EVO Disebut Mati Setelah Diakuisisi RTS Fans Kritik Keras dan Mendorong Komunitas Bertahan Tanpa Turnamen Ikonik Ini

Setelah pengumuman pembelian Evolution Championship Series (EVO) oleh RTS dari Arab Saudi, reaksi negatif dari para penggemar masih terus berlanjut. Banyak yang menyatakan bahwa acara legendaris tersebut kini telah “mati” karena perubahan kepemilikan yang dinilai semakin mengorporatisasi komunitas.

RTS, yang dimiliki oleh Qiddiya Investment Company di bawah payung Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, resmi mengambil alih 100% kepemilikan EVO. Keputusan ini mengikuti keluarnya NODWIN Gaming dan PlayStation sebagai co-owner sebelumnya. Meskipun manajemen utama tetap dipertahankan untuk menjaga konsistensi, fans khawatir tentang masa depan turnamen yang dulunya dimulai dari komunitas kecil.

Sejarah dan Transformasi EVO

EVO berkembang pesat dari sebuah turnamen kecil dengan 40 peserta yang fokus pada permainan Super Street Fighter II Turbo dan Street Fighter Alpha 2. Kini, EVO telah menjadi event dengan reputasi global dan dihormati sebagai ajang terdepan komunitas Fighting Game (FGC). Muhannad AlDawood, CSO Qiddiya Investment Company, menyatakan bahwa investasi ini adalah untuk “melindungi masa depan permainan dan menjaga keistimewaan EVO.”

Namun, transformasi yang terjadi membawa kekhawatiran tersendiri. Dengan latar belakang RTS yang berfokus pada investasi dan ekspansi, fans menduga bahwa unsur unsurnya yang dulu lebih “organik” mulai hilang dan digantikan dengan proses bisnis yang kaku.

Reaksi dan Kritik dari Komunitas

Lebih dari seminggu sejak pengumuman, fans tetap skeptis dan bahkan marah. Di forum-forum seperti Reddit, kalimat “EVO sudah mati” kerap muncul. Salah satu pengguna menyarankan untuk kembali ke komunitas lokal di toko game untuk menjaga keaslian dan fokus pada gameplay daripada komersialisasi acara. "Saya sudah mulai meninggalkan EVO karena tidak suka bagaimana suasana menjadi terlalu korporat. Lebih baik bermain dan menonton game yang disukai, serta memberikan masukan yang tulus sehingga pertumbuhan bisa terjadi secara alami," ungkapnya.

Kritik serupa juga muncul dari fans lain yang merasa acara itu kini “terlalu diproduksi dan tak lagi mencerminkan semangat komunitas” yang dulu ada. Ada pula yang memilih memulai komunitas mereka sendiri sebagai alternatif dari apa yang dikatakan sebagai “penurunan nilai EVO.”

Alternatif Turnamen yang Mendapat Dukungan Fans

Beberapa fans lebih memilih mendukung turnamen lain yang dianggap masih setia pada akar komunitas. Event seperti CEO 2026 dan Combo Breaker menarik perhatian, karena keduanya dijalankan oleh mantan penyelenggara EVO dan lebih dipercaya mempertahankan kualitas komunitas Fighting Game. Ada yang beranggapan bahwa dukungan terhadap turnamen tersebut lebih bermakna ketimbang terus mengikuti EVO yang kini dianggap sudah kehilangan jati diri.

Tiket EVO yang menyentuh angka $200 juga menjadi salah satu alasan kekecewaan penggemar. Harga tiket yang tinggi sudah berlaku sejak akuisisi oleh Sony dan RTS pada 2021, dan dinilai memberatkan sebagian besar komunitas yang selama ini menjadi nafas utama turnamen.

Masa Depan EVO di Bawah RTS

Meskipun banyak kritik dilontarkan, belum ada kejelasan terkait seberapa jauh RTS akan mengubah konsep dan pelaksanaan acara ke depan. Informasi resmi dan jadwal turnamen masih bisa diakses melalui situs resmi EVO. Fans dan komunitas masih menunggu tindakan nyata dari pengelola baru untuk membuktikan apakah warisan EVO dapat dipertahankan atau benar-benar kehilangan identitasnya.

Dengan segala kontroversi dan penolakan yang terjadi, keputusan RTS dalam membawa EVO ke masa depan tetap menjadi sorotan utama para pecinta game dan pengamat industri e-sports secara global. Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah EVO mampu bertahan sebagai ikon komunitas Fighting Game atau justru menjadi kenangan di mata para penggemar.

Berita Terkait

Back to top button