Casio Moflin hadir sebagai inovasi robot hewan peliharaan bertenaga kecerdasan buatan yang dibanderol dengan harga sekitar Rp 6,7 juta. Robot ini dijanjikan menjadi pendamping yang menenangkan lewat kemampuan AI yang dapat mengekspresikan emosi layaknya makhluk hidup. Namun, pengalaman sejumlah pengguna, termasuk reporter AI dari The Verge, Robert Hart, justru menunjukkan adanya sejumlah kekurangan yang membuat mereka merasa frustrasi.
Hart merupakan contoh konsumen target yang ideal karena ingin memiliki hewan peliharaan, tetapi terhambat oleh alergi, ukuran apartemen kecil, dan gaya hidup sibuk. Ia mengharapkan Moflin bisa memberikan kehadiran yang menenangkan tanpa membawa beban tanggung jawab seperti hewan peliharaan asli. Sayangnya, ketika membuka kotak Moflin, kesan yang didapatnya jauh dari harapan.
Janji dan kenyataan yang bertolak belakang
Casio memasarkan Moflin bukan sebagai mainan, melainkan sebagai pendamping cerdas dengan kemampuan emosi yang berkembang lewat interaksi pengguna. Robot ini akan berkembang dan menyesuaikan kepribadiannya berdasarkan pengalaman bersama penggunanya. Di negara seperti Korea Selatan dan Jepang, fenomena robot pendamping seperti ini sedang meningkat pesat sebagai respons terhadap kesepian terutama di kalangan lansia.
Meski demikian, Hart mengungkapkan bahwa Moflin terasa seperti “pemberat kertas berbulu” daripada makhluk hidup yang menyenangkan. Struktur robot terdiri dari motor, sensor, dan rangka plastik keras yang dibalut bulu imitasi dengan dua mata manik-manik. Robot ini tidak dapat berjalan atau mengikuti pemiliknya, hanya mampu menggeliat dan merengek sebagai respons terhadap suara, sentuhan, maupun cahaya. Pengisian daya penuh pun memakan waktu kira-kira tiga setengah jam untuk penggunaan selama lima jam.
Kekecewaan terhadap interaksi ‘Kevin’
Hart memberi nama Moflin miliknya “Kevin”. Awalnya, suara cicitan robot dianggap lucu, namun suara motor mekanis yang berisik saat Kevin bergerak segera mengganggu. Setiap perubahan postur robot menciptakan suara yang menghilangkan kesan kehangatan atau ketenangan.
Suara ketikan keyboard, panggilan telepon, dan interaksi sederhana kerap memicu reaksi Kevin yang membuatnya sulit untuk benar-benar tenang. Keributan terus-menerus itu bahkan mendorong Hart untuk memindahkan Kevin dari satu ruangan ke ruangan lain agar suara tak terus menggangu. Satu-satunya saat Kevin hening adalah ketika baterainya habis.
Masalah privasi dan aplikasi pendamping
Moflin dilengkapi dengan mikrofon yang selalu aktif. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang masalah privasi dari teman-teman dan pasangan Hart. Casio berjanji bahwa data diproses secara lokal dan Moflin tidak bisa mengenali bahasa, hanya mampu mengidentifikasi suara pengguna agar berinteraksi lebih personal.
Casio mengklaim AI Moflin dapat mengembangkan lebih dari empat juta kepribadian dan menjadi lebih ekspresif seiring waktu. Namun, kemampuan ini nyatanya kurang terasa karena gerakan dan suara robot sangat terbatas. Kepribadian Moflin lebih dapat dirasakan melalui aplikasi pendamping yang justru dianggap Hart sangat sederhana dan kurang memuaskan.
Aplikasi ini hanya menampilkan parameter kepribadian seperti “energik”, “ceria”, “pemalu”, dan “penyayang” secara generik tanpa konteks mendalam. Tersedia pula jurnal aktivitas yang berisi catatan seperti “Rob memeluk Kevin erat-erat” atau “Kevin bermimpi indah penuh tawa” yang menurut Hart kurang berguna sebagai feedback interaktif. Dengan demikian, berbagai fitur aplikasinya terkesan sebagai “Tamagotchi versi mewah” yang tidak membantu menciptakan ikatan nyata.
Objek berisik tanpa kehangatan
Robert Hart menilai Moflin sebagai sebuah objek berisik dengan dashboard yang mewakili “kepribadian” tanpa kehadiran nyata. Pasalnya, Casio mempromosikan persahabatan digital tapi tidak benar-benar menghadirkan sosok pendamping yang memberikan kenyamanan emosional. Keberadaan robot ini bahkan menimbulkan stres karena suara mekanis yang berulang-ulang.
Fitur penenang tunggal yang ada adalah mode “Tidur Nyenyak”, yang bisa mematikan gerakan dan suara robot. Hart mengakhiri pengalamannya dengan membiarkan Moflin tertidur dalam mode tersebut tanpa rencana mengaktifkannya kembali dalam waktu dekat. Ini menunjukkan bahwa realitas robot seharga Rp 6,7 juta ini masih jauh dari cita-cita menjadikannya teman sejati yang menghilangkan kesepian.
Fakta penting mengenai Casio Moflin:
- Harga sekitar Rp 6,7 juta per unit.
- Didesain sebagai pendamping AI dengan kemampuan emosional.
- Tidak dapat berjalan atau mengikuti, hanya menggeliat dan mengeluarkan suara cicitan.
- Pengisian daya membutuhkan sekitar 3,5 jam untuk 5 jam penggunaan.
- Memiliki mikrofon selalu aktif untuk mengenali suara pengguna, dengan data diproses secara lokal.
- Aplikasi pendamping menampilkan parameter kepribadian yang bersifat umum dan jurnal aktivitas sederhana.
- Pengalaman sebagian pengguna menunjukkan suara mekanis yang mengganggu dan kurangnya interaksi personal.
Moflin merupakan gambaran perkembangan teknologi robot pendamping dengan AI, namun tantangan dalam menciptakan koneksi emosional yang autentik masih cukup besar. Produk ini mencerminkan tren kebutuhan akan teman digital namun belum berhasil memenuhi harapan pengguna yang ingin merasa benar-benar diperhatikan dan dipahami tanpa repot merawat hewan asli.
