Pasar cryptocurrency mengalami tekanan signifikan dalam setahun terakhir. Kenaikan hasil obligasi Treasury dan perlambatan kebijakan moneter membuat minat institusional melemah.
Bitcoin dan Ethereum, sebagai dua aset kripto utama, berhasil menahan penurunan dengan kehilangan sekitar 30% nilai. Namun, dua cryptocurrency populer lainnya, yakni XRP dan Dogecoin, mengalami penurunan yang lebih dalam, masing-masing sekitar 50% dan 60%.
XRP dan Tantangan Fundamental
XRP sempat menghadapi risiko besar akibat gugatan SEC terhadap Ripple Labs sejak 2020. Gugatan tersebut menuduh Ripple menjual XRP sebagai sekuritas tanpa izin, tetapi akhirnya diselesaikan dengan denda yang lebih ringan dari perkiraan. SEC juga memutuskan bahwa XRP bukan sekuritas untuk investor eceran, sehingga aset ini kembali diperdagangkan di bursa utama.
Meski demikian, XRP memiliki keterbatasan mendasar. Total pasokan 100 miliar token telah dicetak sejak awal, sehingga aset ini sulit dinilai berdasarkan kelangkaan. XRP juga tidak mendukung smart contract secara native, yang membuatnya kurang diminati oleh pengembang aplikasi desentralisasi. Fungsinya lebih dominan sebagai "bridge currency" untuk transaksi lintas negara di platform Ripple. Namun, stablecoin yang nilainya dipatok pada dolar AS menawarkan opsi dengan volatilitas lebih rendah.
Dogecoin dan Kekurangan Teknis
Dogecoin menggunakan mekanisme proof-of-work yang sama seperti Bitcoin, sehingga konsumsi energi tergolong tinggi. Namun, tidak seperti Bitcoin yang memiliki batas maksimum 21 juta token, Dogecoin tidak memiliki batas pasokan. Pendukung Dogecoin berargumen bahwa desain ini mendorong perilaku pengeluaran daripada penimbunan koin, tapi hal ini menurunkan nilai kelangkaannya.
Aset ini juga tidak mendukung smart contract, sehingga kurang diminati sebagai platform pengembangan teknologi baru. Pergerakan harga Dogecoin sering kali dipengaruhi oleh sentimen pasar, termasuk twit kontroversial Elon Musk dan dukungan selebritas seperti Mark Cuban dan Snoop Dogg. Beberapa perusahaan kecil bahkan mencoba memanfaatkan popularitas Dogecoin untuk membangun "Dogecoin Treasury", tapi hal ini belum cukup untuk memberikan katalis fundamental.
Proyeksi Performa XRP dan Dogecoin
Meskipun XRP dan Dogecoin mungkin tidak akan mengalami penurunan signifikan tahun ini, potensi penguatan keduanya relatif terbatas. Investor cenderung memilih Bitcoin karena kelangkaan dan perannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Ethereum tetap menjadi pilihan utama karena keunggulannya dalam ekosistem pengembangan aplikasi desentralisasi.
Altcoin lain seperti XRP dan Dogecoin yang tidak memiliki keunggulan fundamental yang jelas diperkirakan akan sulit mengungguli pasar kripto secara keseluruhan di tahun mendatang.
Faktor yang Memengaruhi Keputusan Investasi
Sebelum memutuskan investasi pada XRP atau Dogecoin, penting mempertimbangkan potensi jangka panjang dan risiko yang melekat. Data historis menunjukkan bahwa aset-aset tersebut memiliki volatilitas tinggi dan kurang stabil dibandingkan Bitcoin ataupun Ethereum.
Analisis dari tim ahli investasi menyoroti bahwa ada banyak saham dan aset lain dengan potensi imbal hasil yang lebih menjanjikan dan stabil untuk jangka panjang. Contoh kesuksesan investasi saham seperti Netflix dan Nvidia dengan pengembalian ratusan ribu persen sejak awal masanya menjadi dalil penting untuk diversifikasi portofolio.
Informasi Tambahan
Menurut laporan terbaru, total rata-rata pengembalian dari portofolio saham yang direkomendasikan mencapai 892%, jauh melampaui indeks S&P 500 yang hanya sekitar 194%. Hal ini mengindikasikan perlunya pendekatan selektif dalam memilih aset untuk investasi jangka panjang.
Dengan latar belakang ini, XRP dan Dogecoin membutuhkan katalis fundamental baru agar dapat bersaing dengan pesaing utamanya di tahun-tahun mendatang. Tanpa perubahan signifikan dalam teknologi atau adopsi pasar, kedua cryptocurrency tersebut diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang kurang optimal dalam tahun mendatang.





