikan permukaan air laut global yang signifikan, yakni antara 0,9 hingga 1,8 meter hingga akhir abad ini. Peningkatan ini disebabkan oleh pencairan es di wilayah kutub akibat perubahan iklim, yang dapat menyebabkan ratusan juta orang di dunia kehilangan tempat tinggal.

Salah satu wilayah yang paling terancam adalah Jakarta. Kota ini merupakan salah satu yang tercepat tenggelam di dunia karena lokasinya yang berada di dataran rendah bekas rawa dan berhimpitan dengan Laut Jawa. Permukaan air di Jakarta naik sekitar 17 cm per tahun, sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan.

Ancaman Banjir dan Dampak Sosial
Fenomena banjir yang semakin sering terjadi di Jabodetabek dan Jawa, termasuk banjir parah di Bekasi, merupakan tanda awal kerusakan lingkungan lebih besar. Banjir besar 2007 di Jakarta pernah mengakibatkan 80 kematian dan kerugian finansial hingga ratusan juta dolar. Problematika ini menjadi salah satu alasan utama pemindahan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

IKN yang diperkirakan selesai sepenuhnya pada 2045, diproyeksikan menjadi pelarian bagi penduduk Jakarta yang menghadapi risiko tenggelam. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi konsekuensi sosial dan ekonomi dari kerusakan lingkungan yang berkelanjutan.

Kota-kota Dunia dalam Daftar Merah
Selain Jakarta, beberapa kota besar dunia juga menghadapi ancaman serupa akibat naiknya permukaan laut dan bencana terkait:

  1. Alexandria, Mesir – Potensi kehilangan 30% wilayah pada 2050.
  2. Miami, AS – 60% wilayah terancam hilang pada 2060.
  3. Lagos, Nigeria – Tenggelam lebih dari 3 inci per tahun.
  4. Dhaka, Bangladesh – Tenggelam setengah inci per tahun.
  5. Yangon, Myanmar – Risiko banjir dan aktivitas tektonik.
  6. Bangkok, Thailand – Garis pantai menyusut 1 km per tahun.
  7. Kolkata, India – Ancaman banjir dan ekstraksi air tanah.
  8. Manila, Filipina – Tenggelam 4 inci per tahun.
  9. Guangdong-Hong Kong-Makau – Kenaikan air laut hingga 1,5 meter di abad ini.

Kota-kota tersebut menghadapi tekanan besar dari dampak perubahan iklim dan urbanisasi yang tidak terkendali.

Dampak Permanen dan Kebutuhan Tindakan Cepat
Meskipun kenaikan air laut terjadi secara bertahap, dampak yang ditimbulkan bersifat permanen dan sulit diperbaiki. Para ilmuwan menegaskan bahwa tanpa upaya nyata mengurangi emisi karbon dan perlindungan lingkungan, bencana besar akan terus berlanjut. Kota-kota pesisir bisa menghadapi skenario kiamat jika tindakan tidak segera diambil.

Di Indonesia, ancaman tidak hanya mengarah pada Jakarta saja. Semarang, Surabaya, serta wilayah utara Papua juga sangat rentan mengalami dampak mirip. Kerusakan lingkungan ini membutuhkan respons adaptasi segera.

Langkah Adaptasi yang Mendesak
Beberapa strategi kunci yang harus dilaksanakan untuk memitigasi risiko antara lain:

  1. Peninggian tanggul dan infrastruktur pengendalian banjir.
  2. Pemulihan dan penanaman kembali mangrove sebagai penahan alami air laut.
  3. Manajemen air yang terintegrasi dan berkelanjutan di wilayah pesisir.

Implementasi langkah-langkah tersebut sangat penting agar wilayah pesisir tetap bisa bertahan dan menghindari kehilangan lahan yang berharga.

Ancaman tenggelamnya kota-kota dunia termasuk Jakarta menuntut kesadaran global dan tindakan bersama. Pemanasan global bukan hanya isu lingkungan, melainkan masalah keberlanjutan hidup manusia di masa depan. Kesiapan dan kerja sama global menjadi kunci menghadapi realita yang sudah semakin nyata di depan mata.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button