Crypto dan AI: Hitung Mundur Dua Tahun Menuju Dominasi Mesin yang Bisa Gantikan Otak Manusia dan Mengubah Total Industri Kripto!

Perhelatan Consensus Hong Kong 2026 menandai pergeseran fokus utama industri kripto dari Bitcoin dan regulasi ke kecerdasan buatan (AI). Topik AI mendominasi diskusi, dari sesi utama hingga panel sampingan, menyoroti bagaimana teknologi ini mengubah lanskap crypto secara signifikan.

Beberapa pelaku industri dan pengamat berbeda pandangan tentang realisasi AI dalam kripto. Ada yang melihatnya sebagai hype yang mulai mereda, sedang pihak lain menilai AI akan menjadi fondasi penting bagi masa depan blockchain dan perdagangan aset digital.

Implementasi AI di Bursa Kripto
Byteplus, cabang teknologi perusahaan ByteDance, mengungkapkan bahwa sejumlah besar bursa kripto utama kini telah mengintegrasikan agen AI dalam operasional mereka. Penggunaan AI meliputi layanan pelanggan cerdas yang dapat menyesuaikan dengan skenario perdagangan, sistem riset multi-agen yang mengumpulkan data simultan, serta otomasi alur kerja Anti-Money Laundering (AML) dengan pengawasan manusia di titik pengambilan keputusan.

Keamanan menjadi aspek krusial dalam penerapan AI ini. Sistem mereka memiliki fitur “kill switch” yang mampu menghentikan agen AI secara instan jika melewati batasan yang ditetapkan. Dalam dua tahun ke depan, diperkirakan setiap karyawan bursa akan dibekali dengan asisten AI kelas perusahaan dan proses onboarding pengguna baru akan dipermudah lewat edukasi yang dipersonalisasi oleh AI.

Prediksi dan Tantangan Strategi AI
Ben Goertzel, CEO SingularityNET, memberikan perkiraan penting bahwa dalam jangka dua tahun, AI akan melampaui manusia dalam kemampuan berpikir strategis. Meskipun saat ini mesin belum mampu meniru “lompatan imajinatif” manusia untuk memahami hal-hal yang belum diketahui, hal ini diperkirakan akan segera berubah.

Goertzel menyampaikan bahwa siklus pasar bearish saat ini merupakan ujian keras bagi infrastruktur yang akan menopang AI umum (AGI) di masa depan. Dengan adanya AI yang mampu memprediksi volatilitas Bitcoin jangka pendek dengan presisi tinggi, pengembangan lebih lanjut pada strategi jangka panjang masih bergantung pada inovasi manusia.

AI dalam Trading: Peran dan Evolusinya
Pendapat yang lebih realistis datang dari Gracy Chen, CEO Bitget. Ia mengibaratkan bot trading AI saat ini sebagai “magang” yang lebih cepat dan murah, namun tetap membutuhkan pengawasan orang. Pengalaman masa lalu belum pernah menghadapi situasi ekstrem seperti likuidasi besar pada tanggal 10 Oktober, sehingga peran manusia masih krusial. Namun, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, AI diprediksi dapat menggantikan banyak posisi manusia dalam perdagangan.

Saad Naj dari PiP World menambahkan bahwa kelemahan manusia adalah emosi, faktor yang membuat mereka sulit bersaing dengan solusi AI. Bahkan 90% trader harian kehilangan uang, menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih rasional dan otomatis dalam pasar keuangan digital ini.

Pengembangan Infrastruktur untuk Ekonomi Agen AI
Fokus diskusi lain ada pada pembangunan infrastruktur teknologi yang diperlukan untuk mendukung AI agent-driven economy. Nellie Tan dari Monad memperkenalkan protokol pembayaran Coinbase X402 yang mampu memproses transaksi on-chain secara cepat dan efisien, dengan kapasitas mulai dari ribuan hingga jutaan transaksi per detik.

Eddie, CEO middleware pembayaran AEON, menyebutkan bahwa kebanyakan interaksi komersial di masa depan akan dilakukan melalui AI agen, sehingga setiap transaksi akan melalui satu titik proses — pembayaran. AEON sendiri memfasilitasi sekitar 80% pembayaran kripto melalui kemitraan dengan platform besar seperti OKX dan Bybit.

Pemilihan blockchain terbaik untuk AI agent masih belum pasti. Mate Tokay dari OP_CAT Layer menilai keputusan bergantung pada jenis transaksi, misalnya transaksi aset besar lebih menuntut keamanan, sementara pembelian konsumen lebih menitikberatkan kecepatan.

Dukungan Pemerintah dan Visi Masa Depan
Hong Kong Financial Secretary Paul Chan Mo-po memberikan dukungan kuat dengan menyebut AI agent sebagai motor ekonomi masa depan. Ia menjelaskan konsep “machine economy” di mana agen AI dapat mengelola aset digital dan melakukan transaksi secara mandiri di blockchain.

CEO Binance Richard Teng juga menyatakan bahwa aktivitas pemesanan dan pembelian yang dilakukan agen AI akan dilakukan melalui mata uang kripto dan stablecoin. “Kripto adalah mata uang untuk AI,” ungkap Teng, menggambarkan sinergi antara dua teknologi ini.

Skeptisisme dan Penyesuaian Pendanaan
Namun, sejumlah investor ventura menunjukkan sikap skeptis terhadap klaim besar tentang integrasi AI dan kripto. Anand Iyer dari Canonical Crypto menilai saat ini adalah periode “trough” setelah masa hype berlebihan. Pengembangan proyek besar seperti pasar GPU dan layanan yang coba menyaingi OpenAI dianggap memerlukan modal yang jauh melebihi kapasitas industri kripto sekarang.

Investor lebih mendukung solusi khusus yang memanfaatkan data kepemilikan, keunggulan regulasi, atau strategi pasar yang konkret daripada inovasi teknis yang belum terbukti. Kelvin Koh dari Spartan Group mengingatkan bahwa membungkus ChatGPT dalam produk saja tidak lagi cukup sebagai nilai jual.

Membangun Model AI dan Crypto yang Berkelanjutan
Diskusi industri membentuk gambaran masa depan yang nyata: stablecoin berfungsi sebagai jalur nilai bagi transaksi agen, pasar prediksi mengatur harga informasi, AI mengelola perdagangan dan operasi, serta robot fisik memperluas dampak ke dunia nyata. Model ini muncul sebagai tesis baru tanpa bergantung pada siklus spekulasi seperti pada bull run sebelumnya.

Selain itu, proyek AI terdesentralisasi mulai berkembang, mengedepankan transparansi, verifikasi, dan tata kelola komunitas—nilai-nilai inti yang selaras dengan misi kripto. Hal ini memberi indikasi kuat tentang kemajuan konvergensi yang berpotensi mengubah industri secara fundamental.

Terkait