Bitcoin menunjukkan sinyal pembelian langka yang sebelumnya hanya muncul pada titik terendah siklus pasar. Namun, pemulihan yang berkelanjutan masih sulit dipastikan karena tekanan makroekonomi yang berat membayangi pasar crypto.
Saat ini, Bitcoin telah turun sekitar 50% dari puncaknya yang mencapai $126,080 pada bulan Oktober lalu. Data dari CoinGecko mencatat harga Bitcoin kini berada di kisaran $63,080, turun 4,8% dalam satu hari terakhir, memperpanjang koreksi yang terjadi sejak hari Senin.
Tanda-Tanda Kapitulasi Pasar
Beberapa metrik utama menunjukkan indikasi kapitulasi, yang biasanya menandai dasar pasar. Rasio Sharpe Bitcoin turun tajam ke angka -40, level yang hanya pernah terjadi empat kali sejak 2015. Menurut data dari CryptoQuant, rasio Sharpe negatif mendalam ini mencerminkan penderitaan pasar maksimal dan biasanya muncul di titik terendah siklus, seperti pada Januari 2015, Januari 2019, dan periode Mei hingga Oktober 2022.
Rachel Lin, CEO SynFutures, mengingatkan bahwa penurunan rasio Sharpe selalu bertepatan dengan sentimen risiko ekstrem dan pengurangan leverage agresif. Dia menekankan bahwa meskipun hal ini tidak menentukan titik dasar secara pasti, kondisi tersebut sering menandakan zona di mana risiko dan imbal hasil ke depan membaik secara signifikan.
Selain itu, perubahan market cap stablecoin USDT dalam 60 hari terakhir menunjukkan penurunan lebih dari -$3 miliar. Penurunan ini hanya pernah terjadi dua kali sebelumnya dan menunjukkan adanya penarikan likuiditas atau perilaku risiko menjauh dari pasar. Tekanan jual secara kumulatif pada altcoin juga sangat besar, mencapai -$209 miliar sejak awal tahun, yang semakin memperkuat kondisi kapitulasi.
Ignacio Aguirre Franco, CMO Bitget, mengungkapkan bahwa kontraksi pasokan stablecoin mengindikasikan penarikan likuiditas yang membatasi kemampuan pasar untuk mendukung permintaan beli. Dia menyebut kondisi ini biasanya menunda pemulihan sampai aliran stablecoin kembali stabil dan likuiditas di rantai tumbuh kembali.
Pengaruh Tekanan Makroekonomi
Penurunan harga Bitcoin ke sekitar $64,000 dianggap sebagai "kejutan makro" daripada keruntuhan pasar yang fundamental. Jonatan Randin, analis senior PrimeXBT, memberikan sudut pandang skeptis terhadap sinyal teknikal tersebut. Ia menyatakan bahwa jumlah data historis yang terbatas membuat analisis tersebut sulit dianggap signifikan secara statistik.
Randin menambahkan bahwa pasar dapat tetap berada dalam kondisi oversold lebih lama dari perkiraan banyak pihak, terutama ketika faktor makro tidak mendukung. Beberapa tanda kondisi makro yang krusial termasuk arus keluar sebesar $3,8 miliar dari ETF Bitcoin selama beberapa minggu berturut-turut, ketidakpastian kebijakan Federal Reserve, angka inflasi inti PCE yang kembali ke sekitar 3%, dan korelasi harga Bitcoin dengan indeks Nasdaq sebesar 0,72. Semua faktor ini menunjukkan bahwa jalur pemulihan masih belum jelas.
Isyarat dari Indikator Lain
Meski begitu, terdapat indikasi lain yang menunjukkan peralihan kepemilikan Bitcoin dari tangan lemah ke tangan kuat. Metode pengukuran seperti Market Value to Realized Value (MVRV) dan Spent Output Profit Ratio (SOPR) menyiratkan adanya fase akumulasi. Namun, Jimatan Randin menegaskan bahwa akumulasi ini belum berarti pembalikan tren. Konfirmasi harga masih menjadi kunci untuk mengubah potensi peluang menjadi kenyataan.
Menurut data dari Myriad, platform pasar prediksi, hanya ada kemungkinan 11% Bitcoin akan mencapai rekor tertinggi baru sebelum pertengahan tahun ini. Hal ini mencerminkan sentimen bearish yang masih mendominasi pasar kripto saat ini.
Daftar Faktor yang Mempengaruhi Pemulihan Bitcoin
- Rasio Sharpe Bitcoin yang sangat negatif menunjukkan tekanan pasar ekstrem.
- Penurunan market cap stablecoin USDT menunjukkan penarikan likuiditas substansial.
- Tekanan jual altcoin mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
- Arus keluar besar dari ETF Bitcoin menandakan sentimen negatif investor institusional.
- Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan inflasi inti tetap menjadi hambatan utama.
- Korelasi tinggi dengan pasar saham menunjukkan Bitcoin belum sepenuhnya lepas dari risiko makro.
- Indikator teknikal lain menunjuk pada akumulasi, tetapi belum konfirmasi tren pembalikan.
Tekanan makroekonomi yang berat serta volatilitas pasar kripto membuat jalur pemulihan Bitcoin menjadi tak pasti. Meskipun ada sinyal-sinyal pembelian yang kuat dari indikator teknikal, faktor eksternal tetap mendominasi arah pergerakan harga. Pemantauan terus-menerus diperlukan untuk menangkap tanda-tanda perubahan sentimen secara lebih jelas.







