Menjelang Ramadan, permintaan kurma di Indonesia meningkat signifikan. Namun, masyarakat diingatkan agar lebih cermat dalam memilih kurma yang beredar di pasar.
Isu boikot produk kurma asal Israel kembali menguat karena adanya seruan solidaritas terhadap Palestina. Konsumen perlu mengenali ciri-ciri kurma asal Israel yang sering tersebar agar terhindar dari produk yang terkait dengan negara tersebut.
Barcode dan Informasi Produsen
Salah satu indikator umum adalah kode barcode yang dimulai dengan angka 729. Nomor ini terdaftar sebagai kode GS1 Israel dan mengindikasikan lokasi perusahaan yang mengeluarkan barcode tersebut. Namun, kode ini tidak berarti produk tersebut pasti diproduksi di Israel.
Beberapa klaim yang menyebut barcode Israel diubah menjadi angka lain seperti 871 (Belanda) termasuk informasi palsu atau hoaks. Oleh karena itu, konsumen harus mengecek informasi lebih lanjut selain barcode untuk memastikan asal produk.
Perusahaan Eksportir dan Merek Kurma Terkait
Beberapa perusahaan eksportir yang terindikasi sebagai pemasok kurma dari Israel meliputi Hadiklaim, Carmel Agrexco, Mehadrin, dan Medjool Plus. Nama-nama ini sering ditemukan pada kemasan produk yang diduga berasal dari Israel.
Berikut daftar merek kurma yang sering masuk dalam daftar boikot global:
- King Solomon
- Jordan River (termasuk Jordan River Bio-Top)
- MyJool
- Medjool Plus
- Desert Diamond
- Premium Medjoul
- Fancy Medjoul
- Red Sea
- Delilah
- Bomaja
Selain merek tersebut, masih ada merek lain yang perlu diwaspadai seperti Bonbierra, Brousse & Fils, Star Dates, dan Sincerely Nuts. Daftar lengkap ini membantu konsumen melakukan seleksi produk dengan lebih tepat.
Label Asal Produk dan Kewaspadaan Harga
Selain nama merek dan perusahaan, label negara asal pada kemasan sangat penting. Hindari produk yang mencantumkan "Product of Israel", "West Bank", atau "Jordan Valley". Wilayah Jordan Valley merupakan lokasi produksi yang status hukumnya dipersoalkan secara internasional.
Produk tanpa informasi asal jelas dan yang dijual dengan harga sangat murah juga patut dicurigai. Harga yang jauh di bawah pasar umum sering kali akibat subsidi pemerintah Israel, yang dapat menjadi indikasi keterkaitan produk tersebut dengan Israel.
Dampak Gerakan Boikot dan Alternatif Kurma
Gerakan boikot terhadap produk kurma Israel menunjukkan dampak nyata secara global. Penjualan kurma asal Israel menurun, sedangkan produk lokal dan dari negara lain justru semakin diminati. Data menunjukkan penolakan buah-buahan dari Israel oleh pembeli di Eropa juga berkontribusi pada turunnya ekspor.
Sebagai alternatif, konsumen dapat memilih kurma dari negara-negara yang tidak terkait dengan isu boikot. Mesir menjadi produsen kurma terbesar dunia, diikuti oleh Arab Saudi, Aljazair, Iran, Pakistan, dan Irak. Indonesia sendiri mengimpor kurma terbanyak dari Tunisia dan Mesir, yang bisa menjadi pilihan lebih aman dan etis.
Kesadaran Konsumen sebagai Kunci
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 83 Tahun 2023 menegaskan bahwa produk yang terbukti terkait dengan agresi atau penjajahan Israel adalah haram digunakan. Dengan demikian, konsumen dianjurkan untuk berhati-hati dan teliti saat memilih kurma selama Ramadan.
Memahami ciri-ciri, perusahaan eksportir, label asal produk, dan merek yang perlu diwaspadai menjadi langkah penting. Kesadaran konsumen membantu mendorong pertumbuhan produk lokal dan alternatif yang lebih sesuai dengan nilai solidaritas dan etika.
Dengan informasi lengkap ini, masyarakat dapat lebih selektif dalam memilih kurma sehingga ramadan tetap penuh berkah tanpa mengorbankan prinsip solidaritas global.





