US Futures dan Bitcoin Jatuh Setelah Mahkamah Agung Batal Tarif Trump Sementara Pasar Asia Tampil Beragam

Pasar saham AS ditutup melemah dengan kontrak berjangka turun setelah Mahkamah Agung menolak sebagian besar tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Keputusan ini memicu reaksi beragam di pasar Asia, di mana saham-saham bergerak campuran sementara bitcoin jatuh tajam.

Bitcoin mengalami penurunan signifikan hingga 5%, menembus level di bawah $65.000. Penurunan ini terjadi akibat investor menjual aset spekulatif dan kekhawatiran terkait regulasi kripto di masa depan. Sejak mencapai rekor tertinggi hampir $126.210,50 di awal Oktober, nilai bitcoin hampir turun setengahnya.

Pergerakan Pasar Asia Setelah Putusan Mahkamah Agung

Beberapa pasar utama Asia mengalami hari bisnis yang bervariasi. Indeks Hang Seng di Hong Kong memimpin kenaikan dengan lonjakan 2,2% ke level 26.980,22. Taiwan dan India mencatat kenaikan moderat dengan indeks Taiex naik 0,5% dan Sensex meningkat 0,4%. Pasar saham Bangkok juga berada di zona positif dengan kenaikan 1,1%.

Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melemah tipis 0,1% turun ke posisi 5.809,53. Pasar Australia mencatat penurunan lebih besar dengan S&P/ASX 200 turun 0,6% ke 9.024,40. Pasar di Jepang dan China daratan tidak beroperasi karena hari libur nasional.

Dinamika Tarif dan Ketidakpastian Kebijakan

Ahli pasar dari Rabobank, Benjamin Picton, menyatakan reaksi pasar mencerminkan efek "pemenang dan pecundang" akibat perubahan kebijakan tarif yang baru saja diberlakukan. Ia menilai kebijakan tarif AS tetap menjadi sumber ketidakpastian karena pelaku pasar masih mencoba mencerna implikasi jangka panjangnya.

Meskipun Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif tersebut, Presiden Trump menyatakan akan mencari cara lain untuk mengenakan pajak impor global. Ia telah mengumumkan rencana penggunaan eksekutif order untuk mengenakan tarif global 10% yang dapat diperpanjang hingga 150 hari dan dapat dinaikkan menjadi 15%. Trump juga mengindikasikan potensi tarif baru dengan melibatkan investigasi Departemen Perdagangan.

Respons Pasar Saham Amerika dan Perusahaan Terkait

Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,8%, Dow Jones Industrial Average turun 0,7%, dan Nasdaq composite melemah 1%. Pada perdagangan sebelumnya, indeks utama Wall Street justru naik dengan S&P 500 bertambah 0,7% ke 6.909,51, Dow Jones menguat 0,5% ke 49.625,97, dan Nasdaq naik 0,9% ke 22.886,07.

Perusahaan teknologi Akamai Technologies mengalami penurunan tajam sebesar 14,1%. Meski melaporkan hasil kuartal akhir yang melampaui ekspektasi, perusahaan merevisi perkiraan laba tahunan yang lebih rendah dari prediksi analis. Hal ini mencerminkan dampak kekurangan memori komputer yang disebabkan oleh lonjakan permintaan AI terhadap kinerja bisnis.

Faktor Ekonomi dan Komoditas Lain

Laporan ekonomi menunjukkan perlambatan pertumbuhan AS dan percepatan inflasi, namun reaksi pasar masih terbilang terbatas. Data ini menjadi perhatian Federal Reserve dalam mengambil keputusan suku bunga, dengan pengharapan penurunan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun berjalan, meski risiko inflasi tetap menjadi penghambat.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS turun 77 sen ke $65,71 per barel, sementara minyak Brent turun 74 sen ke $70,56 per barel. Nilai tukar mata uang juga mengungguli dolar AS dengan yen Jepang melemah dari 154,94 menjadi 154,40, dan euro menguat dari $1,1797 menjadi $1,1820. Harga emas dan perak juga mengalami kenaikan, dengan emas naik 1,9% dan perak melonjak 5,4%.

Pergerakan pasar yang variatif ini menunjukkan bahwa meskipun keputusan Mahkamah Agung memberikan dampak signifikan, ketidakpastian kebijakan tarif dan prospek ekonomi global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek.

Terkait