Arthur Hayes Ungkap Konflik Iran Bisa Dorong Fed Pangkas Suku Bunga, Bitcoin Melonjak Tajam!

Arthur Hayes, co-founder BitMEX, mengemukakan pandangan bahwa konflik berkepanjangan antara AS dan Iran berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) mengurangi suku bunga serta mencetak uang baru. Ia menilai langkah ini akan berujung pada penguatan harga Bitcoin di pasar kripto global.

Dalam esainya berjudul "iOS Warfare," Hayes mengulas pola historis selama 40 tahun terakhir yang menunjukkan bahwa setiap kampanye militer besar AS di Timur Tengah diikuti oleh pelonggaran kebijakan moneter. Sejak 1985, setiap presiden AS yang melakukan serangan misil atau perang skala penuh di wilayah tersebut, kemudian disusul oleh penurunan suku bunga oleh The Fed.

Sejarah Hubungan Militer dan Kebijakan Moneter AS

Hayes mencontohkan tiga peristiwa utama untuk mendukung teori ini. Pertama, pada Perang Teluk 1990 saat Presiden George H.W. Bush berkuasa, The Fed menahan suku bunga pada pertemuan pertama pasca perang, tetapi memberikan sinyal pelonggaran jika konflik berlanjut. Akhirnya, The Fed menurunkan suku bunga pada pertemuan November dan Desember 1990 meskipun inflasi yang dipicu harga minyak masih tinggi.

Kedua, pasca serangan 11 September 2001, Ketua The Fed Alan Greenspan melakukan pemangkasan suku bunga darurat sebesar 50 basis poin guna menstabilkan harga aset dan mengembalikan kepercayaan ekonomi. Perang di Irak dan Afghanistan yang menyusul ikut diiringi dengan siklus pelonggaran moneter yang panjang.

Ketiga, pada saat peningkatan pasukan di Afghanistan di masa Presiden Obama pada 2009, suku bunga sudah mencapai level nol dan kebijakan pelonggaran kuantitatif tengah diberlakukan sehingga tidak ada ruang lagi untuk memangkas suku bunga lebih lanjut.

Konteks Konflik Iran dan Dampaknya pada Bitcoin

Hayes menilai kebijakan Presiden Trump yang mendukung perubahan rezim di Iran adalah bagian dari pola serupa yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Sejak 1979, perubahan rezim di Iran menjadi tujuan bipartisan para pembuat kebijakan AS. Hal ini memberi legitimasi politik bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung biaya kampanye militer tersebut.

Sebagai bukti, Hayes menampilkan data yang menunjukkan bahwa persentase anggaran federal untuk Departemen Urusan Veteran AS meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan total pengeluaran federal sejak 1985. Sementara itu, tingkat suku bunga efektif The Fed Funds malah mengalami penurunan setelah setiap keterlibatan militer besar.

Meskipun optimistis pada jangka panjang, Hayes menyarankan kehati-hatian dalam jangka pendek. Dia merekomendasikan agar investor menunggu konfirmasi pemangkasan suku bunga atau dimulainya pencetakan uang baru oleh The Fed sebagai sinyal masuk investasi. Hal ini dikarenakan ketidakpastian berapa lama pemerintah AS akan terus membiayai keterlibatan militer yang besar di Iran.

Poin Penting yang Perlu Diperhatikan:

  1. Setiap kampanye militer besar AS di Timur Tengah dalam 40 tahun terakhir diikuti oleh pelonggaran moneter.
  2. The Fed sering menurunkan suku bunga di tengah konflik militer yang memperbesar pengeluaran pemerintah.
  3. Konflik Iran dipandang sebagai kelanjutan dari pola tersebut, memungkinkan potensi pelonggaran kebijakan.
  4. Bitcoin dinilai sebagai aset yang dapat menguat seiring kebijakan moneter global yang longgar.
  5. Strategi investasi menunggu tanda-tanda konkret dari The Fed sebelum meningkatkan pemaparan pada kripto.

Dengan melihat pola sejarah tersebut, potensi konflik jangka panjang antara AS dan Iran kemungkinan besar akan mempengaruhi keputusan The Fed untuk mendukung ekonomi melalui pelonggaran suku bunga dan kebijakan pencetakan uang. Kondisi ini dapat membuka peluang positif bagi Bitcoin sebagai aset alternatif yang dianggap dapat menahan inflasi dan perlambatan ekonomi. Namun, keputusan investasi sebaiknya dilakukan dengan observasi cermat terhadap langkah-langkah kebijakan moneter yang akan diambil di masa mendatang.

Exit mobile version