Bitcoin Mandek, Trader Crypto Panik Serbu Altcoin Terpilih: Mana Token Rahasia yang Meledak?

Pergerakan Bitcoin yang stagnan di bawah level $71.000 mendorong para trader kripto untuk mengalihkan perhatian mereka ke altcoin tertentu dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi. Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa altcoin mencatat kenaikan dua digit, meskipun pasar Bitcoin cenderung kurang volatil dan terbatas dalam rentang pergerakan harga.

Data dari CoinGecko menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh angka terendah sekitar $62.822 pada awal Februari, yang memicu lima peristiwa likuidasi besar dengan nilai total lebih dari $1 miliar menurut CoinGlass. Situasi ini membuat investor mencari peluang spekulasi pada altcoin yang memiliki narasi kuat, bukan menciptakan altseason yang masif.

Rotasi Modal ke Altcoin dengan Narasi yang Kuat

Pergerakan modal terlihat selektif, tertuju pada token dengan cerita dan ekosistem yang berkembang, seperti DeFi, kecerdasan buatan (AI), dan sektor gaming. Beberapa altcoin dalam daftar 50 koin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar mengalami lonjakan signifikan selama pekan terakhir. Zcash memimpin dengan kenaikan 24,1%, diikuti Pepe (21,9%), Bittensor (19,8%), dan Aster (18,5%).

Lai Yuen, analis investasi di Fisher8 Capital, menyatakan bahwa beberapa aksi harga pada akhir pekan lalu sempat menimbulkan sinyal risk-on, terutama saat Bitcoin melewati level $70.000 dan Solana naik melewati $90. Namun, momentum tersebut akhirnya gagal bertahan sehingga keuntungan altcoin mulai terkoreksi kembali.

Sementara itu, Ignacio, CMO Bitget, menambahkan bahwa sentimen makro yang lebih baik akibat data inflasi AS yang melunak turut mendorong minat risiko di berbagai aset, termasuk altcoin. Ia menjelaskan bahwa modal berputar pada altcoin yang diyakini memiliki narasi kuat, seperti spekulasi ETF dan perkembangan ekosistem token.

Performa Altcoin Masih Jauh dari Harga Puncak

Meski mencatatkan pertumbuhan hijau, nilai beberapa altcoin masih jauh di bawah puncaknya selama beberapa tahun terakhir. Zcash misalnya, masih terpaut lebih dari 90% dari harga tertinggi sepanjang masa pada 2016 sebesar $3.191. Pepe dan Bittensor juga masing-masing turun 84% dan 75% dari puncak yang tercapai pada akhir 2024 dan awal 2024.

Token Aster, yang relatif baru diperkenalkan sebagai token bursa terdesentralisasi, juga masih sekitar 70% di bawah titik tertinggi pada September tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa banyak altcoin masih memiliki ruang pemulihan yang cukup besar.

Pandangan Pasar dan Potensi Altseason

Prediksi pasar dari platform Myriad menunjukkan optimisme yang rendah dengan peluang hanya 9% untuk terjadi altseason sebelum April mendatang. Ryan Yoon, analis senior dari Tiger Research di Seoul, berpendapat bahwa pergerakan modal saat ini tidak tanpa narasi, melainkan lebih fokus dan selektif dibandingkan siklus altcoin sebelumnya.

Yoon menambahkan bahwa pada tahun 2025 sektor-sektor seperti stablecoin, aset dunia nyata (RWA), dan jaringan privasi telah fokus pada pembangunan jangka panjang dan menarik minat institusi. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang cenderung didominasi oleh narasi besar tanpa hasil signifikan dalam jangka pendek.

Faktor Penentu Keberlanjutan Kenaikan Altcoin

Keberlangsungan kenaikan altcoin bergantung pada kondisi makroekonomi yang menguntungkan, terutama stabilitas likuiditas dan indikator ekonomi positif dari Amerika Serikat. Ignacio mengungkapkan bahwa momentum jangka pendek terlihat konstruktif dengan aliran stablecoin yang meningkat dan sinyal positif dari altcoin. Namun, rally yang lebih luas dan berkelanjutan mensyaratkan Bitcoin untuk stabil atau naik serta dominasi Bitcoin sedikit menurun.

Perhatian kini tertuju pada data inflasi inti AS yang akan dirilis pada 20 Februari, sekaligus memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve pada bulan Maret. Saat ini pasar memperkirakan 90% kemungkinan suku bunga Fed akan tetap berada di kisaran 3,50%-3,75%. Sementara peluang pemotongan suku bunga sebelum Juli diprediksi hanya sebesar 31%.

Perpindahan modal ke altcoin tertentu selama fase stagnasi Bitcoin menandakan preferensi investor untuk aset dengan pondasi dan potensi teknis lebih kuat. Semakin selektifnya pilihan ini mencerminkan pendekatan kehati-hatian di tengah ketidakpastian pasar kripto yang terus bergejolak.

Terkait