Tether’s stablecoin USDT menunjukkan sinyal langka yang terakhir muncul saat Bitcoin mencapai titik terendah pada 2022. Penurunan tajam pasokan USDT ini mengingatkan pada kepanikan besar setelah runtuhnya bursa FTX, yang menjadi momen penting dalam pasar kripto.
Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan likuiditas besar karena banyak pemegang USDT melakukan penebusan. Menurut data CryptoQuant, perubahan 60 hari dalam total pasokan USDT mencapai penurunan negatif sebesar 3 miliar dolar AS, level yang hanya terjadi dua kali dalam sejarah pasar.
Penurunan besar dalam pasokan USDT disebabkan oleh arus keluar besar dari institusi atau whale, bukan sekadar pertukaran aset biasa. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa bulan ini USDT mengalami penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2022, dengan pengurangan sekitar 1,5 miliar dolar AS sudah tercatat dalam beberapa hari awal.
Dalam tiga hari berturut-turut, lebih dari 1 miliar dolar AS dikeluarkan dari peredaran dalam waktu 24 jam, sebuah fenomena yang menunjukkan tekanan besar dalam likuiditas pasar kripto.
Sejarah USDT dan Bitcoin 2022
Pada akhir 2022, runtuhnya FTX memicu penurunan pasar luas yang membuat kepercayaan terhadap kripto terguncang. Pada waktu itu, USDT yang berfungsi sebagai alat likuiditas utama, juga mengalami penurunan drastis dan Bitcoin jatuh hingga sekitar 16.000 dolar AS. Situasi tersebut memaksa banyak likuidasi paksa di berbagai bursa.
Setelah periode tekanan penjualan mereda, pasokan USDT mulai stabil dan modal kembali masuk ke pasar, mengantarkan Bitcoin pada periode kenaikan signifikan dan mencapai harga tertinggi di tahun-tahun berikutnya. Analisis dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa pola kontraksi USDT yang dramatis diikuti oleh pemulihan kuat telah berulang beberapa siklus sebelumnya.
Perbedaan Pasar Saat Ini
Meskipun kontraksi USDT saat ini mirip dengan sinyal yang terlihat di 2022, kondisi pasar saat ini sangat berbeda. Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran 65.000 hingga 70.000 dolar AS, turun hampir 45% dari puncaknya yang mencapai 126.000 dolar AS. Penurunan ini merupakan koreksi setelah fase pertumbuhan USDT yang berkelanjutan selama awal 2025.
Menurut analis CryptoQuant, Ignacio Moreno, tekanan likuiditas ekstrem biasanya menandakan peluang pasar, tetapi hanya setelah kelelahan penjualan benar-benar terjadi. Oleh karena itu, penurunan ini lebih tepat dianggap sebagai penyesuaian pasca bull run daripada kepanikan pasar seperti di 2022.
Jika arus keluar USDT terus berlanjut, Bitcoin dan aset kripto lainnya mungkin mengalami tekanan harga lebih lanjut sebelum menemukan titik terendah yang baru. Sebaliknya, jika pergerakan stabil atau berbalik arah, pasar dapat segera berbalik seperti pada rebound 2022-2023.
Pengaruh Ukuran dan Pemain Pasar
Ukuran pasar kripto yang kini lebih besar dan dominasi investor institusional menjadikan reaksi pasar lebih kompleks dan tidak mudah diprediksi. Keuntungan besar yang masih dimiliki banyak pemegang kripto saat ini menciptakan potensi volatilitas lebih tinggi pada tiap rebound yang terjadi.
Para pengamat pasar kini fokus memantau indikator utama seperti tren arus harian USDT, aliran masuk dan keluar di bursa, serta likuiditas dalam stablecoin lain seperti USDC. Mereka mewaspadai bahwa meski sinyal kontraksi USDT sangat penting secara historis, pasar yang lebih matang dan skala yang lebih besar mungkin menghasilkan pola yang berbeda kali ini.
Sinyal dari USDT ini merupakan pertanda langka dan signifikan, yang dalam sejarah biasanya mendahului pemulihan pasar besar. Namun, kondisi saat ini menunjukkan ini bukanlah titik terendah seperti pada 2022 yang dipicu oleh kepanikan, melainkan bagian dari koreksi setelah tren kenaikan yang kuat.
Bagaimana pasar merespons dalam minggu-minggu mendatang akan sangat menentukan apakah pola sejarah akan terulang atau jalur baru yang akan ditempuh oleh Bitcoin dan ekosistem kripto secara keseluruhan.





