Stifel Prediksi Bitcoin Bisa Jatuh ke 38 Ribu Dolar Berdasarkan Tren 15 Tahun yang Menggoyang Pasar Crypto Kini

Stifel Financial, bank investasi berusia 136 tahun, memperkirakan harga Bitcoin dapat jatuh hingga $38.000. Prediksi ini didasarkan pada pola tren bawah yang terbentuk dari data crash Bitcoin selama 15 tahun terakhir.

Barry Bannister, kepala strategi ekuitas Stifel, menghubungkan titik terendah dari setiap crash besar Bitcoin sejak 2010 dengan sebuah garis tren menaik. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin mengalami penurunan signifikan, setiap titik terendah berikutnya tetap lebih tinggi dari sebelumnya. Jika pola ini berlanjut, level terendah siklus saat ini akan berada sekitar $38.000.

Berikut ini ringkasan besar penurunan harga Bitcoin dalam beberapa crash sebelumnya menurut Stifel:
1. Crash 2011: penurunan 93%, harga terendah sekitar $2
2. Crash 2015: penurunan 84%, harga terendah di $152
3. Crash 2018: penurunan 83%, harga terendah di $3.100
4. Crash 2022: penurunan 76%, harga terendah di $15.500

Meski setiap crash menyebabkan kerugian besar bagi spekulan, harga terendah tersebut menunjukkan kenaikan yang signifikan dari periode ke periode. Model garis tren ini tidak menggunakan metode kompleks, hanya menghubungkan titik-titik rendah tersebut secara linear.

Bitcoin dulunya dianggap sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat karena jumlahnya yang terbatas. Namun, sejak 2025, Bitcoin menunjukkan perilaku berbeda dengan korelasi 0,78 terhadap indeks Nasdaq 100. Ini berarti Bitcoin kini lebih mirip saham teknologi daripada aset lindung nilai dolar. Ketika saham teknologi turun, Bitcoin cenderung ikut turun.

Kondisi makroekonomi menjadi faktor penting yang mendasari analisis Stifel. Federal Reserve masih mempertahankan kebijakan moneter ketat dengan suku bunga yang relatif tinggi. Selain itu, kontraksi jumlah uang beredar global (M2) mengurangi likuiditas yang biasanya mendorong aset-aset berisiko seperti Bitcoin.

Sebagai tambahan, ketidakpastian regulasi menyulitkan investor institusional. Misalnya, kegagalan pengesahan CLARITY Act karena penarikan dukungan dari Coinbase membuat skenario regulasi tetap kabur. Selain itu, dana masuk ke Bitcoin ETF di AS juga mengalami penarikan hingga $3,8 miliar dalam beberapa minggu, dengan salah satunya BlackRock IBIT kehilangan $2,1 miliar.

Meski Stifel tidak pasti Bitcoin akan mencapai $38.000, kondisi saat ini belum menunjukkan sinyal penguat penurunan akan berhenti. Namun, ada pula argumen bullish yang menentang pandangan ini.

JPMorgan menyatakan Bitcoin bisa naik ke $170.000 dalam waktu 6-12 bulan. Mereka membandingkan Bitcoin dengan emas berdasarkan tingkat volatilitas dan risiko modal yang dibutuhkan. Analis Nikolaos Panigirtzoglou menilai Bitcoin sekarang diperdagangkan sekitar $68.000 di bawah nilai wajarnya relatif terhadap emas.

Tom Lee dari Fundstrat menargetkan harga Bitcoin antara $200.000 sampai $250.000. Ia memperkirakan crash Oktober 2025 telah menghapus leverage berlebih, membuka jalan untuk reli yang lebih sehat. Halving Bitcoin yang terjadi pada April 2024 juga menambah faktor waktu puncak harga yang biasanya terjadi 12-18 bulan setelahnya.

Selain itu, Arthur Hayes, mantan CEO BitMEX, memperkirakan Bitcoin bisa melonjak melewati $200.000. Ia menyoroti adanya kebijakan cetak uang baru yang disebut “Reserve Management Purchases” dari Fed yang tidak terlihat oleh publik dan dapat memicu lonjakan aset berisiko. Hayes menganggap penurunan tahun 2025 lebih terkait masalah likuiditas daripada masalah fundamental Bitcoin itu sendiri.

Ada dua level harga yang penting untuk diwaspadai dalam jangka pendek:
1. Jika Bitcoin bertahan di atas kisaran $58.000-$60.000, kemungkinan besar tren naik akan menguat dan sinyal turun ke $38.000 akan melemah.
2. Jika harga turun menembus level $54.000, jalur menuju $45.000 terbuka, dan kemudian target $38.000 menjadi realistis.

Saat ini Bitcoin bergerak di sekitar $65.000, cukup dekat dengan batas atas level tersebut. Dalam beberapa bulan ke depan, pergerakan harga akan menentukan apakah tren turun yang diprediksi Stifel akan terjadi atau Bitcoin akan rebound.

Permainan pasar crypto yang volatil juga membuat prediksi harga sangat dinamis. Misalnya, pada 2018 beberapa analis memprediksi harga akan turun sampai $1.000, namun realitanya harga terendah adalah $3.100. Demikian pula pada 2022, prediksi turun hingga $10.000 meleset karena harga bertahan di $15.760.

Perbedaan pendapat yang sering terjadi di Wall Street menggambarkan bagaimana analisis berbasis data historis dan ekspektasi pasar bisa menghasilkan estimasi harga yang sangat berbeda. Baik garis tren Stifel yang membawa potensi penurunan tajam, maupun perkiraan bullish dari JPMorgan, Fundstrat, dan Hayes, semua didasarkan pada data dan asumsi yang valid.

Investor sebaiknya mengamati level-level harga kunci dan perkembangan kebijakan makro agar dapat memahami sinyal pasar dan mengevaluasi risiko investasi Bitcoin secara lebih cermat tanpa terjebak pada prediksi tunggal.

Exit mobile version