Bitcoin memasuki minggu terakhir Februari dengan kondisi pasar yang rapuh. Arah pergerakan harga kembali sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi makro Amerika Serikat.
Setelah pekan lalu pasar menerima sinyal campuran dari data inflasi PCE, klaim pengangguran yang masih stabil di angka 206.000, serta risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang penuh kehati-hatian, ketidakpastian masih menghantui ekspektasi pengurangan suku bunga sebelum pertemuan The Fed pada pertengahan Maret. Dengan ekspektasi suku bunga yang masih seimbang, kalender ekonomi yang padat pada minggu ini berpotensi menimbulkan volatilitas baru di pasar kripto.
1. Serangkaian Pidato Federal Reserve
Minggu ini akan diwarnai oleh sejumlah pidato penting dari pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller dan Lisa Cook, serta Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic. Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan melakukan dua hingga tiga kali pemotongan suku bunga pada tahun 2026. Oleh karena itu, perubahan nada pidato dari pejabat Fed sangat berpotensi memengaruhi harapan pasar terkait kebijakan suku bunga ke depan.
Secara historis, kedua pejabat Waller dan Bostic dikenal dengan sikap hawkish yang menekankan kewaspadaan terhadap inflasi dan ketergantungan pada data ekonomi. Jika mereka menegaskan kekhawatiran atas proses disinflasi yang masih berjalan lambat, imbal hasil obligasi dan nilai dolar AS bisa naik, memberi tekanan pada harga Bitcoin. Sebaliknya, komentar yang lebih dovish terkait perlambatan pertumbuhan atau melemahnya pasar tenaga kerja berpotensi melemahkan dolar dan memicu reli di aset berisiko seperti Bitcoin.
2. Indeks Kepercayaan Konsumen
Data kepercayaan konsumen bulan ini penting setelah indeks di bulan sebelumnya mencatat angka lemah di 84,5, jauh di bawah ekspektasi dan tercatat sebagai sinyal resesi di masa lalu. Proyeksi untuk bulan ini menunjukkan perbaikan ke 87,5, meski sentimen konsumen tetap rendah karena biaya hidup yang tinggi dan inflasi yang terus berlanjut.
Apabila indeks kepercayaan konsumen lebih kuat dari perkiraan, mendekati atau di atas 90, hal ini akan menguatkan narasi ketahanan konsumen serta mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga. Kondisi tersebut cenderung menguatkan dolar dan menekan nilai Bitcoin dalam jangka pendek. Sebaliknya, angka di bawah 85 akan menandakan kerentanan ekonomi yang lebih besar, meningkatkan peluang pemotongan suku bunga, dan mendukung pergerakan naik Bitcoin.
3. Klaim Pengangguran Awal
Klaim pengangguran mingguan menjadi indikator penting untuk kondisi pasar tenaga kerja. Angka 206.000 pekan lalu lebih rendah dari perkiraan dan mengindikasikan lapangan kerja yang ketat. Mayoritas analis memperkirakan klaim untuk minggu ini berada pada angka 215.000.
Jika klaim meningkat di atas 225.000, ini bisa menandakan pelunakan pasar tenaga kerja sehingga menimbulkan kekhawatiran resesi serta memicu ekspektasi pemotongan suku bunga yang lebih agresif. Kondisi ini biasanya mendorong harga Bitcoin menguat sebagai respons atas potensi pelonggaran kebijakan moneter. Sebaliknya, angka klaim yang tetap rendah menguatkan sinyal ekonomi yang kuat dan mendorong kenaikan suku bunga, yang berpotensi menekan harga kripto.
4. Indeks Harga Produsen (PPI) Bulanan
PPI yang dirilis menjelang akhir pekan memberikan gambaran tekanan inflasi di tingkat produsen sebelum mencapai konsumen. Prediksi headline dan core PPI sekitar 3,0% secara tahunan, sejalan dengan data inflasi PCE terbaru.
Pembacaan PPI yang lebih tinggi dari 3,2% akan meningkatkan kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi pemotongan suku bunga. Kondisi ini biasanya melemahkan harga Bitcoin akibat penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil riil obligasi. Sebaliknya, data PPI di bawah 2,8% memperkuat tren disinflasi, meningkatkan kemungkinan pelonggaran moneter, melemahkan dolar, dan mendorong Bitcoin mendekati level $70.000.
Kombinasi data klaim pengangguran dan PPI pada akhir pekan sering kali memperkuat tren mingguan dan bisa memicu fluktuasi harga Bitcoin sebesar 2–3% apabila hasilnya jauh berbeda dari ekspektasi pasar.
Volatilitas yang dialami Bitcoin saat ini masih sangat dipengaruhi oleh hubungan erat dengan indeks Nasdaq dan dolar AS, terutama ketika korelasi keduanya mencapai titik tertinggi beberapa bulan terakhir. Jika data minggu ini menunjukkan arah dovish, Bitcoin bisa naik antara 3–5%. Namun, jika sinyal hawkish mendominasi, pergerakan turun dengan besaran serupa kemungkinan terjadi. Faktor likuiditas dan ekspektasi suku bunga masih akan menjadi pengendali utama harga Bitcoin dibandingkan fundamental kripto itu sendiri.





