Finji, penerbit dan pengembang game independen di balik judul populer seperti Tunic dan Night in the Woods, mengajukan tuduhan serius terhadap TikTok. Perusahaan ini menuduh TikTok menggunakan kecerdasan buatan (AI) generatif untuk membuat dan menayangkan iklan game mereka tanpa izin.
Akun resmi pengembang tersebut menerima laporan dari pengikut yang menemukan iklan TikTok dengan konten yang telah diubah secara bermasalah. Modifikasi tersebut diduga menghasilkan citra karakter game Usual June yang bersifat rasis dan seksual, sebuah representasi yang tidak sesuai dengan karakter asli dalam game.
Iklan Bermasalah Mengandung Konten Sensitif
Iklan yang dimaksud menampilkan karakter utama Usual June dengan pakaian bikini dan atribut tubuh yang dilebih-lebihkan, seperti pinggul dan paha besar serta sepatu bot setinggi lutut. Finji menegaskan bahwa tampilan ini bertentangan dengan desain asli karakter dalam game. Mereka juga mengklaim telah mematikan fitur AI “Smart Creative” dan “Automate Creative” pada akun iklan mereka untuk menjaga kendali atas konten yang diiklankan.
Respon Awal TikTok dan Bukti yang Diberikan
Setelah menerima tangkapan layar dari penggemar, CEO Finji, Rebekah Saltsman, menghubungi TikTok untuk meminta penjelasan dan investigasi. TikTok awalnya membantah menggunakan AI dalam memodifikasi iklan milik Finji. Namun, setelah Finji menunjukkan bukti visual kuat, TikTok mengakui adanya perubahan iklan yang menggunakan AI tanpa izin.
Menurut Saltsman, bukti yang dia kirimkan juga dibenarkan oleh agen TikTok yang menangani iklan tersebut. Hal ini memperjelas bahwa walau opsi AI untuk merancang iklan telah dimatikan oleh Finji, tetap ada penggunaan AI secara diam-diam melalui sistem TikTok.
Penjelasan TikTok dan Dampak pada Finji
TikTok berargumen bahwa mereka menggunakan “format iklan katalog” yang secara otomatis menggabungkan aset-aset carousel dan video untuk meningkatkan performa kampanye penjualan. TikTok menyatakan inisiatif ini bertujuan membantu pengiklan mencapai hasil optimal dengan usaha minimal.
Namun, Finji merasa opsi iklan ini dipilih tanpa persetujuan atau kesadaran mereka terhadap risiko perubahan konten secara tak terkontrol. TikTok juga mengakui bahwa iklan yang dipermasalahkan menimbulkan masalah besar, seperti seksualisasi tidak pantas, salah representasi karakter, kerugian reputasi, dan potensi dampak komersial yang signifikan terhadap Finji.
Isu Etika AI dalam Periklanan Digital
Kasus ini menimbulkan pertanyaan etis yang mendalam tentang penggunaan AI generatif dalam periklanan digital. Kontrol dan persetujuan penerbit atas representasi visual produk mereka menjadi semakin sulit ketika AI digunakan untuk memodifikasi konten secara otomatis. Ini menunjukkan adanya celah dalam regulasi dan transparansi platform periklanan besar seperti TikTok.
Finji meminta permintaan maaf dan jaminan dari TikTok bahwa insiden serupa tidak akan terulang. Namun, komunikasi antara kedua pihak masih berjalan dan belum mencapai titik penyelesaian. Saltsman menyatakan kekecewaannya terhadap respons TikTok yang dinilai kurang serius mengatasi masalah yang telah mencoreng reputasi perusahaannya.
Fakta Penting dalam Kasus Ini
- Finji dikenal sebagai penerbit game populer seperti Tunic dan Night in the Woods.
- TikTok diduga menggunakan AI generatif untuk memodifikasi iklan game tanpa persetujuan.
- Iklan yang dimodifikasi mengandung konten seksual dan rasis yang tidak sesuai dengan karya asli.
- Finji menonaktifkan fitur AI di platform TikTok, tapi perubahan tetap terjadi.
- TikTok mengakui kejadian namun kurang memberikan solusi memadai pada Finji.
Peristiwa ini menjadi perhatian penting terkait hak cipta digital dan kontrol kreator terhadap karya mereka di tengah kemajuan teknologi AI. Perkembangan lebih lanjut dalam komunikasi antara TikTok dan Finji dipantau oleh banyak pihak untuk memastikan standar etika dalam ekosistem periklanan digital dapat ditegakkan.







