NotebookLM, sebuah alat pencatat milik Google, kini menghadapi gugatan hukum terkait fitur suara yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sangat mirip dengan suara seorang penyiar radio profesional. Mantan penyiar NPR, David Greene, mengklaim bahwa Google menggunakan suaranya tanpa izin untuk mengembangkan fitur AI tersebut. Ia menilai tindakan Google sebagai pencurian suara yang disengaja dan berpotensi merusak industri podcast dan radio.
Dalam gugatan yang diajukan di California, kuasa hukum Greene menyatakan bahwa Google memanfaatkan suara khas Greene—yang telah dikenal luas selama bertahun-tahun di dunia radio dan komentar publik—untuk menciptakan produk audio sintetis. Produk tersebut meniru gaya bicara, ritme, dan persona Greene secara cukup presisi, tanpa memberikan kompensasi yang layak bagi sang penyiar.
Klaim Pencurian Suara dan Dampaknya pada Industri Podcast
David Greene menyampaikan bahwa suara penyiar radio adalah aset profesional yang biasanya dibayar secara khusus oleh program atau stasiun radio karena memberikan kredibilitas dan otoritas pada konten yang disampaikan. Gugatan tersebut menekankan bahwa penggunaan suara melalui AI yang mirip dengan Greene dapat menghindarkan Google dari biaya royalti tersebut. Hal ini dinilai dapat mengganggu model bisnis industri podcast yang selama ini bergantung pada suara asli penyiar sebagai sumber daya utama mereka.
Dalam pernyataan resmi, perwakilan Greene menegaskan bahwa “kegagalan membayar harga yang telah disepakati untuk layanan profesional tersebut merupakan pelanggaran hukum.” Mereka juga menuding Google berusaha untuk “mengganggu industri podcast” melalui penggunaan teknologi AI ini tanpa persetujuan.
Perdebatan Bukti dan Faktor Teknis
Meskipun klaim Greene terbilang kuat secara emosional, unsur bukti teknis masih belum jelas. Tim Greene menyebut telah menggunakan jasa perusahaan forensik independen yang ahli dalam pengenalan suara. Hasil analisis menunjukkan tingkat kesamaan suara dengan data pelatihan NotebookLM berada pada angka 53-60 persen dengan rentang skala -100 persen sampai 100 persen. Artinya, ada indikasi suara Greene digunakan, namun belum bisa dikatakan pasti.
Adam Eisgrau, Direktur Senior Kebijakan AI dan Hak Cipta di Chamber of Progress, menyampaikan bahwa keputusan akhir sangat bergantung pada interpretasi juri. “Jika juri menyimpulkan suara NotebookLM sepenuhnya adalah milik Greene, maka ia bisa menang. Namun jika suara tersebut hanya memiliki beberapa atribut yang mirip dengan Greene tetapi pada dasarnya adalah campuran model suara umum, maka gugatan mungkin tidak berbuah hasil,” jelas Eisgrau.
Respons Google dan Kontroversi Serupa di Industri AI
Google membantah klaim tersebut dan menyebutnya “tidak berdasar.” Juru bicara perusahaan, José Castañeda, mengatakan suara laki-laki dalam Audio Overviews NotebookLM berasal dari aktor profesional yang telah dibayar oleh Google. Pernyataan ini menegaskan bahwa suara tersebut bukan merupakan hasil peniruan langsung dari suara Greene.
Kasus ini mengingatkan kontroversi serupa pada awal tahun ini, saat aktris Scarlett Johansson menilai suara yang digunakan oleh GPT-4o sangat mirip dengan miliknya. OpenAI kemudian menghentikan penggunaan suara tersebut setelah Johansson menolak penawaran mereka untuk menggunakan kemiripan suara dan wajahnya.
Potensi Dampak Hukum yang Lebih Luas
Gugatan terhadap Google ini diperkirakan akan menjadi tolok ukur penting dalam dunia kecerdasan buatan dan industri kreatif. Keputusan hukum mendatang dapat menentukan batasan apa yang boleh digunakan oleh perusahaan AI dalam hal data suara dan seberapa besar hasil buatan tersebut harus berbeda dari sumber asli. Hal ini akan memengaruhi tidak hanya pengembangan produk seperti NotebookLM, tetapi juga bagaimana hak kekayaan intelektual dilindungi di era teknologi generatif.
Berikut adalah poin-poin penting terkait kasus ini:
- Mantan penyiar NPR, David Greene, menggugat Google atas penggunaan suaranya tanpa izin.
- Google dituduh meniru suara Greene untuk fitur AI di NotebookLM yang digunakan dalam pengolahan audio.
- Gugatan menyoroti potensi gangguan terhadap industri podcast dan penghindaran pembayaran honor penyiar.
- Analisis suara menunjukkan kesamaan 53-60 persen, menyisakan ruang interpretasi hukum.
- Google membantah klaim dan menyatakan suara dibuat oleh aktor profesional berbayar.
- Kasus ini memiliki relevansi dengan kontroversi penggunaan suara selebritas oleh perusahaan AI lain.
- Putusan hukum akan menentukan aturan pemanfaatan data suara dalam teknologi AI di masa depan.
Gugatan terhadap NotebookLM membuka diskusi penting mengenai hukum dan etika pemanfaatan suara manusia dalam dunia teknologi. Proses hukum yang sedang berjalan akan menjadi indikasi bagi pengembangan produk AI dan perlindungan hak individu di era digital. Hingga saat ini, belum ada putusan yang mengikat, sehingga dinamika kasus ini masih akan terus berkembang dan menjadi perhatian masyarakat serta pelaku industri podcast dan radio.





