Voigtländer merupakan nama keluarga legendaris yang telah berkontribusi selama beberapa generasi dalam dunia kamera dan lensa. Sejak awal berdiri pada 1756 di Wina, Austria, Johannes Christoph Voigtländer memulai bisnisnya dengan memproduksi instrumen presisi seperti kompas dan jam matahari. Keahlian tekniknya membuatnya mendapatkan pengakuan dari Maria Therese, sang permaisuri Austria, sehingga Voigtländer dapat beroperasi di bawah dekrit kerajaan dengan minim persaingan.
Setelah kematian Johann Christoph, usaha keluarga berlanjut oleh putranya, Johann Friedrich, yang mendirikan Friedrich Voigtländer, Optik & Mekanik pada 1808. Perusahaan ini memfokuskan diri pada produk optik seperti teropong opera dan lensa kacamata. Pada 1837, bisnis tersebut diteruskan oleh Peter Wilhelm Friedrich Ritter von Voigtländer, yang memperluas produk ke binocular, teleskop, dan akhirnya memasuki dunia fotografi.
Peter siap menyongsong era fotografi dengan berkolaborasi bersama matematikawan Hungaria, Josef Petzval, untuk menghasilkan lensa komputer pertama di dunia. Lensa portrait dengan aperture maksimum f/3.6 ini mampu mempercepat waktu eksposur hingga 10 kali lebih singkat dibandingkan lensa konvensional di zamannya, yakni sekitar beberapa menit saja untuk pemotretan potret. Sebagai pelengkap lensa tersebut, Voigtländer juga meluncurkan kamera Ganzmetall Kamera pada 1841, kamera all-metal pertama di dunia dengan mekanisme fokus rack-and-pinion.
Perkembangan Optik dan Kamera Voigtländer
Pada tahun 1849, Voigtländer membuka cabang di Braunschweig, Jerman, dan kemudian memindahkan seluruh operasi dari Wina ke Braunschweig pada 1862. Sejak sekitar 1850, fokus produksi beralih sepenuhnya ke produk optik, termasuk kamera dan lensa. Peter Wilhelm Friedrich menerima gelar kehormatan dari Kaisar Franz Joseph I pada 1866 atas prestasi perusahaan.
Dalam dekade berikutnya, Voigtländer menjadi salah satu produsen besar kamera dan lensa di dunia. Produk-produk mereka meliputi kamera folder tipe bellows, kamera rigid bodied dalam berbagai konfigurasi, dan kamera stereo. Pada 1929, kamera Voigtländer Bessa pertama diperkenalkan dalam format 6×9 cm, dengan kemampuan pengambilan gambar 6×4,5 cm menggunakan masker khusus sehingga jumlah frame bisa dua kali lipat dari standar roll film 120.
Desain bodi logam yang kokoh dan penggunaan lensa berkualitas tinggi membuat Bessa populer untuk berbagai kebutuhan mulai dari potret hingga pemandangan. Kamera Bessa RF pada 1935 menambah fitur rangefinder ganda untuk memudahkan fokus, dilengkapi lensa 105mm f/3.5 dan kecepatan rana hingga 1/400 detik. Seri Bessa melanggeng hingga 1956, menjadikan Voigtländer salah satu produsen kamera terkemuka di dunia.
Selain Bessa, Voigtländer juga mengembangkan variasi kamera lainnya seperti Brilliant dengan format 6×6 cm, yang awalnya seperti box camera namun kemudian berkembang menjadi twin-lens reflex (TLR) tepatnya pada model Focusing Brilliant tahun 1938.
Era Lensa dan Kamera 35mm: Vito, Vitessa, dan Vitrona
Voigtländer mulai memasuki pasar kamera 35 mm dengan mengeluarkan Vito I pada 1939. Kamera ini menggunakan lensa yang dapat dilipat dengan shutter tipe Compur. Produksi terhambat selama Perang Dunia II, namun Vito I kembali beredar tahun 1947 dengan shutter Prontor. Kemudian, Vito III tahun 1951 menjadi model pertama dengan rangefinder terintegrasi dalam jendela bidik dan mekanisme drop-bed untuk lensa lipat.
Seri Vito rigid bodied dilanjutkan hingga 1968 dengan edisi B dan C, di mana versi kelas atas dilengkapi rangefinder dan pengukur cahaya built-in seperti selenium cell dan CdS. Pada 1953 meluncur juga seri Vitessa yang tubuhnya terbuat dari logam. Kamera Vitrona pada 1964 merupakan kamera 35mm pertama dengan lampu flash elektronik bawaan yang menggunakan baterai di grip pistolnya.
Voigtländer juga dikenal karena inovasi lensa zoom, seperti Zoomar 36-82mm f/2.8 yang diluncurkan tahun 1959. Lensa 14 elemen ini menjadi zoom komersial pertama untuk kamera 35mm dan diproduksi hingga 1968 sebanyak sekitar 15.000 unit.
Kamera SLR pertama Bessamatic diluncurkan pada 1958 dengan shutter daun yang terletak di belakang lensa pada dudukan kamera. Sistem raihan cahaya melalui selenium sel kemudian diperbarui dengan TTL CdS meter pada seri Ultramatic CS 1965. Ultramatic CS menjadi salah satu kamera SLR paling awal yang mengusung kontrol auto exposure dengan pengukuran TTL dan tampilan informasi lengkap di jendela bidik.
Perubahan Kepemilikan dan Warisan Voigtländer
Pada 1956, sebagian besar saham Voigtländer diakuisisi oleh Carl Zeiss, dan operasi digabung dengan Zeiss-Ikon. Produksi berlanjut hingga awal tahun 1970-an, namun tekanan dari produsen kamera Jepang menyebabkan penurunan penjualan dan penutupan pabrik di Braunschweig pada 1971.
Pada 1974, perusahaan Rollei mengambil alih Voigtländer dan menggunakan merek ini untuk kamera 35mm SLR dan kamera kompak buatan pabrik di Singapura. Merek Voigtländer sempat hilang pada 1982 sebelum dihidupkan kembali tahun 1997 oleh Ringfoto GmbH dan dilisensikan ke pabrikan Jepang Cosina.
Cosina melanjutkan tradisi dengan memproduksi kamera rangefinder seri Bessa menggunakan mount L39 dan M bayonet Leica. Kamera-kamera ini dilihat sebagai alternatif terjangkau namun berkualitas. Selain kamera, lensa-lensa Voigtländer yang diproduksi Cosina juga tetap diminati, termasuk lensa manual fokus cepat untuk berbagai mount mirrorless populer seperti Nikon Z, Canon RF, Fujifilm X, Sony FE, dan Micro Four Thirds.
Dengan sejarah yang panjang dan pengaruh besar di dunia optik, nama Voigtländer tetap hidup sebagai simbol kualitas mekanik presisi dan keunggulan optik. Warisan keluarga Voigtländer membuktikan bagaimana inovasi, desain, dan keahlian teknik dapat bertahan melewati zaman dan menjadi tonggak penting dalam evolusi kamera dan lensa fotografi.





