Global Money Supply Melonjak Rekor Baru, Emas Terbang Tinggi Tapi Bitcoin Tersendat Kenapa?

Pasokan uang global mencapai rekor tertinggi, menciptakan kondisi likuiditas yang sangat mendukung aset keras seperti emas. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah uang beredar global naik ke angka $144 triliun, meningkat 10,4% dalam setahun terakhir dan menjadi bulan ketiga berturut-turut dengan percepatan pertumbuhan.

Fenomena ini menguatkan pola historis di mana peningkatan likuiditas biasanya diikuti oleh kenaikan harga emas. Namun, meskipun emas menunjukkan tren kenaikan yang konsisten, Bitcoin justru tampil dengan aksi harga yang lebih fluktuatif dan tidak sejalan dengan likuiditas global.

Peningkatan Pasokan Uang Global dan Dampaknya pada Pasar Aset
Menurut laporan Kobeissi Letter, sejak pandemi, pasokan uang global meningkat tajam sebesar $44 triliun atau 44%. Tingkat pertumbuhan tercepat dicatat pada Februari 2021 dengan lonjakan sebesar 18,7%. Angka ini mengindikasikan kecepatan penciptaan uang yang belum pernah terjadi di luar masa krisis.

Kondisi likuiditas seperti ini biasanya memberikan tekanan positif pada aset riil. Jurrien Timmer dari Fidelity menegaskan bahwa emas secara konsisten mengikuti pola tersebut meski terjadi koreksi harga sementara. Emas bahkan mengalami penurunan sebesar 21% sebelum kembali pulih dalam waktu singkat.

Perbedaan Perilaku Antara Emas dan Bitcoin
Timmer menegaskan bahwa emas tetap menjadi aset uang keras yang paling murni dan melacak suplai uang global dengan sangat erat. Dalam hal ini, emas menunjukkan kestabilan harga yang mencerminkan pasar bullish dengan koreksi yang cepat teratasi oleh minat beli baru.

Sebaliknya, Bitcoin memiliki identitas ganda yang kompleks. Selain berpotensi sebagai mata uang keras digital, Bitcoin juga diperdagangkan sebagai aset spekulatif dengan volatilitas yang lebih tinggi. Hal ini membuat harganya tidak selalu sejalan dengan jumlah uang beredar global.

Interaksi Likuiditas dan Sentimen Spekulatif pada Bitcoin
Timmer mengemukakan bahwa dengan menambahkan indeks perubahan laju sektor perangkat lunak dan SaaS ke dalam analisis, terlihat bahwa sentimen spekulatif memiliki peran besar mengendalikan momentum Bitcoin.

Berikut ini adalah hal penting menurut Timmer:

  1. Jika sentimen spekulatif kuat, pertumbuhan likuiditas dan Bitcoin akan saling memperkuat dan menciptakan pasar bullish yang kuat.
  2. Jika sentimen negatif, kekuatan likuiditas saja tidak cukup untuk mendukung harga Bitcoin dan bisa menyebabkan koreksi.

Dengan demikian, pergerakan harga Bitcoin lebih dipengaruhi oleh faktor spekulasi daripada kondisi fundamental pasokan uang.

Implikasi Bagi Investor dan Pemantau Pasar
Dominasi emas sebagai aset uang keras menunjukkan bahwa emas masih menjadi instrumen andalan ketika likuiditas global meningkat. Sementara itu, potensi keuntungan dari Bitcoin harus diperhitungkan bersama faktor spekulatif yang lebih rentan terhadap perubahan sentimen pasar.

Investor dan analis pasar perlu memperhatikan dinamika ini untuk memahami pergerakan harga aset dan menentukan strategi investasi yang sesuai dalam menghadapi kondisi likuiditas yang terus berkembang secara cepat.

Berita Terkait

Back to top button