Remaja 14 Tahun Buktikan Kamera DSLR Usia Dekade Masih Bisa Menang Kompetisi Fotografi Close-Up Bergengsi

Seorang fotografer berusia 14 tahun, Rithved Girish, berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam kategori "Young" pada kompetisi Close Up Photographer of the Year (CUPOTY). Kejutan utamanya adalah foto pemenang tersebut dihasilkan menggunakan kamera DSLR Nikon D850 yang sudah berusia hampir satu dekade.

Prestasi ini memperlihatkan bahwa kamera lama tetap mampu menghasilkan karya berkualitas tinggi, sekaligus bersaing dengan kamera generasi terbaru yang mengunggulkan teknologi sensor dan sistem mirrorless. Hal ini juga menegaskan bahwa perangkat yang lebih tua tidak selalu kalah dibandingkan kamera smartphone yang saat ini sangat populer di kalangan fotografer muda.

Tentang Kompetisi Close Up Photographer of the Year (CUPOTY)

CUPOTY didirikan pada 2018 oleh pasangan fotografer asal Inggris, Tracy dan Daniel Calder. Kompetisi ini dirancang guna mengangkat dan merayakan beragam bentuk fotografi close-up, makro, dan mikro sebagai bentuk seni yang unik. Peserta dari seluruh dunia mengirimkan karya mereka untuk memperebutkan hadiah uang tunai sekaligus publikasi dalam e-book resmi CUPOTY.

Tahun ini, lebih dari 12.000 karya dari 63 negara mengikuti kompetisi tersebut. Rithved Girish pun tidak hanya mendapatkan juara pertama di kategori Young, tetapi juga sudah pernah meraih posisi runner-up dalam ajang Wildlife Photographer of the Year Awards sebelumnya, yang membuktikan konsistensi dan kualitas karyanya.

Teknologi Kamera dan Detail Foto Pemenang

Foto berjudul "Guardians of the Hive" ini mengabadikan sekawanan lebah tanpa sengat yang menjaga sarang mereka di Kerala, India. Rithved memotret momen tersebut dengan Nikon D850, kamera DSLR yang diluncurkan pada 2017 dan berharga lebih dari $3.200 saat dirilis. Saat ini, kamera tersebut dapat diperoleh dengan harga sekitar setengahnya dalam kondisi bekas pakai.

Untuk mendapatkan hasil optimal, Rithved menggunakan lensa Sigma 105mm f/2.8 EX DG OS HSM Macro, dengan pengaturan kecepatan rana 1/160 detik, aperture f/11, serta ISO 400. Dia juga memakai Rollei Flash 58F dan diffuser untuk pencahayaan yang lembut. Foto ini memperlihatkan lebah-lebah yang menjaga pintu masuk sarang tubular yang terbuat dari lilin, resin, dan lumpur.

Menurut Rithved, "Tidak ada umpan atau pengalih perhatian yang digunakan saat pengambilan gambar agar perilaku alami lebah tetap tidak terganggu. Gambar ini menjadi pengingat pentingnya makhluk kecil ini dalam menjaga keseimbangan ekologi."

Panduan Singkat Memulai Fotografi Satwa Liar

Bagi yang tertarik menekuni fotografi satwa liar, ada beberapa hal penting yang perlu diketahui:

  1. Pelajari dasar-dasar fotografi terlebih dahulu untuk menguasai teknik pengambilan gambar.
  2. Gunakan kamera DSLR yang menawarkan kualitas dan fleksibilitas jauh lebih baik dibanding smartphone atau kamera digital standar.
  3. Pilih kamera dengan sistem autofocus yang unggul, semakin banyak titik AF maka fokus gambar semakin akurat dan minim blur.
  4. Pahami perilaku dan habitat hewan target supaya tahu kapan dan di mana waktu terbaik untuk memotret serta seberapa dekat posisi aman bisa dijangkau.
  5. Miliki kesabaran tinggi karena menunggu momen natural terbaik adalah kunci keberhasilan dalam fotografi satwa.

Memadukan pengetahuan teknis dengan pengamatan lingkungan adalah langkah awal untuk menghasilkan foto yang tidak hanya estetis, tetapi juga mampu menceritakan kisah alam secara otentik.

Rithved Girish membuktikan bahwa dengan ketekunan dan pemahaman peralatan yang baik, fotografer muda bisa bersaing di level internasional menggunakan perlengkapan kamera yang sudah berumur. Keberhasilannya menjadi inspirasi terutama bagi generasi muda yang ingin mengasah keterampilan fotografi dengan sumber daya yang terbatas namun hasil maksimal.

Berita Terkait

Back to top button