Pergerakan pasar kini menunjukkan sentimen negatif yang kuat terhadap dolar AS, dengan posisi short mencapai level tertinggi sejak Januari 2012. Survei terbaru dari Bank of America mengungkapkan posisi bearish terhadap dolar mencapai titik terdalam dalam 14 tahun terakhir.
Indeks Dolar AS, yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama, telah turun sebesar 1,3% sejak awal tahun berjalan. Penurunan ini memicu keraguan yang meluas di kalangan manajer dana dan investor global. Posisi short pada dolar secara keseluruhan kini bahkan lebih rendah dari level terendah pada April 2025.
Faktor-Faktor Penyebab Sentimen Negatif terhadap Dolar
Meskipun ada upaya dari pemerintahan Presiden Trump yang mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve untuk meningkatkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS, hal ini belum mampu mengangkat permintaan dolar. Pasar masih mengkhawatirkan kelemahan yang terus menyerang pasar tenaga kerja AS sebagai risiko utama pelemahan dolar.
Indeks Dolar AS (DXY) turun signifikan sepanjang 2025, dengan penurunan mencapai 9,4%. Pada akhir Januari, DXY sempat menyentuh 95,5, level terendah sejak Februari 2022, sebelum kemudian naik ke angka 97,08. Analis teknikal memperkirakan tekanan jual terhadap dolar masih akan berlanjut.
Proyeksi dan Pandangan Analis Pasar
Sejumlah pakar memprediksi indeks dolar berpotensi menurun di bawah angka 96 dalam waktu dekat. Seorang trader bernama Donny memperkirakan pembentukan tren bearish lanjutan pada indeks ini. Sementara itu, Long Investor menyoroti grafik jangka panjang yang memperlihatkan potensi penurunan struktural dolar hingga kisaran 52–60 selama dekade 2030-an.
Di sisi lain, beberapa analis seperti Macro Pulse melihat adanya indikasi awal pembentukan dasar (bottoming process) pada indeks dolar. Mereka memproyeksikan kemungkinan pemulihan ke level 103–104 dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak Penurunan Dolar terhadap Pasar Kripto
Secara umum, dolar yang melemah dapat memberikan peluang bagi aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Ketika dolar jatuh, investor cenderung mengalihkan modalnya ke aset alternatif untuk meraih imbal hasil lebih tinggi atau melindungi nilai terhadap depresiasi mata uang fiat.
Bitcoin sering dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang konvensional. Oleh sebab itu, periode melemahnya dolar biasanya meningkatkan daya tarik aset digital ini. Namun, hubungan antara pelemahan dolar dan kenaikan kripto tidak selalu linear, karena kondisi makroekonomi global menjadi faktor penentu utama.
Jika pelemahan dolar mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan risiko resesi meningkat, investor cenderung memilih instrumen safe haven seperti emas dibandingkan aset kripto yang volatil. Data terbaru menunjukkan bahwa posisi bullish pada emas naik, menandakan harapan pasar terhadap harga logam mulia.
Tantangan dan Peluang Pasar Kripto ke Depan
Sementara dolar terus melemah dan posisi short berada pada level tertinggi dalam 14 tahun, pasar kripto menghadapi momen penting. Para manajer dana kini mengamati dinamika ini dengan seksama untuk menentukan apakah kripto bisa memanfaatkan kondisi ini sebagai momentum penguatan, atau justru menghadapi hambatan akibat ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.
Penggerak utama pasar dalam beberapa bulan mendatang akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi AS dan respons kebijakan moneter. Perubahan sentimen terhadap dolar AS berpotensi menjadi faktor fundamental yang membentuk arah pergerakan aset digital.
Investor dan analis di seluruh dunia pun tetap waspada akan potensi pergerakan besar yang mungkin terjadi, sambil memantau sinyal teknikal dan fundamental yang muncul dari indeks dolar serta kondisi makro global.





